PROSA
PEMANDIAN LUMPUR DALAM KOTA
Dedaunan yang berayun adalah getar dalam hati yang takan bisa diterjemah bila tak mengetahui
belantara rimba maka tak lah elok bila pujangga hanya menetap pada sebuah
sungai. Kota yang banyak anak nagfir ini membuatku mengerti tentang keadaan
sunyi para penyembah kebosanan. Kuanggap begitu karena apapun yang mereka puja
hanya secuil dari mutiara, lantas prtanyaanku adalah, mengapa tak menyelam ke
dasar lautan tuk menemukan indahnya kedalaman?
Ternyata ketika kutanya begitu, tak satupun dari mereka
menjawab. Semakin yakin diriku akan kegemilangan ini pola pikir dan semakin kuyakini apa
kata malam bahwa kegelapan bukanlah keterpurukan tapi
sebaliknya, kegelapan itu terangkai karena ada keangkuhan yang musti
dikalahkan yaitu temperatur hati kita yang musti disejukan.
Apabila kita hidup tanpa pohon, masihkah yakin nafas kita
takan tersengal, jika iya lalu untuk apa
hutan dilindungi. Maka dari itu
semua, yang kulakukan dengan kekasihku adalah percintaan yang tak perlu
diketahui. Cukup diresap seperti buaian angin ketika terik siang. Sebab apa-apa
dari gerak kami adalah cuplikan dari film, dimana itu adalah sebuah keutuhan
yang sengaja diciptakan untuk menarik penonton, tapi tidak pula untuk
membodoh-bodohi seperti membohongi anak kecil yang sedang menangis lalu setelah
tersenyum, tak pula kita (orang tua) menepati janji yaitu membelikan permen.
Maka kutetapkan untuk tinggal di sini. Kota yang telah
banyak lampu-lampu tapi tak pula mengalahkan indahnya rimba, tempatku mencari
ketenangan. Cuaca yang tak bersahabat denganku adalah salah satu penghalang sesungguhnya.
Namun demikian, aku musti menyanyikan lagu pelik sang nasib yang liriknya takan
mereka pahami karena terjalin dari gemericik sungai dan ayun dedaunan.
Benar saja, mereka seperti pemuda tak tahu malu yang saat
presiden berpidato, mereka hanya melongok—memamerkan keompongan. Mereka tak
pernah nalar untuk bagaimana caranya menciptakan keadaan dunia yang berdaya
saing. Hanya cuap-cuap ketika datang malam lalu menghabiskan uang di tempat
pemandian lumpur padahal di rumah sendiri, bisa saja mereka membangun kolam dan
membuat kobangan tapi apakah mereka berpikir demikian? O tidak, maka dari itu
puisi dan lagu harus tetap tertulis.
Dan, satu-persatu mereka pulang setelah kunyanyikan lagu
ke lima. Wajah-wajah yang tak sependapat denganku berpacu dengan kecepatan debu
yang beterbangan di atas jalan. Sunyi telah menjadi lanskap di sini dan hal ini
telah kuduga sebelum terjadi. Tak mengapa, memang telah tiba sang waktu maka
jika mereka pergi dan memasuki kawasan lumpur tuk menyelami tubuh yang katanya,
lumpur memiliki khasiat bagi kulit tubuh. Aku tertawa mendengar itu, lalu
kubertanya dalam hati,. begini, “Lalu untuk apa kita disuruh tidur, makan
dengan pola yang telah di atur Muhammad Saw, jika memang lumpur itu menyehatkan?”
Ya.. aku hanya tertawa lalu tanpa penyesalan kuhentikan
nyanyian. Kudengarkan jerit perkotaan. Kuhirup wewangian jalan, kususuri jejak
mereka. satu persatu kutemui mereka sembunyi-sembunyi. Ah, menurutku mereka
sedang jatuh cinta pada selokan. Kemudian ada yang bergerombol saling melempar
dentuman keriangan, hingga lupa bahwa banyak tanah masuk hingga bercampur
dengan nasi yang baru saja mereka makan.
Dari kejauhan tak dapat kubedakan mana dini hari dan
malam. Perputaran waktu di sini menggelikan heningku, hingga lupa pada
pertapaan sunyi yang biasa kulakukan tiap malam. Tapi ya itulah, aku harus
melihat situasi pelik yang sering terjadi ini, karena bila tidak—takan ada
persembahan suci saat purnama nanti.
2018

Komentar
Posting Komentar