Sepentil Kisah dari Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani
Jentaka Sendiri yang Membersihkan Anus Rengsa
Seorang nenek yang napasnya tersengal-sengal bila berjalan dan yang wajahnya sudah tak kuat lagi untuk selalu tertawa harus merawat sendiri suaminya yang kalau berjalan musti dipapah, apatah lagi jika harus buang air besar maka untuk membersihkan anusnya siapa lagi kalau bukan perempuan bernama Jentaka itu. Rengsa dan Jentaka ingin sekali tiga anaknya menjadi tentara, polisi dan pegawai bank. Kalau tak kesampaian maka menurut Rengsa dan Jentaka belumlah sukses anak-anaknya itu dan mereka pun menganggap telah menjadi orang tua yang gagal mendidik anak.
Sepuluh hektar tanah habis terjual demi sekolah buah asmara mereka. Namun, anaknya yang polisi mendapat tugas di daerah terpencil di luar provinsi, anak perempuannya bekerja di Bank luar negeri dan anaknya yang tentara mati tertembak entah pemberontak atau justru pahlawan.
“Tiga kali lebaran tapi hanya uang kiriman dan baju yang bisa kita cium, Pak. Makan parsel ya makan berdua,” keluh Jentaka sembari menyuapi suaminya yang hanya memandang sawang di tali gantungan lampu yang bertahun-tahun tak pernah dibersihkan.
“Dulu, melihat bintang dari jendela ini sembari menggendong si bungsu dan bercanda dengan dua kakaknya alangkah indah dan senang. Sekarang, hanya ada bapak yang diam dan diam,” tambahnya.
“Kemana aku harus mengaduh agar bisa melepas tutur kata kucing berak di lemari para tetangga,” kutipnya.
Rengsa hanya menelan bubur ayam yang saat itu dibuatkan Jentaka. Rengsa membayangkan perkumpulan keluarganya di lebaran nanti atau di hari apapun. Anaknya yang perempuan menyuapinya di kursi kejayaannya dulu dan anaknya yang lelaki mengajaknya berkeliling kampung sekadar melihat senyum atau kabar dari wajah para tetangga.
“Anak kita memang telah sukses, Pak. Sukses meninggalkan orang tua. Apa guru-guru di sekolah mengajarkan mereka untuk melupakan peta yang menuju rumah kita? Atau pendidikan modern memang begitu? Tapi, anak-anak orang lain selalu mudik sebelum Takbir berkumandang merdu,” kata Jentaka sembari mengusap-usap kening Rengsa yang dari tadi hanya memandang lampu kuning genting yang tak terlalu terang tapi tak juga gelap.
Rengsa masih tetap diam ketika selesai minum usai menghabiskan empat sendok bubur. Ia membayangkan tanah-tanahnya menjadi kebun teh, kopi hingga durian. Ia juga membayangkan anak-anaknya selalu makan bersama bapak dan ibunya tepat saat Pukul 19.30. Selain itu, ia juga membayangkan makan singkong rebus lalu goreng sembari minum teh atau kopi sembari membicarakan perihal burung yang menebar benih di ladang-ladang.
2020
Komentar
Posting Komentar