PROSA



RISET

Aku berdoa pada tuhan agar itu daun-daun yang gugur menjadi pupuk seperti kotoran kambing di desa yang dulu pernah kita tempati. Aku bingung sekali sebab sudah dua bulan  ladang jagungku tidak berbuah. Aku tidak mengerti mengapa ini terjadi. Aku sudah membawa mahasiswa pertanian yang kebetulan sedang riset di kampung Aji Sakti ini. Mereka bilang karena tanah di sini kurang tepat untuk menggarap ladang. cocoknya tanah di sini menjadi sawah atau tambang.

Aku pun berjalan ke hutan pada malam hari. Di desa ini memang masih banyak belantara jadi tidak perlu jauh melangkah untuk mencapai hutan. Aku masuki kebun coklat dan kopi. Kebunnya sangat tertata. Di sebalah kiri kopi dan kanan coklat.

Berbekal senter dan jaket aku susuri hutan yang beraroma kopi. Kehadiranku di sini bukanlah tanpa tujuan. Tujuanku ke sini seperti yang aku ceritakan di atas. Aku ingin mengetahui bagaimana hutan ini subur soalnya kata para mahasiswa itu, tanah di sini tidak cocok untuk berladang tapi mengapa banyak kebun kopi dan coklat di sini? Mungkin saja mahasiswa itu kurang membaca jadinya mereka asal tebak karena tidak bisa memberi solusi bagi ladang jagungku.

Angin yang kencang melerai rambutku. Aku mengerti angin melerai rambutku bukan tanpa maskud. Aku pun berpikir sambil istirahat  menikmati siulan jangkrik. Tiba-tiba lintah gerayangi sebelah kanan kakiku. Aku reflek- memukul itu lintah gunakan batu. Sontak kakiku berdarah. “ah, bodohnya”, kataku sambil meniup-niup luka.

Aku pun menyobek kaos dalamku untuk membalut luka. Selesai terbalut aku mendongak dan memetik daun kopi. Daun aku potong kecil-kecil dan kutaruh di kanan telapak tangan lalu aku tiup.

Itu daun-daun terbang. Sangat cantik tapi aku merasakan kecantikan itu bagai angin yang selalu datang melerarai rambutku. Sehelai potongan kecil menyentuh tanah lalu disusul dengan helai berikutnya-terus seperti itu hingga mataku sayu karena jangkrik semakin ramai dan angin gugurkan daun menyentuh pundakku.

Setelah semua potongan daun ke tanah aku kembali susuri hutan. Waktu hampir memasuki gerbang rimba aku temui raflesia arnoldi. Aku berpikir sambil mengerutkan kening dan menempelkan tangan kiri ke kepala. Wah ternyata tanah ini begitu subur, buktinya tanaman yang seharusnya tidak tumbuh—tumbuh di sini, dalam hatiku sambil menyentuh itu bunga.

Lalat-lalat yang mengerubungi sangat banyak karena ini tanaman memang lumayan besar. Aku merasa ini tanaman sudah cukup berumur. Baunya pun menyengat. Aku merasa tidak betah karena aromanya yang semakin malam semakin semerbak. Aku pun segera masuki gerbang rimba.

Aku melihat dua monyet liar  sedang memakan pisang di lembah. Aku mendekati pisang itu, dan mereka tetap santai memakan pisang seperti tidak terganggu akan kehadiranku. “hey leo, kemana elang sayap putih”, kataku menggoda monyet yang agak besar. Mereka pun pergi setelah aku mencoba berkomunikasi dengan mereka. Mereka pergi menggelayuti ranting-ranting pohon. Ini pemandangan yang tidak pernah aku lihat secara langsung.

Penasaran di mana mereka bersarang aku pun mengikuti mereka. Aku tidak berpikir panjang sebelum mengikuti mereka. Sampailah  di daerah berhalimun dan sekitarku ilalang. Angin yang kencang membuat ilalang meliuk dan tengkukku berdiri. Merasa lelah karena mendaki aku pun kembali istirahat sambil melirik sekitar hutan.

Kali ini aku rebah dan menjadikan kedua tanganku bantal. Dengan kondisi seperti ini  dapat kulihat taburan bintang, bulan dan langit seperti ingin menindih. Memang agak ngeri tapi karena udaranya sangat nikmat aku pun memejamkan mata.

Ilalang mendesir membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku berdiri tersentak dan tanpa kusadari telunjukku menunjuk ke timur, dan aku melangkah sambil tanganku terus menunjuk. aku menemui lubang, sepertinya lubang ini galian tapi aku belum mengetahui ini galian manusia atau binatang. Dalam lubang ini lumayan ceruk, mampu menenggelamkan manusia.

Aku cari-cari batang kayu yang diameternya segenggaman tangan dan panjangnya seaku. Langkah pun mencari hingga menuruni lembah. Jauh sekali melangkah hingga aku lupa letak lubang tadi. “ah, karena kayu malah hilang tuh lubang”, kataku menyesali pencarian kayu. Aku pun turun menyusuri lembah. Sembari menuruni lembah kupandang dengan tatapan tajam untuk mengenali setiap tanaman yang aku lihat dan mataku tertuju ke pohon nangka yang telah berbuah. Buahnya sangat besar-besar sekali bahkan aku belum pernah melihatnya di desa.

Batang pohon yang seukuran tubuh aku raba. Daunnya yang mengembun kukecup dan ranting yang telah di tanah aku pungut dan aku patahkan. Kulit ranting masih sedikit basah, ini menandai bahwa ranting ini di tanah bukanlah karena waktunya tetapi karena ada yang sengaja mematahkan.

Aku berpikir sambil meraba tanah tiba-tiba tanah basah. Ternyata itu air dari keningku. Tubuhku berkeringat. Mungkin karena setelah jauh melangkah kemudian berpikir mengenai siapa yang mematahkan ini ranting, tak kusadari bahwa tubuhku mengeluarkan kalori dan karena keringat yang terus mengucur aku merasa lelah untuk berpikir. Tubuhku pun kusandarkan di batang pohon. Rasanya nikmat sekali bersandar di hutan sambil memandang bulan dan menikmati angin hingga mataku terpejam.

Kira-kira satu jam tertidur aku bangun karena kaget tiba-tiba rinai. Aku pun cepat kembali menuruni lembah untuk kembali. Aku berlari karena takut hujan sebelum sampai, tapi karena aku belum pernah memasuki ini hutan aku tersandung akar. Tubuhku berguling tiga kali sebelum akhirnya di hentikan oleh gubuk. Gubuk itu tepat berada di kaki hutan tepatnya di ladang kol, cabai, dan sawi.

Aku berdiri membersihkan pakaian yang sekarang serupa tanah liat. Sementara rinai semakin deras akhirnya aku berpikir bahwa malam ini  tidur di gubuk itu. aku tahu gubuk ini memiliki pemilik dan jika esok aku terbangun lebih lambat dari kedatangan pemiliknya maka pasti disangka maling. “Ah, aku tak perduli”, kataku sambil bersihkan kotoran  di wajah dan rambut.

Aku geledah seisi gubuk ini karena  tadi tidak membawa perlengkapan semacam selimut maka aku ingin menemukan kain untuk sedikit meredakan dingin dari sengat sang embun. akhirnya kutemukan kain yang lusuh dan bau, tapi tak apalah dari pada aku kedinginan lebih baik aku gunakan.

Aku pun rebah dan memandang ke daun-daun kol dan sawi yang digerayangi embun. “apa aku harus membabat hutan ini untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Apa mungkin mahasiswa itu bodoh hingga mereka asal jeplak tentang keadaan tanah di desa”. Tanyaku pada nyamuk yang doyan sekali terhadap darahku.

Ya… terang saja aku curiga akan mahasiswa-mahasiswa yang mengaku riset itu sebab, kata pak lurah itu mereka mahasiswa dari tekhnik pertanian tapi yang aku heran kerja mereka justru hanya mengajar anak-anak desa membaca. Aku tidak pernah melihat mereka ke ladang bahkan, kemarin saat mereka menjawab pertanyaanku bukan mereka yang menghampiri ladang jagungku tapi aku yang menghampiri mereka di rumah pak lurah.

Waktu aku menemui, mereka sedang bersantai menikmati kopi, singkong goreng dan suasana desa yang hening sembari bermain gitar. Mereka bertiga bernyanyi sambil memandang mega. Aku menjadi semakin bertanya-tanya mengenai anak kuliahan dan Universitas tempat mereka menimba ilmu. “apa mungkin petani lebih pintar dari mereka sebab petani di hutan ini mampu merawat kol, sawi, kopi, dan coklat hingga hampir siap panen. Apakah setelah lulus mereka mampu membenahi masalah panen petani, ah, mana mungkin mereka mampu, wong membenahi ladang jagungku saja tidak bisa”. Kataku sambil merobek-robek kain yang kutemukan dan kujadikan selimut ini.

Dan, malam pun semakin larut jangkrik dan angin terus berbisik menyanyikanku lagu hutan yang menentramkan tidurku yang ditemani hujan. Ayam yang tidak aku ketahui kelaminnya berkokok membawa rohku kembali. Mataku terbuka dan langsung melihat ke luar. Ternyata langit masih gelap dan tiba-tiba ada pikiran bahwa aku akan menunggu pemilik kebun untuk menanyai bagaimana mereka bercocok tanam di tanah yang katanya kurang cocok untuk bertani.

Gelisah menghantuiku karena aku ingin lekas menyambut matahari dan pak tani atau pun ibu tani yang mungkin akan membawa bekal singkong goreng atau pun pisang goreng dan mereka pasti menawariku untuk makan bersama mereka. Ah, itu hanya pikiran gilaku karena lapar setelah mendaki.

Aku berjalan keluar dan meraba daun kol dan sawi. Daun yang berembun sangat manis sekali di mata seperti aku menikmati bibir tebu. Aku pun membayangkan pucuk jagungku yang entah kapan akan seperti itu daun-daun jagungku. Lama aku meraba daun dan membayang sebuah panen dari ladang-ladangku akhirnya aku berdiri dan kembali ke gubuk karena, rintik-rintik bekas rinai melanda tanah dan tubuhku.

Aku merasa kedingan sendiri di sini. “Ah, sebenarnya aku juga selalu sendiri sejak aku meninggalkan laura di sana, nun jauh”. Kataku sambil mengusap air mata yang menetes sendiri. Lalu, setelah aku berkata seperti itu kupu-kupu masuk ke gubuk. kupu-kupu jingga yang membuat tubuhku seperti merasa dalam selimut. Aku pandang tajam kupu-kupu itu hingga tubuhku berkeringat.

“Udara yang dingin memang tidak mampu menahan hasrat dalam jiwa yang sedang jatuh cinta”. Kataku sambil merayap ingin mencium itu serangga. Aku mendekati dan mendaratkan bibir di sayapnya dan kupu-kupu itu diam. Akhirnya aku bosan dan kembali ke tikar lalu  kembali merebahkan.

Mungkin langit merasakan kegelisahanku hingga akhirnya jingga mewarnai langit dan tanpa harus menunggu lama pemilik kebun datang dan matanya melotot kaget karena melihatku digubuknya. “siapa kamu.”
kamu siapa“ kataku.”
 “ya aku pemilik kebun.”
Oh, kebetulan kataku.

Ternyata pisang goreng dan singkong goreng yang aku harapkan semalam tidak dapat masuk ke perutku karena pak tani ini hanya datang membawa cangkul. Setelah lama kami berkenalan akhirnya aku memberanikan diri untuk menemaninya merawat daun-daun kol dan sawi.

aku menawarinya agar aku saja yang mengambil air ke sungai untuk menyiram daun tapi dia tidak menyetujui karena katanya daun-daun itu harus diginikan, sembari ia merawat tanaman-tanamannya itu. Aku pun mengikutinya menyingkirkan itu daun-daun kering.

Pak tani ini sangat ramah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanku, dia pun tidak seperti para mahasiswa yang mengakunya riset itu yang seakan-akan ingin buru-buru menyudahi pertanyaanku dengan mereka setiap kali aku bertanya. Mungkin aku kesal dan tidak lagi percaya dengan para mahasiswa hingga aku terus saja berpikir negatif tentang mereka, apalagi dengan kondisi tubuh sehabis mendaki pastilah pikiran-pikiran yang kurang positif bersarang di kepala.

Setelah membersihkan sisa-sisa daun kering pak tani mengajakku untuk ke sungai mencari ikan, karena memang perutku yang lapar aku pun mengiyakannya. Di perjalanan aku menanyakan akan tanah di sini. Katanya, untuk menanam di sini kita tidak perlu menggunakan banyak pupuk karena tanah ini adalah tanah yang paling cocok untuk bertanam apapun bahkan dia berkata bahwa dia pernah menanam jagung dan hasilnya dia mendapatkan panen sesuai dengan yang ia harapkan.

Aku semakin penasaran dan menceritakan keluh kesahku tentang ladang jagungku yang tidak berbuah dan aku menceritakan asal desaku. Dia mengatakan bahwa tanah di desaku adalah tanah yang subur untuk menanam jagung dan tebu.

Katanya kalau memang jagungmu tidak berbuah itu bukan karena tanahnya tapi karena memang aku yang belum mampu bercocok tanam. Aku bertanya padanya tentang tanaman apa yang mudah untuk dinikmati hasilnya dan dia menjawab tanaman yang kita tanam dengan pemujaan.

Aku terdiam setelah mendengar perkataannya yang agak aneh di telinga. “Apakah petani ini merawat pesugihan,” kataku berbisik pada anign. Akhirnya kami sampai di sungai dan aliran sungai yang deras mengagetkanku yang belum pernah melihat sungai yang luas seperti aku melihat sungai borneo melalu televisi.

Air yang jernih dari sungai ini memantulkan wajahku yang serupa akar beringin. Aku pun mengambil kesempatan ini untuk mencuci wajah dan meminum airnya. Katanya  air sangatlah segar jika kita minum menggunakan daun pisang, dan aku pun langsung hampiri posong pisang merobek daunnya.

Benar, rasanya sangat nikmat sekali minum air sungai yang jernih gunakan daun pisang. Ini mengalahkan manisnya bibir tebu. Setelah selesai menikmati air sungai aku pandangi wajahnya yang asik mencari ikan dan tidak lama dia memanggilku untuk memamerkan ikan hasil tangkapannya. Pak tani itu menangkap ikan menggunakan nampah untuk mengayak nasi yang sejak semalam memang sudah aku lihat keberadaannya di gubuk.

Lima ikan berhasil ia tangkap dan sisik ikan ia bersihkan menggunakan pisau yang telah ia sediakan. Ia menyuruhku mencari kayu bakar dan  berpesan bahwa jangan membawa bambu karena katanya bambu mengandung air walau terlihat kering tetap saja tidak bisa dijadikan kayu bakar.

Awalnya aku hanya mencari kayu itu di tepi sungai lalu dia memarahiku karena katanya sampai aku matipun tidak bakal menemukan kayu jika mencari di situ. Yasudah dengan bibir yang maju aku masuki hutan dan beruntung tidak jauh telah kutemukan batang pohon yang diameternya sepangkal kakiku dan itu batang kugendong gunakan pundak dan segera kubawa kehadapannya.

Tubuhku yang lelah, dan lapar membuat hilang fokus mataku. Lagi-lagi aku tersandung oleh akar dan apesnya kaki yang semalam berdarah yang tersandung, sontak aku meringis. Mungkin karena terlalu lama duduk dan meniup-niup lukaku, ia  menghampiriku dan berkata, kau ini cengeng luka segitu saja meringis, wajar saja kau tidak mampu merawat ladang jagung.

Mendengar pertanyaannya yang menusuk hati aku menundukkan kepala. Dan, yang terjadi… aku tersanjung sekali dia jabat jemariku dan membangkitkanku tapi aku menjadi kesal karena dia menyuruhku untuk kembali membopong batang kayu itu. Aku hanya pasrah dan mengiyakannya.

Kami pun sampai di sungai dan tak butuh waktu lama dia langsung mematahkan batang-batang itu dengan cara menginjaknya dan menarik ke atas dengan tangan. Tenaga petani yang kira-kira usianya 60 tahun ini kuat sekali. Batang yang diameternya seukuran paha orang yang bobotnya 80 kg mampu ia patahkan dengan tangan kosong.

Ikan ia bumbui dengan garam dan daun sereh yang ia bawa gunakan bakul kecil yang dikaitkan dipinggannya. Sepertinya itu bakul buatannya sendiri,  soalnya rajutan rotannya kurang rata dan menarik di pandang.

Kami berbincang mengenai suasana sungai di hutan ini yang memang suasana di sini menentramkan lebih dari suasana desa. Apalagi sejak kedatangan mahasiswa itu. Rasanya aku malas kembali ke desa dan melihat wajah mereka. Terang saja aku kesal harusnya mereka yang ke sini dan meneliti pertanian di sini bukannya malah hanya mengajar membaca dan menikmati suasana desa. “Mereka kan ke sini bukan untuk piknik”, pikiranku yang semakin menjurus ke hal-hal negatif terus meracau dalam hati.

Ikan matang dan kami langsung memakannya tanpa nasi. Selesai makan aku kembali mengambil daun pisang untuk minum karena memang minum menggunakan daun pisang memang nikmat, aku ketagihan.

Matahari yang telah tepat di atas kepala mengajak kami pulang dan beruntung kali ini aku kembali tidak sendiri dan jelas aku memiliki teman bicara untuk menuntunku pulang, tidak seperti semalam yang hanya berteman keberanian. Di perjalanan pulang kami melewati kebun kopi dan coklat. Petani tersebut memetik coklat yang telah menguning lalu membanting coklat itu ke batangnya untuk membuka kulitnya. Dia memberi setengahnya padaku dan aku pun menerimanya. Aku makan coklat, rasanya manis dan kecut-- menyegarkan. Aku pun mendapat energi baru yang memang sejak semalam terkuras.

Desa kami yang berbeda membuat kami berpisah di simpang jalan menuju desa masing-masing. Dia mengatakan kalau butuh bantuan untuk bercocok tanam datanglah lagi ke gubuk ketika pagi dan kalau aku tidak melihatnya di gubuk carilah dia ke sungai. Aku pun mengiyakan ucapannya dengan senyum.

Perlahan kami saling memunggungi dan kembali.

2018

Biodata :
Muhammad Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie