Opini

 Muhammad Alfariezie 

Melawan Racun Arus Globalisasi


Negara Indonesia didirikan oleh sekelompok kaum tua dan muda yang dipelopori segenap rakyat Indonesia mulai dari Soekarno, Hatta, Syahrir dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Melalui gerakan-gerakan nasionalis, sosialis, agama hingga kebudayaan, mereka melawan kesewenang-wenangan penjajah yang merobek kesucian pertiwi. 


Saat ini, tentu saja cara-cara pergerakan Soekarno, Hatta dan Syahrir tak lagi relevan. Pergerakkan para pemuda saat ini telah berganti. Teknologi dan literasi yang tersebar melalui buku-buku dan internet yang di dalamnya terdapat media sosial adalah hal utama yang musti dimanfaatkan para pemuda. Tapi, bagaimana pemuda memanfaatkan serta menyeimbangkan literasi dan dunia digital untuk melawan racun arus globalisasi yang terasa semakin meninggalkan sejarah hingga seni dan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke? 


Salah satu cara dari berbagai metode adalah membuat konten yang mengangkat budaya lokal kita demi melawan budaya luar yang masuk secara tak terkendali. Sebut saja, salah satu di antara budaya luar itu ialah bahasa dan kesenian Korea. 


Ribuan anak muda kita lebih bangga jika mengucapkan sarangheo hingga menggunakan pakaian khas Korea. Menurut para pemuda kita yang menggunakan bahasa hingga pakaian Korea, hal ini adalah trend yang jika tidak dilakukan akan membuat pemuda lain dianggap kurang pergaulan. Padahal, bahasa Indonesia sendiri merupakan alat komunikasi modern yang diciptakan sebagai identitas bangsa. Melalui Bahasa Indonesia, para pengarang kita memiliki berbagai karya yang berbahasa Indonesia dan tak kalah dengan pengarang-pengarang dari Rusia hingga Brazilia.


Selain itu, desainer Indonesia bak jamur di musim hujan. Apakah mereka tak mampu mendesain pakaian yang bergenre kebudayaan Indonesia yang tersebar dari sabang sampai merauke sebagai pakaian generasi penerus bangsa untuk melestarikan salah satu karya seni bergenre sastra indonesia melalui konten kreatif? 


Menyebar Trend Pakaian Adat Indonesia Melalui Konten Baca Puisi 

Jika Presiden Jokowi membuat program pelestarian kebudayaan yang wajib diterapkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim hingga staff jajarannya sampai ke level perguruan tinggi dan sekolah-sekolah untuk membuat lomba baca puisi karangan penyair Indonesia yang diharuskan menggunakan pakaian adat dari daerah masing-masing peserta yang telah dimodernisasi oleh desainer Indonesia dan disebarluaskan melalui akun instagram, facebook hingga youtube maka program pelestarian itu tersebar dan dilihat kaum millenial karena sebagian besar warganet adalah anak-anak berusia 13 hingga 35 tahun. 


Kebudayaan adalah identitas bangsa, ialah supremasi masyarakat dan sesuatu yang tertinggi karena diciptakan menggunakan ilmu-ilmu, mulai dari perenungan, psikologi, sains, matematik hingga kreativitas. Saat ini, pemuda Indonesia bukan hanya tak memiliki identitas. Tapi, mereka sibuk bermain game online dan nongkrong di kafe-kafe sekadar untuk menikmati waktu luang. 


Memang hal ini adalah wajar sebagai salah satu refresing. Tapi, jika dibiarkan tanpa instrument yang jelas dan tujuan yang jelas, seperti penciptaan konten yang berlatar belakang seni dan budaya atau sejarah besar perjuangan kemerdekaan nasional maka bukan tak mungkin anak muda Indonesia tidak lagi memiliki motivasi untuk merawat negerinya sendiri. Indonesia akan menjadi negara tanpa budaya karena kalah bersaing dengan bangsa asing.


Kekayaan literasi dan teknologi kita saat ini bukanlah hal yang gaib tapi real. Mulai dari SD hingga perguruan tinggi menguasai teknik edit foto hingga video. Melalui youtube dan aplikasi yang gratis mereka bisa belajar untuk membuat konten yang menarik. Namun, jika tanpa arahan, maka yang mereka buat pastilah sesuai kesukaan mereka saja, yakni memamerkan kehebatan mereka dalam berjoget ria saja dan ini amat memalukan bangsa kita karena sejak merdeka, Negara Indonesia dilirik bangsa-bangsa lain karena memiliki konsep dan filosofi bernegara yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman budaya di pulau-pulaunya, yang membuat perasaan bangsa asing bergetar.

Membuat Konten Sejarah Kemerdekaan dan Biografi Pahlawan Indonesia 

Salah satu metode atau cara agar anak muda kita mengetahui sejarah kemerdekaan Indonesia yang diraih secara mengorbankan darah, harta dan keluarga dapat dilakukan melalui pembuatan konten yang juga disebar melalui media sosial dan youtube. Tapi, jika tidak diberi Reward berupa penghargaan dan materi seperti uang, tentu anak muda kita lebih senang melakukan hobinya dalam memanfaatkan waktu luang, yakni main game. Lagi-lagi ini harus ada andil dari perintah Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim. 


Untuk membuat konten bersejarah berlatar kemerdekaan dan biografi pahlawan tentu tidak sulit. Yang perlu generasi penerus Indonesia lakukan hanya berkunjung ke perpustakaan di daerahnya masing-masing lalu mencari buku atau referensi tentang konten yang akan dibuat. Lalu, mereka merangkum hal-hal penting sehingga konten yang dibuat effisien.  


Apakah mereka mampu membuat konten tersebut? Tentu saja mudah. Aplikasi edit video sudah tersebar di Play Store walau di berbagai daerah sinyal internet belum mempuni. Tapi, saat ini, perpustakaan daerah mencanangkan program Literasi berbasis Inklusi sosial. Di desa-desa sudah ada komputer dan internet guna menunjang kebutuhan warganya. 


Konten yang mereka buat dan disebar di berbagai media sosial pasti terlihat generasi penerus. Selain itu, secara tak langsung, para pembuat konten telah membaca sejarah besar bangsa Indonesia dan tokoh pahlawannya. Dari situ, tentu saja harapannya ialah mereka akan terangsang untuk menentukan masa depan bangsa Indonesia agar lebih baik dari hari ini dan tidak terpengaruh budaya asing yang menjerumuskan generasi penerus bangsa untuk melupakan cita-cita kemerdekaannya. 


2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie