Puisi Muhammad Alfariezie
Kapan Kemarau Tiba di Stasiun Terakhir
Taman yang dulunya memiliki tulip, mawar hingga lavender, kini terlihat hanya tanah yang retak-retak. Seperti di gurun pasir. Entah kapan kemarau tiba di stasiun terakhir. Mungkin juga, hujan masih belum mau beranjak, apatah lagi membuka lebar-lebar pintunya.
Air, setetes pun tidak ada di lingkungan ini. Layang-layang yang dulu selalu terbang kini jangankan benang, namun tawa riang pun bagai kupu-kupu berkaki seribu. Yang melayang-layang hanya awan yang gambarnya gigi-gigi hiu berkepala batu.
Kemarau, kenapa tidak segera pergi atau hadir bersama badai paling panas yang mampu membakar segala. Kemarau, taman ini bertahun-tahun tak pernah ramai dan bersenandung tentang gunung serta laut yang hijau dan biru.
Kemiling, Bandarlampung
Komentar
Posting Komentar