Prosa



KEKASIHKU DATANG DAN SELALU DATANG

Kutinggalkan wewangian dan lekuk tubuh kekasihku yang serupa mahadewi. Perjalanan tuk menggapai rahasia kejulangan tak boleh pupus hanya karena kecantikan sayap-sayap asmara, karena ada sebuah mahakarya yang musti kupersembahkan dan kunyanyikan.

Perlahan rasa getir dan dingin terlepas. Bukan tanpa alasan karena setelah mengalami pelukan dan manisnya bibir--  kini harus kudaki relung-relung sunyi pendakian. Bayang-bayang wajahnya dan dinding-dinding putih tanpa noda bagaikan sekelabat kabut yang membuat pandanganku tak bisa jauh hingga aku bersandar pada tubuh pohon pinus. Dan kurasakan gairah malam. Tak tahu, bagai berlayar di perahu cahaya, kulit-kulitku menjadi emas setelah memegang tangan pohon itu.

Kubayangkan saat ini di tengah tempat paling indah, dimana dapat kulihat kesunyian bulan yang sedang memainkan gitar. Kubayangkan gemerisik dedaunan adalah alunan atau melodi subuh yang setiap kumasih terjaga, kekasihku menyanyikan dengan merdu, sengaja agar kuterlelap dan melupakan lumpur yang akan menghadang jalanku.

Alam bawah sadarku semakin resah, aku tak berdaya ditikam seribu bahasa. Bibirku bergerak bagai ilalang perbukitan. Tanpa kata yang dapat kumengerti, sebuah puisi tercipta di tengah-tengah bebatuan. Kubacakan sajak-sajak liar dedaunan. Sekelebat bayang perempuan datang dari celah rerimbunan. Rambutnya yang perak berkilau, tertiup angin. Kudekati ia sembunyi. Kunyanyikan mantra suci pengembara. Dari arah timur ia mendekat lalu memelukku, diriku rubuh dan tak berdaya.

Dedaunan hanya mematung. Musik dini hari berhenti dan langkah-langkah menepi. Kami berdua tanpa sehelai rencana menggamit dan memudarkan luka perpisahan. Antara gunung dan lautan, seakan pendakian tanpa batas, seulas senyum dan wewangian nafas yang berdekatan, menjadi awal. Dan kutak tahu apakah kekasihku mengetahui, dan mungkinkah ini reinkarnasinya karena tak ingin jauh dariku?

Belum sempat pertanyaanku terjawab. Ia bangkit dan berbisik, “relungkan kidungmu, kumau malam mahadahsyat dengan segumpal cahaya menemani kita yang tengah dalam kesendirian.” Kumainkan nada-nada yang lama kusimpan dan ia menari- mendekat lalu menjauh lagi. Ditarik ulur perasaanku olehnya. Kuselesaikan nada ini dan ia tak mau, tapi aku bukanlah seorang pujangga yang ambigu, maka kuhentikan nyanyian, meski ia menangis tapi toh elang musti terbang.

Aku tidur dan membiarkan ia menari dan memainkan seruling buluh dalam kantung yang selalu kubawa. Meski hanya rerumputan dan embun di pucuk bunga yang memerhatikan ia tetap mencari-cari cara agar kutersadar. “Telah kutemui gadisku dan ia lebih hebat dari segulung ombak” Kataku berbisik. Tanpa kuduga ia genggam tanganku dan aku menatapnya. Ia menampakan keaslian, aku bangkit dan menyanyikan lagu-lagu roman. Di tengah hiruk-pikuk hutan dan sejuta rahasaianya, aku dan kekasihku berdansa mengikuti lekuk arakan awan.

Selendang yang ia rajut dari bahan yang tak kuketahui ini menjadi alas atau permadani tuk menahan ngilu. Aku tak mau tidur, tapi juga tak berkeluh kesah. Kuceritakan padanya tentang terjal setapak yang membuatku tak mau berhenti dalam mencari rahasia dari sebuah lagu sunyi, lalu dengan hati riang ia mengelupas kulit pohon kemudian melukis bulan dengan wajah ayam yang tak kuketahui jenisnya. Ia tersenyum dan berbisik, “Matamu takan mengerti tentang ini, tapi batinmu lebih peka terhadap apa-apa yang tak terlihat oleh mata.”

Aku tak menjawab dan hanya memandangnya. Tanpa angin dan  hanya bisik jangkrik, kuterka semua itu. Ia menatapku seolah mengiyakan isi hatiku. Setelah itu, cahaya bayi matahari lahir dari celah tebing-tebing dan aku melihat rangkaian bintang pulang dari masalalu. Sebelum berpisah dengannya ia mengelupas semua luka di tubuhku, aku seperti pengembara dengan sejuta dahaga yang meminum air sungai pegunungan. Dahagaku terkelupas oleh kejernihan di sepasang sayapnya yang perlahan melambai di tengah keremangan.


2018

Biodata :
Muhammad Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Lulusan FTIK  Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.
Karya puisinya telah di muat media massa Lampung Post


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie