Berita

 

Kesenian Lampung Belum Memiliki Ruh

 

BANDARLAMPUNG— Beberapa bidang seni Lampung belum memiliki ruh. Musiknya belum menonjolkan nada-nada khas daerah Lampung dan seni tarinya belum memiliki ruang apresiasi, kecuali dalam lomba. Hal ini terungkap pada acara workshop yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung di UPTD Taman Budaya, Senin (9/11).

 

Terungkapnya beberapa kesenian Lampung yang belum memiliki karakteristik disebutkan oleh tiga narasumber. Narasumber tersebut ialah Iwan Nurdaya Djafar, Mariana Devi dan Diantori.

 

Iwan mengatakan, belum mendengar cengkok dan nada khas Lampung dari Lagu puncak Sai Indah yang jika dibahasa Indonesiakan menjadi Bulan Terbelah.  Musik lagu puncak Sai Indah lebih menonjolkan kemodernan dibanding nada tradisional asli Lampung.

 

"Berbeda dengan musik Sunda atau Campur Sari. Contohnya Dewi Gita. Lagu-lagu yang dia nyanyikan masih terdengar nada cianjurnya atau jawanya meski terdapat nada modernnya. Cengkoknya itu masih kerasa banget. Budaya jawa atau cianjurnya masih kental.

 

Iwan berharap agar lagu-lagu berbahasa Lampung lebih ditekankan. Nada asli Lampung harus lebih menonjol atau mininal seimbang dengan campuran musik modern. Jadi, tidak sekadar lagu berbahasa Lampung, melainkan ada nada asli yang diperkenalkan ke khalayak ramai agar nada asli Lampung bisa dikenal ke luar daerah seperti campur sari.

 

Untuk seni tari, Mariana Devi memberi masukkan. Mariana mengungkapkan, pertunjukkan yang baik tercipta karena ada perkembangan gerak tari dari praktisinya. Tanpa perkembangan, maka tari-tari yang ada hanya pengulangan atau sekadar imitasi.

 

“Para penari harus memiliki pengetahuan dasar ilmu sastra, musik dan desain interior panggung hingga dapat menghayati gerak atau untuk memahami filosofis dari tiap gerakan dan  menyeimbangkan dengan musik untuk seni tari pertunjukkan yang ditonton orang banyak,” ujarnya,

 

“Penari di daerah Jawa benar-benar memaknai gerakan secara filosofis. Tiap gerak memiliki arti bagi kehidupan sang penarinya. Gerakan-gerakan itu tumbuh dari dalam diri yang didapat melalui perenungan atau penghayatan selama menjalani kehidupan,” tambah Mariana Devi di Gedung Pertunjukkan Taman Budaya Lampung.

 

Dalam kesempatan yang sama, Diantori melihat dan merasakan, keseniaan tersebut hanya menjadi kebutuhan industri sehingga melupakan aspek seni pertunjukkan itu sendiri. Dia pun menilai, seni tari dalam industri telah menghilangkan kepuasaan karena hilangnya daya tarik panggung pertunjukkan.

 

“Faktor kemajuan perkembangan seni pertunjukkan tari di Jogja adalah karena ruang ekspressi dan apresiasi. Sebab itu, para penari dapat mengendapkan perenungan dari pengalamannya dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, mereka terbiasa tampil di depan khalayak ramai. Bahkan, apresiasi yang penari jogjakarta dapat, tidak sekadar dari masyarakat, melainkan kritikus seni pertunjukkan juga,” kutipnya.

 

Muhammad Alfariezie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie