Puisi Muhammad Alfariezie
MASIH HIJAU KEKUNING-KUNINGAN
Malam bermawar berrtaburan kupu-kupu dan aku di tengah
halaman hutan. Tiada kegelapan buruk dan pacuan langkah gunderuwo. Kepak
kupu-kupu dan alunan daun adalah nyanyian resmi di tanah ini. Tanah tanpa
halilintar sedang kusinggahi. Kurimakan kata-kata angin yang saat dalam
perjalanan selalu kupendam dan gemuruh Angin utara dan selatan yang berdansa
hikmat di hadapanku, tepat saat bulan menunjuk kepala yang tengah berdiri di
hamparan manis sang madu.
Di pucuk bunga embun bermekar dan aku mulai dingin. Aku tidur
hanya beralas tanah dan kunikmati kehampaan alam lain, dimana saat aku
terdampar seperti ini, betapa rindu menusuk kalbu. Sementara kupandang langit
dan langit memandang. Sejuta jarum menusuk-nusuk bagaikan cinta adalah nafsu,
membuat kuterkulai dan tak mau bermimpi. Kudapati ini diri tengah meringkuk bak
minum segelas arak; aku terlena dan terbuai.
Betapa pahit getah jarak tercecap, tak pernah
terbayangkan— luka terpendam pujangga melayang dan entah ke mana ketika
bersandar sambil memandang gelap. Betapa renyah jangkrik berbisik tentang ricik
terjun air, mendengar semua itu, aku terbayang wajah kekasihku. Samar-samar ia
menari dan perlahan menghampiriku. Selendang yang di tenun dari bahan yang
kutaktahu, ah hatiku berdebar dan detak jantungku berlari tak mau kalah
dilangkahi bulan.
Sayup-sayup terasa hening. Pelukan malam membuat kami iri
dan tak sempat angin berlari, ia merangkul lalu mendekapku dan di balik
kehangatan gaun dini hari, kucelupkan tinta bening di selembar kanvas yang
terletak di bibirnya, kugurat seulas senyum hingga dilesungnya—kumenanam sejuta
benih. Lalu apakah kejernihan yang akan datang? kemudian, ia menatap penuh arti
dan kutak kuasa, tiada yang mampu kuterjemah.
Di dalam perlindungan alam, di tengah dedaunan menari dan
karena pelukan; rumput bernyanyi dan
bergoyang. Wewangian nafas berhembus menyelamatkan sunyi. Tiada rintangan rindu yang yang mampu berjalan
jauh ke hutan. Hanya seorang berjari lentik yang mampu memahami kembang layu.
Perempuanku pemilik jemari itu. Tiada kehampaan,
malam-malamku selalu purnama. Cahaya pekat yang aku selami tak tenggelam karena
ada sentuhan daun-daun segar, yang aku rasa ini adalah lanskap taman suci. Dan
tiada kesempurnaan, kuakui itu. Tapi dengannya—dalam kabut kaki gunung dan
mahasuci permainan alam, kureguk air di atas pelepah pisang. Betapa bening
kembali pada hati yang sebelumnya, ah sudahlah, tak perlu tahu mengenai ini.
Toh malam takan mengerti tentang bagaimana siang menyudutkan hingga diriku
terjegal tortroar.
Detak jantung kekasihku seperti genderang perang yang
tetabuhannya senada negara Cina klasik pada era pertempuran dinasti. Tak
tercipta background mencekam atau
pertumpahan darah juga sayatan. Apabila melodi suci telah mengalun dan
menari-nari/membelai semua yang memendam sangsi maka hanya orang-orang berbaju
zirah sanggup masuk medan persinggahan. Dan aku salah satu yang terpilih karena
menjadi sepasang mimpi yang kepaknya tak melangkah tapi tak pula lupa menepi.
Tiada tanda tanya dalam hutan. Semua pernyataan tentang
keindahan wajib berujung rima karena bila kurang menegaskan— terjadilah
persimpangan bahasa. Kata-kata menjadi gang-gang dalam lingkaran. Banyak sekali
bagaikan labirin dan hanya aku dan kekasihku memahami tiap kelok yang
berselimut.
Di malam ini, ia mengajarkan padaku tentang bagaimana
memanah merpati. Katanya, “Jika tengah kesepian matarahari, panahlah bara
hutan.” Tatapan tanpa kata-kata menerjang diamku, seulas senyum tak tertahan.
Lalu kecupan sejuk sang malam menjelma madu dan mengalir, mengalir ke dalam.
Entah apakah lingkaran, semua bentuk yang terjadi nanti—saat ini aku akan
selalu berdoa. Biarlah kurenungkan apa yang dimaksud perenungan abadi, agar
dapat kupahami maksud dari kemisteriusan ini.
Tapi setelah ia selesaikan kata-kata, dipeluknya ini
tubuh. Erat dan kukatupkan pelupuk hingga terbayang hamparan liar dan nafas
sang naga membakar hutan ini, berbalut baju api—pertikaian dingin kami
takhlukan. Sementara malam menjauh dan aliran mimpi tengah bersatu lalu
mahakarya dini hari, menakhlukan sepasang pengantin dedaunan yang daunnya masih
hijau kekuning-kuningan.
2018
Biodata
:
Muhammad
Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Lulusan FTIK Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini
aktif di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban
Sastra Isbedy Stiawan ZS.
Karya
puisinya telah di muat media massa Lampung Post

Komentar
Posting Komentar