Prosa



PERISAI AWAN

Puncak gunung tanpa debu, dimana banyak perdu dan belukar membawaku ke alam yang takan bisa kujelaskan. Orang-orang berkumpul tanpa suara, hanya hentakan kaki dan desah yang tak kumengerti. Entah pula apa yang mereka sembah dan ketika malam mereka ingin menyambut badai tapi badai tak berkunjung lalu Lelaki yang didampingi tiga perempuan cantik mengutus salah satu dari mereka untuk memotong jari (mungkin) anak-anak dari mereka.

Teriakan-teriakan, kosong. Mata hanya sedikit terpejam dan sesekali memandang, tentu mata dari anak-anak itu. Darah yang mengucur mereka tampung di sebuah benjana dan yang membuatku tak habis pikir, setelah tertampung darah itu diberi liur satu persatu dari mereka, kecuali lelaki yang di dampingi tiga perempuan tadi. Sementara itu langit yang perak keemasan lama kelamaan menjadi biru keungu-unguan. Satu persatu mereka berpencar.

Asap wewangian melayang, dan sedikit mabuk, sedikit pusing, kau kekasihku, mohon datang dan temuiku, kataku dalam hati. angin pun berkesiur, dedaunan berayun matahari merangkak pulang. Lelaki tadi tetap bersila dan kutandai ia seperti elang yang terbang di atas karang, di atas pegunungan tapi entah apakah ia sanggup masuk dalam badai salju.

Kuintai salah satu dari mereka yang tak memiliki rambut. Kulitnya yang legam tapi agak putih atau lebih tepatnya sawo matang, membawa panah menuruni lembah lalu meloncat menuju sungai. Ia memanah ikan berwarna rembulan, tiga ikan mentah-mentah ia telan. Betapa ingin muntah kusaksikan sayap keganjilan ini. Tak kutemui pada pengembaraan kemarin. Orang-orang tak kumengerti bahasanya ini, apakah ia sanggup mengalahkan makhluk modern?

Dan, ia menghilang. Dari arah belakang ada yang menepuk pundaku, ternyata ia dengan tatapan dan mulutnya menggeram. Ia mencekik tapi kutepis. Aku berlari tapi perkelahian tak dapat kuhindarkan. Dari arah matahari terbit, kekasihku datang, dengan gaun suci perak keemasan ia panah mata cakar yang ingin merajamku. Belingsatan bagai dilempar jala langit, orang itu jatuh berguling-guling tapi aku tak tertawa, tak bersedih, hanya melongok tak tahu malu.

“Kau badai asmaraku, yang dalam kewarasan aku tak kuasa untuk tak menemui jika kau dalam keremanagan,” Katanya. “Kecuplah, dan sambutlah raga yang belum usai memandang air terjun langit,” Jawabku. Malam kerontang menyelimuti asmara yang takan bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan lalu jemarinya, membelai dan mengusap luka kerinduan.

Rindang pohon pinus menjadi tempat malam-malam damai. Kami memayungi hutan yang tak nampak putih ini. Jangkrik berbisik dan kutahu itu adalah restu. Kutahu semua dalam prahara dan barangkali saat ini orang-orang di puncak itu sedang memanah rembulan dalam tempat pengasingan-pengasingan mereka yang tak kuketahui di dalamnya. Kekasihku tak melarang untuk aku kembali ke sana tapi gelap dan jelas, jika obor kunyalakan, cahaya akan diburu mereka.

Gemericik air sungai dan cahaya yang becermin serta bayang kupu-kupu adalah hiasan di antara aku dan kekasihku dan lanskap biru kemerah-merahan menandai tak gelap dan pula tak terang. Aku dan kekasihku menjadi satu alasan tentang mengapa hutan menjadi lambang yang rimbun dan kesejukan. Aku dan kekasihku yang merajut dan mereka orang-orang yang tak kumengerti bahasanya ini dan yang badannya penuh dengan corak morak harus memberi hormat pada kedatanganku.

Kekasihku akan menjaga dari sengat lebah mereka. Aku yang selalu ia buai dengan jari-jemari dan selalu  buatku lena atas tari bayang-bayang awannya adalah kekuatan yang tak boleh mereka kuasai. Nyanyianku, bila hutan tanpa suara maka mereka akan terus memakan ikan dengan mentah, dengan sejuta kengerian yang tadi kulihat, O dapat kusimpulkan tiada tarian malam, tiada tarian hujan, tiada kejernihan embun dari apa-apa yang dilaksanakan orang-orang itu. apalagi pemimpinnya yang berambut, ah tak dapat kujelaskan karena tak rimbun tak juga gundul.

“Maukah kau berhenti melamun dan menyanyikan malam bulan sabit dan sajak-sajak cinta aliran sungai, aku rindu,” Rayunya padaku. Tak kujawab dan kubunyikan seruling buluh, bergantian kumainkan guitar dan melodi-melodi yang tak terjalin kehampaan kumainkan. Ia menari, menari dan sentuh relungku yang berkidung. Gaun perak keemasan melayang dan melayang dan ia menghilang, aku terlelap dilindungi cahaya indah dan kami tutup malam  beralas sutra berselimut suka.

2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie