Prosa Muhammad Alfariezie

 

Giliran Kena Cingkiwing Nangis

 

Polisi Pamung Praja menyaroki Arganji ketika melalui kerumunan blokade ke dua yang dijaga non sabhara di gerbang utama kantor Dewan Perwakilan Rakyat ketika unjuk rasa Ombibuslaw terjadi. Arganji menangis minta tolong kepada Intel yang menekeknya (mencekeknya sambil berjalan). Selain itu, mahasiswa yang tak jelas semester berapa dan jurusan apa itu merengek-rengek memanggil ibunya yang entah di mana.

 

“Huuu. Wuuu. Giliran kena cingkiwing nangis. Giliran tadi nimpuk-nimpuk dan ngatai kami tahi kucing paling malang. Katanya gak takut sama buto ijo pun. Huu wuuu. Gimana mau jadi pemimpin aktivis. Huu wuuu tadi mah sok gagah. Nimpuk-nimpuk sambil ngomong aparat lemah, amarat tolol Pol PP cengeng. Sekarang kok manggil-manggil ibu? Huu wuuu,” saut menyahut kawanan Pol PP yang sebel karena istirahatnya terganggu pendemo sejak tiga hari yang lalu.

 

“Ampun Pak. Ampun. Bukan saya yang nimpuk-nimpuk. Saya cuma ikut-ikut doang. Ampun pak. Ampun. Jangan tangkep saya. ee eemm ibu. Aku ingin pulang kampung,” kata Arganji sembari menangis-nangis karena dibawa polisi ke tempat penyelesaian.

 

“Diam! Laki-laki cengeng amat. Gimana mau jadi kayak Adian Natitupulu. Kamu kena tinju enggak, kena tempeleng enggak. Diam. Laki-laki enggak boleh nangis. Ini bagian dari perjuangan!” Kata intel yang meneneknya ke basement untuk diintrograsi dan difoto serta disuruh push up dan shit up.

 

Menurut keterangan intel yang menekek Arganji, mahasiswa yang merengek-rengek usai menimpuki dalmas dan berusaha menghancurkan bara kuda itu kerap mengucapkan kata kacar seperti polisi konci, polisi poli ponik, polisi makan duir rakyat, polisi disuap DPR. Tak lupa juga intel tersebut menjelaskan, anak itu sempat mengajak anggota dalmas untuk berkelahi satu lawan satu. Menurut intel itu, Arganji telah ia awasi dan anak itu menyetok batu di dalam tasnya bahkan ada rante yang dimodifikasi memiliki gear tajam bekas motor treal.

 

Barang bukti itu dilihatkan oleh intel tersebut. Benar saja. Puluhan batu dan rante bergear tajam dan besar ada di tasnya. Polisi langsung membawanya ke polres agar orang tuanya menjemput dan membawanya pulang ke kampung terlebih dahulu agar Arganji tidak kembali menangis ketika ditangkap intel atau anggota sabhara hingga Polisi Pamung Praja. Kata Kapolres, bahaya ketika anak buah saya terpancing emosi. Anak buah saya masih berumur dua puluh tahunan. Emosinya belum stabil dan akan bisa berbuat sewenang-wenang ketika emosinya terpancing. Beruntung bocah itu ditangkap intel yang sudah berpengalaman. Jadi, dia hanya menangis saja sedangkan memar di wajah tak sekali pun terlihat.

 

2020

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie