Puisi Muhammad Alfariezie


Tak Hanya Merangkai Kembang dan Menghitung Hujan

Sesuatu yang amat ngeri adalah ketika memilih tujuan
Salah langkah bisa saja bertemu harimau atau terpersok lubang buruan
Tangan dan kaki putus
Yang tersisa jeritan
Menunggu kematian

Berkat kau, kekasihku  
Negeri kita selamat dari bencana
Kerjasama dengan tetangga untung tak terlaksana
Betapa kita rugi jika
Nasehat para dewan kudengarkan, ah
Seperti kerlap-kerlip bintang nun jauh di atas sana
Kau tuntunku untuk selalu menyenangkan hati orang-orang

Juitaku, kulihat permaisuri tersenyum memandang foto kita saling memeluk
Dia yang dulu tak pernah memercayaimu telah memahami
Bahwa bunga mawar yang tumbuh di pekarangan istana dan rumah sederhana
Memiliki kualitas yang ditentukan dari perawatnya

Andai  batang-batang menjuntai selalu dirapihkan,
Pabila senantiasa disiram ketika pagi dan sore
Dan memerhatikan tata letak penanaman
Sungguh cantikku,
Kapten telah membuatmu menjadi seseorang yang pandai
Tak hanya merangkai kembang dan menghitung hujan

Kebiasaanmu membaca membuat malu pimpinan seberang
Aku pun tak tahu bisnis yang mereka jalankan
Tapi beruntung sebelum kedatangan mereka
Lebih dulu kujelaskan maksud dan tujuannya
Lalu kau ceritakan padaku tentang korupsi yang merajalela di sana,
Bisnis narkoba yang dijalankan pemerintahan
Benar saja
Dua hari mereka pulang
Penyadapan lembaga mata-mata kita melaporkan
Mereka kesal
Sang presiden membanting meja
Marah karena tak berhasil menggiring kita
Andai  sakses
Uang kita dipakai produksi
Dalam skala besar
Narkotika baru
Akan mereka sebar hingga ke mari, cintaku 
Bagai gajah yang telinganya dikerubungi semut
Betapa menderita 
Mendengar berita 
Banyak pemuda-pemudi tertangkap 
Negeri kita kehilangan tenaga-- 
namun bidadariku
Tak hanyaku yang ingin mengucap terima kasih
Tapi ratusan dewan
Sangat ingin menobatkanmu sebagai dewi
Cahaya awan

2020  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie