Essei kasih sayang
Pabila seekor rubah kita biarkan mengintai kandang ayam
di halaman. O alangkah lalai kita sebagai manusia. Memandang peristiwa ini di
balik jendela bukanlah hal yang baik seperti memandang hujan. Pabila hujan reda
memang kita akan lihat bebungaan mekar tapi jika ayam kita habis lalu bagaimana
esok ke pasar?
Beginilah rasa takutku akan bangsa. Pabila pemuda
mobat-mabit terus berkeliaran tanpa ada sedikitpun kepedulian kita... O
sayang... akan seperti apa ini bangsa di
masa depan. Sedangkan kita melihat serdadu asing telah genggam senjata dan
berbaris di brikade mereka. Apa kau sanggup nanti mendengar derap mereka? O
suaranya itu senada limbubu. Kita pasti takan sanggup keluar rumah.
Nanti engkau menyadari pemikiranku ini bukanlah suatu hal
yang sama dengan racauan. Karena dari sabang sampai merauke, ah. Pabila kita bersatu—Tank Sapi Perah tidak
hanya angan-angan tapi sungguh ia melawan pesawat milik inggris
ataupun Sukhoi Rusia.
Dalam buku yang berjudul Bangsa Romawi. Di katakan bahwa Rusia adalah kerajaan
Romawi dan Iran adalah kerajaan Persia. Lalu aku juga melihat cita-cita
Majapahit yang ingin membangun kerajaan yaitu Nusantara. Nusantara bukanlah
Indonesia tapi hampir seluruh Asia Tenggara.
Imperium Nusantara bisa menjadi penyeimbang antara
pertarungan Persia dan Romawi. Kita tonton mereka sambil makan kacang. Lalu
kita tertawakan mereka. Kemudian kita atur strategi agar mereka minta bantuan
kita.
Tapi Imperium Nusantara sulit untuk mewujudkan
cita-citanya. Karena Romawi telah
memiliki “Si Tangan Kiri” dan Persia sedang membangun senjata-senjata untuk
membunuh si tangan tersebut. Kau harus tahu pabila “Si tangan kiri tekan tombol
merah maka meletuslah bagaikan gunung berapi yang mampu mengguncang nyaris seluruh
dunia”.
Maka kita sebagai Imperium penyeimbang harus bersatu dan
berfikir bagaimana ketakutanku tidak terjadi. Kalau pun
memang terjadi setidaknya kita telah mengikuti mereka. Tidak perlu
kita pandangi luas langit sambil meneteskan air mata.
2018

Komentar
Posting Komentar