PROSA MUHAMMAD ALFARIEZIE

Petani Harus Segera Pulang

 

Warga desa tampurung pasti selalu masuk rumah dan menutup pintu serta jendela rapat-rapat setiap gunung bartutung tertutup kabut dan mengeluarkan dentum sebanyak tiga kali. Bahkan, para petani di kaki gunung harus segera pulang karena catatan kelam tersebut. Mereka harus berlari sekencang angin atau kilat agar lekas sampai ke dalam rumah. Gunung bartutung yang tertutup kabut diyakini sedang menjelma menjadi ribuan kambing yang jika bertemu manusia akan mewujud harimau pencabik segala.

“Orang-orang yang menutup pintu dan jendela rumah khawatir diterkam dan dicakar siluman. Kakek dan nenek orang-orang desa tampurung banyak yang hilang. Yang ketemu hanya baju dan celana yang sobek sana sobek sini serta berlumur darah dan nanah,” ujar Mbah Ujir kepadaku, kepadaku yang seorang wartawan majalah misteri yang baru magang serta mendapat tugas dari redaktur untuk mencari informasi tentang mitos di desa tampurung.

“Cerita itu benar, dik. Waktu kecil, aku menyaksikan sendiri, ayahku menangis seraya membawa pakaian kakekku yang berlumur darah dan compang-camping,” kata Kepala Desa tampurung.

Penjelasan dari kedua orang yang pertama kutemui itu justru membuat diri ini percaya tidak percaya. Hasratku ingin sekali ikut berkebun bersama mereka esok pagi. Mungkin saja, gunung itu akan tertutup kabut pada esok hari, baik pagi maupun siang. Kedua lelaki yang kompak menyeruput kopi itu tidak tahu pasti kapan waktu gunung bartutung menjelma.

“Apa kamu yakin mau ikut berkebun? Tapi, Mbah tidak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Gunung bartutung kembali tertutup kabut setahun lalu,” ujar Mbah Ujir.

“Apa sebab gunung itu bisa menjelma dan membunuh orang? Apa itu karena ulah manusia atau memang gunung itu masih terdapat binatang buas?” tanyaku setelah meneguk kopi yang masih lumayan hangat.

Menurut Pak Kades, tidak ada yang tahu kenapa gunung bartutung seperti siluman. Kakek hingga buyut mereka hanya menyuruh membaca yasin jika gunung bercatatan kelam tersebut berulah.

“Saya sekeluarga hanya berdoa kepada Gusti Allah jika gunung bartutung tertutup kabut dan berdentum. Penduduk lain pun melakukan hal yang sama. Tapi, durasi gunung bartutung menjadi sesuatu yang tidak saya mengerti, sungguh saya tidak tahu. Kabut berangsur-angsur kembali entah ke mana secara tak terduga sehingga gunung bartutung kembali nampak hijau dan menjulang,” ujar Mbah Ujir.

Pantas saja redakturku menyuruh untuk meliput tempat ini. Aneh sekali gunung itu. Entah karena takut atau tak menemukan apapun ketika liputan maka dia kembali mengutus diri ini untuk menemukan jawaban pasti atas yang terjadi pada gunung bartutung dan orang-orang yang hidup di kaki yang hijau menjulang dan indah itu. Tapi, malam telah larut dan udara kampung di kaki gunung begitu dingin. Aku takut masuk angin maka izin memberanikan bicara untuk tidur di dalam mobil. Namun, Mbah Ujir menawarkan agar aku tidur di rumahnya dan Pak Kades juga tak mau kalah. Tapi, karena besok harus ikut berkebun maka kupilih menginap di rumah Mbah Ujir.

Embun berkilau dan daun-daun nampak segar. Indah nian sentuhan sinar mentari di desa ini. Sinar mentari yang menyentuh daun-daun hijau berembun itu bagai para penari yang menggugah hati kala aku sedang pusing tujuh keliling.

Aku seperti raja yang berkunjung ke suatu daerah. Mbah Ujir menyambutku penuh ketulusan dan keriangan di pagi ini. Kopi panas beraroma nikmat terhidang di sebelah singkong dan pisang goreng di meja halaman depan rumah Mbah Ujir.

Mengunyah pisang goreng yang berasal dari buah yang tak terlalu matang sungguh nikmat. Lalu, mencecap rasa singkong goreng yang agak asin membuat wajahku berekspresi seperti model yang sedang mencicip makanan untuk suatu iklan. Begitu pun kopi yang kureguk. Nikmat nian energi yang dibuat penuh ketulusan oleh istrinya Mbah Ujir. Kulihat wajah Mbah Ujir pun sangat menikmati kopi asli desa tampurung. Desa yang berada di kaki gunung bartutung.

“Jalan menuju kebun Mbah lumayan jauh dan menanjak. Bagaimana kalau tiba-tiba gunung bartutung menjelma?” Ujarku yang saat itu berjalan di sebelah kirinya, ujarku yang ngos-ngosan karena baru sekali ini merasakan hidup sebagai tukang kebun.

“Hus. Jangan bicara begitu. Membahas hal-hal itu nanti saja kalau sudah sampai rumah,” bisik Mbah Ujir yang matanya langsung mengernyit dan telunjuknya menutup bibirnya sendiri setelah berkata demikian.

Beruntung aku sudah bisa beristirahat di gubuk. Tujuan kami telah sampai. Tapi, aku tak bisa langsung membantu Mbah Ujir untuk memotong rumput-rumput di sekitar tanamannya. Merebahkan tubuh adalah hal paling nikmat setelah mendaki. Nikmat sekali memanjakan tubuh yang berkeringat dengan angin perbukitan. Apalagi sembari menghirup napas. Sungguh, berada di sini aku tak mau cepat beranjak.

Kurasakan keagungan Tuhan. Orang-orang desa tampurung nampak telah bersahabat dengan alam nan asri di kaki gunung bartutung. Hampir semua warga mencari nafkah sebagai petani. Ada tiga petani yang berada di dekatku. Ladang mereka tepat berada di sebelah kanan dan kiri milik Mbah Ujir.

Mbah-mbah itu terlihat akrab sekali. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang ulat yang kerap menggerogoti tanaman, tentang ular yang membahayakan nyawa dan tentang pemilihan kepala desa. Tapi, itu bukan fokusku. Fokusku adalah memerlihatkan gejolak alam di sini, di sini, yang katanya terdapat sesuatu yang amat mengerikan.

Sesuatu yang amat mengerikan pun kulihat secara nyata. Pecahan-pecahan awan seketika menggumpal dan menutupi matahari. Betapa aku ngeri, detak jantungku berdebar dan kakiku bergetar. Ketiga petani melempar arit dan lekas berlari.

“Dik, ayok cepat kita pergi. Cepat. Jangan pikirkan apapun kecuali keselamatan.”

“Ada apa pak? Saya tidak mendengar apapun dan melihat apapun,” jawabku heran sembari mengangkat kedua bahu dan menengadahkan tangan kanan dan kiri, kataku karena tak mau lekas pergi sebab ingin tahu apa yang akan terjadi.

Pertanyaanku tak dihiraukan oleh Mbah Ujir. Orang tua yang rambutnya sudah sedikit beruban itu langsung menarikku. Aku pun mengikutinya berlari menuruni kaki gunung.

Aku sempat kena marah Mbah ujir ketika berlari. Aku sempat kepikiran dua petani tadi. Sebab, mereka tak terlihat ketika aku menoleh ke belakang.

“Jangan sekali-sekali kamu menoleh ke belakang ketika keadaan sedang genting,” marah Mbah Ujir kepadaku.

Tapi, ke mana petani tadi Mbah? Jawabku.

“Mereka sudah bertahun-tahun di sini. Mereka tahu jalan mana yang lebih cepat ke rumah masing-masing. Kalau saja kamu terlalu lama menoleh ke belakang dan kehilangan jejakku maka yang terjadi akan tersesat atau terjungkal lalu terkilir sehingga kita diterkam kambing harimau karena belum sampai rumah ketika dentuman terdengar tiga kali,” jawab Mbah Ujir sembari menyiapkan surat yasin.

Tum. Gladar. Tum Gladar. Tum Gladar. Suara itu terdengar nyaris seperti guntur paling dahsyat yang menumbangkan pohon beringin berusia ribuan tahun yang akar-akarnya sudah berlumut dan menjuntai-juntai.

Aku izin untuk mengintip ke arah gunung bartutung dan Mbah Ujir mengiyakan. Aku penasaran apakah gunung bartutung benar-benar menghilang. Ternyata, apa yang diucapkan Mbah Ujir dan Pak Kades benar. Gunung bartutung tertutup kabut. Tak secuil hijau pun terlihat.

Kira-kira lima belas menit adalah waktuku memerhatikan lingkungan sekitar. Aku ingin tahu bagaimana kambing harimau. Tapi, Mbah Ujir lekas menarik kaosku dan memberi buku yasin. Dia mengajakku untuk membaca surat yasin bersama keluarganya. Tak ada pilihan untukku menolak ajakan tuan rumah. Mbah Ujir pun memimpin pembacaan ayat suci secara khidmat.

Mbah Ujir menghentikan pembacaan yasin karena sudah lima kali mengulang 83 ayat plus empat surat lain. Ia mengintip lingkungan sekitar dari celah jendela.

Jantungku memang berdebar tapi juga ingin tahu yang terjadi. Aku beranjak menghampiri Mbah Ujir. Namun, dia telah berbalik badan sebelum aku menghampiri.

“Alhamdulilah. Gunung bartutung telah nampak hijau dan indah. Bu, tolong buatkan dua gelas kopi,” ujarnya seraya membuka semua jendela dan pintu.

Mbah Ujir tak tahu pasti kenapa gunung bartutung kembali tertutup kabut dan mengeluarkan dentum sebanyak tiga kali. Menurutnya secara berandai-andai, kambing harimau ingin tubuh petani sebab telah menerima kelimpahan sumber daya alam.

“Saya yakin sekali, pasti dahulu kala ada seoarang petani yang memuja kambing harimau agar diberikan kemudahan dalam menggarap apapun di kaki gunung bartutung. Saya yakin itu,” kataku sok tahu, kataku sembari telunjukku mengetuk-ngetuk meja.

“Tahu dari mana kamu? Jangan asal bicara. Saya saja yang asli orang sini tidak tahu menahu,” jawabnya.

“Saya yakin itu. Kampung ganjil pun sama seperti desa ini. Mereka harus menepati perjanjian nenek moyangnya kepada roh gaib,” tambahku mencoba memancing pikirannya agar banyak bercerita.

Mbah Ujir tidak menjawab. Justru, dia fokus memandang pecahan-pecahan awan di atas gunung bartutung. Namun, istrinya yang mendengar obrolan kami mengungkapkan sesuatu yang kunanti-nanti.

“Sudah pak. Ceritakan saja yang pernah terjadi terhadap desa ini. Nenek moyang kita memang telah memuja penghuni tertinggi gunung bartutung ketika pertama kali membuka pemukiman dan lahan. Ceritakan saja kalau tokoh adat kita dulu telah berjanji akan selalu mempersembahkan siapa saja warganya sebagai tumbal penghuni tertinggi gunung bartutung,” ujar istri Mbah Ujir sembari meletakkan dua gelas kopi tepat di depanku dan di depan Mbah Ujir.

“Kamu jangan mengada-ngada. Sudah siapkan saja makan siang. Perutku lapar. Dari pada kamu cerita ngawur maka lebih baik masak apa yang tersisa di dapur. Hari ini aku tidak sempat mencari sayur atau ikan,” perintah Mbah Ujir kepada istrinya tapi wajahnya masih fokus ke gunung bartutung.

Tiba-tiba telponku berdering. Ibuku mengatakan kalau kakekku meninggal dunia. Aku tak mau berpikir lama. Pikirku, masih ada waktu yang akan datang untuk melanjutkan investigasi ini. Aku segera pamit kepada Mbah Ujir. Tak lupa juga, aku pun berpamitan kepada istrinya yang baru saja menyalakan api. Tapi, orang-orang kampung berteriak tentang kematian ketika belum sempat istrinya Mbah Ujir memersilahkan kupergi.

Dua remaja menangis di pekarangan rumah Mbah Ujir. Mereka adalah masing-masing anak dari dua petani tadi. Mereka mengadukan kalau bapaknya belum pulang sementara gunung bartutung telah kembali dari penyamaran.

“Kamu tetap mau pergi? Atau ikut kami mencari dua temanku tadi?” Kata Mbah Ujir kepadaku.

“Berapa lama kita harus mencari?”

“Lebih baik kamu pulang saja,” jawab Mbah Ujir.

“Ayo kita segera mencari!” tegasku.

Lelah tidak lagi kurasakan. Aku begitu semangat ingin mencari tahu kebenaran tumbal itu. Tapi, kami tak menemukan apapun ketika menuju ladang. Namun, Mbah Ujir tak menyerah. Pak Kades dan beberapa warga desa mengikutinya untuk melewati jalan pintas; jalan yang biasa dilewati dua petani tadi.

Langkah kami terhenti ketika Mbah Ujir melihat sesuatu. Dia sempat mengucap, “segala yang hidup pasti kembali ke suatu tempat yang suci.” Ternyata, dia melihat dua kain yang sobek sana dan sobek sini serta berlumur darah.

“Sabar nak. Ayah kalian akan tenang di alam yang indah nun jauh di sana,” katanya kepada dua anak petani tadi, petani yang sekarang diketahui telah meninggal dunia, petani yang mungkin mati karena diterkam kambing harimau.

Aku tak berani menanyakan apapun di sepanjang perjalanan. Air mata dari dua remaja anak korban kambing harimau mengirim signal padaku, signal bahwa kewartawananku harus ditunda. Tapi, aku kembali menanyakan hal ini setelah sampai di rumah Mbah Ujir.

“Apa benar yang tadi diucapkan istri Mbah?”

“Tidak ada kebenaran yang dapat kau ambil dari desa ini, kecuali gunung bartutung yang jika tertutup kabut lalu mengeluarkan tiga kali dentuman maka saat itu pula kemungkinan ada korban yang meninggal dan jasadnya tak tahu di mana,” jawabnya sembari mencuci tangan dan kaki lalu wajah, tanpa menoleh ke arahku.

“Baiklah Mbah. Terima kasih atas kebaikan Mbah yang sudah memersilahkanku untuk menginap. Kakekku meninggal pagi tadi. Aku harus kembali ke kota,kataku seraya mencium tangannya dan tangan istrinya lalu lekas meninggalkan desa tampurung sebelum malam.

 

2020

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie