Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani

  Untuk Muhammad Alfariezie                                     Dari yang puput     Perasaan ini tak kunjung bersenandung meski bintang-bintang berkerkip-kerlip. Mungkin, mati adalah yang terbaik. Apakah tubuh ini seperti melodi yang suaranya membuat orang-orang menutup telinga?   Kelam amat jumawa. Kepala ini tertunduk lesu. Merpati yang dulu menukik, merpati yang dulu selalu melawan angin kencang, merpati yang dulu selalu ditunggu, kini telah menjadi butir-butir pasir yang panas dan melumpuhkan.   Tidak ada lagi arah. Sisi sungai yang airnya coklat adalah tempat menyandarkan lelah. Selama mungkin. Bahkan, hingga gagak mematuki ubun-ubun ini dan sampai pijar mentari menjadi seperti taburan salju.         Dari Muhammad Alfariezie   ...

PROSA MUHAMMAD ALFARIEZIE

Petani Harus Segera Pulang   Warga desa tampurung pasti selalu masuk rumah dan menutup pintu serta jendela rapat-rapat setiap gunung bartutung tertutup kabut dan mengeluarkan dentum sebanyak tiga kali. Bahkan, para petani di kaki gunung harus segera pulang karena catatan kelam tersebut . Mereka harus berlari sekencang angin atau kilat agar lekas sampai ke dalam rumah. Gunung bartutung yang tertutup kabut diyakini sedang menjelma menjadi ribuan kambing yang jika bertemu manusia akan mewujud harimau pencabik segala. “Orang-orang yang menutup pintu dan jendela rumah khawatir diterkam dan dicakar siluman. Kakek dan nenek orang-orang desa tampurung banyak yang hilang. Yang ketemu hanya baju dan celana yang sobek sana sobek sini serta berlumur darah dan nanah,” ujar Mbah Ujir kepadaku, kepadaku yang seorang wartawan majalah misteri yang baru magang serta mendapat tugas dari redaktur untuk mencari informasi tentang mitos di desa tampurung. “Cerita itu benar, dik. Waktu kecil,...

Puisi Muhammad Alfariezie untuk Iin Indriani

  Cintaku Seperti Langit Biru Kebahagiaan, mawar ini umpama rindu Cintaku padamu seperti langit biru Tak sekadar potretmu, tapi Saban pagi hingga sunyi          adalah anak-anak riang di lingkunganmu yang kupandang Memandangmu, kebahagiaan Hasrat ini menjalar-jalar Akarnya mencengkram Ingin sekali melihat sejuta buah Kebahagiaan, bunga merah ini anggap saja melodi Cintaku sungguh mendidih Untuk itu, jangan tunda lagi hari yang mekar untukku Sebab, kebahagiaan Yang amat kumau seperti bocah-bocah yang riang karenamu Kemiling, Bandarlampung 28 November 2020

Sepentil Kisah dari Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani

  Jentaka Sendiri yang Membersihkan Anus Rengsa   Seorang nenek yang napasnya tersengal-sengal bila berjalan dan yang wajahnya sudah tak kuat lagi untuk selalu tertawa harus merawat sendiri suaminya yang kalau berjalan musti dipapah, apatah lagi jika harus buang air besar maka untuk membersihkan anusnya siapa lagi kalau bukan perempuan bernama Jentaka itu . Rengsa dan Jentaka ingin sekali tiga anaknya menjadi tentara, polisi dan pegawai bank. Kalau tak kesampaian maka menurut Rengsa dan Jentaka belumlah sukses anak-anaknya itu dan   mereka pun menganggap telah menjadi orang tua yang gagal mendidik anak.   Sepuluh hektar tanah habis terjual demi sekolah buah asmara mereka. Namun, anaknya yang polisi mendapat tugas di daerah terpencil di luar provinsi, anak perempuannya bekerja di Bank luar negeri dan anaknya yang tentara mati tertembak entah pemberontak atau justru pahlawan.   “Tiga kali lebaran tapi hanya uang kiriman dan baju yang bisa kita ciu...