Fiksi

Klik Gambar!
Gibran (group Duo)




__________________________________________________________________________________






RATU

Bagaimana sekarang hujan semakin deras. Jelasnya tak mungkin  melanjutkan perjalanan ke bukit. 

Aku menepi karena hujan tak menepi. Aku dan Ani terjebak di antara hujan dan kerumunan orang yang  ingin mudik. Ini libur panjang jadi wajar saja rasanya banyak yang ingin ke kampung halamannya untuk sekedar sungkem pada orang tuanya atau hanya ingin memberi hormat ke pada tanah leluhur.

Kepada  dewa hujan aku berbisik, adakah di antara derai rinai selimut hati yang sejuk?. Setelah sebentar dari perkataanku itu hujan semakin deras. Awan hitam memekat-- memaksa aku, Ani dan mereka semua memeluk dada. Kilat mengerikan—apalagi tempat  berteduh pas di belakang kaca. Rasanya aku ingin menerabas pulang.

Aku memandang wajahnya tapi  mengherankan dia justru tersenyum. “Mengapa kau tersenyum, an?” kataku.
“tidak papa, kau lupa her. Kan aku memang sangat mencintai hujan dan petir”. Ani memang sangat menyukai petir. Dalam hatiku mengguman, haduh pasti Ani mengajakku menerabas hujan. Ani seperti mendengar perkataan dalam hatiku—dia mengajakku untuk menerabas hujan.

Aku menanyakan apakah dia sanggup untuk menahan dingin dan dia mengangguk, tersenyum memberi isyarat yang memberiku arti sangat berharga di antara kepungan hujan dan dingin. Kubuka jok motor dan alhamdulihnya entah kebetulan atau barnagkali ini adalah anugerah—dalam jok motor terdapat jas hujan yang ukurannya cukup untuk berdua.

Aku pakai Mantel dan langsung berkendara. Ani memeluk erat pinggangku. Ah, aku merasa dicium bulan. Ani berkata, her lihat ke kiri, banyak kupu-kupu yang memerhatikan perjalanan kita. Menurutmu mereka iri atau menghormati kita. Aku hanya menjawab mereka iri, An. Ani memang  agak sedikit lebay dan nada bicaranya sedikit manja. Aku sangat menyukai kekhasan dari Ani, karena itulah aku sangat mengagumi dan menyayanginya.

 Perjalanan yang masih jauh ini tak menyiutkan nyaliku terhadap dingin. Aku pandang jalanan lengang ini dari mata yang tertutup kaca helm berwarna pelangi. Pandangan yang sedikit berkabut karena pengaruh kaca helm dan hujan menguatkan hatiku untuk segera memberi hormat dan meraba tanah di kampung halamanku.

Kampung halamanku itu tempat aku banyak belajar tentang kehidupan. Tentang bagaimana melihat kupu-kupu terbang dan berkejaran dengan kumbang untuk saling mendahului hinggap di pucuk mawar. Ketika senja aku melihat mega memberi sepia di permukaan kolam depan rumahku. Belum lagi aku banyak belajar dari para bocah yang hampir setiap hari penuh semangat untuk menyongsong malam hari dengan mimpi untuk menemukan bulan yang hilang di tanah lelulhur kami ini.

Mana mungkin aku bisa lupa untuk memberikan hormat pada tanah leluhurku. Apalagi sejak aku ke kota-- ladang jagung ayah sekarang diurus oleh adikku. Aku rindu bermesraan dengan angin di ladang jagung ayah. Mungkin kali ini angin akan cemburu padaku karena aku telah memiliki Ani—tentu aku akan bermesraan dengannya dan menikmati angin yang cemburu.

Dulu waktu masih menemani ayah ke ladang aku selalu membawa gitar yang  kubeli dari uang hasil menabung selama tiga tahun. Gitar ini sangat kusayang  karena selalu menemaniku bernyanyi mengikuti angin, memejamkan mata menikmati setiap hayal yang mengganggu kepala—walau itu hayal mengganggu tapi aku tidak merasa terganggu ketika bermain gitar di antara teduh suasana ladang. Bahkan, cericit burung bersahutan kala aku memetik senar.

Aku pernah membaca artikel tentang Kiayi Haji Dahlan mengenai agama. Katanya agama itu seperti kau memainkan musik. Ketika kita memainkan musik dan merasa tenang dari segala gangguan pikiran maka itulah agama. Sama halnya dengan bermain musik agama perlu belajar tidak bisa hanya dengan keyakinan dan keturunan orang tua. Itu kata kiayai haji Dahlan.

Memang benar katanya itu. Setelah mempelajari agama dan hatam barulah agama itu bisa menyejukkan dan mengalir dari setiap perbuatan kita. Sama halnya dengan bermain musik. Setelah kita mempelajari dan mengerti bagaimana alur nada itu mengalir-- barulah kita dapat menikmati alunan jemari kita bernyanyi melebur dengan pikiran dan keluh kesah kita.

Ternyata sudah dua jam pikiranku meracau dan aku tak sadar bahwa aku dan Ani tidak bicara selama itu. Aku menegurnya --takut dia tertidur karena pelukannya sudah tidak se erat tadi. Alhamdulilah dia tidak tertidur dia hanya sedang menikmati hujan yang memang sangat ia puja. Bahkan, kalau sedang di rumah dan hujan turun tengah malam—Ia tak pernah tidur—ia baru tertidur setelah aku paksa untuk minum obat tidur. Ya.. aku selalu menyetock obat tidur karena khawatir dengan kesehatannya jika hujan turun dua hari dua malam.

Inilah yang membuatku tak ragu  memilih perempuan untuk kunyanyikan tiap malam. Ani sangat memuja hujan. Ini suatu kelembutan yang jarang sekali terjadi. Jika sedang kemarau-- Ani bahkan membuat hujan buatan dengan cara memancurkan air ledeng di kamar mandi rumah kami. Dia tertawa terbahak-bahak—aku melihat wajahnya sangat riang ketika menyaksikan hujan yang ia buat. Aku merasa aneh sendiri kadang. Tapi, itu yang membuatku dapat menikmati hidup. Ya.. aku banyak belajar dari Ani, kini.

Setiap kali aku sedang merasa perih karena pekerjaan di kantor atau apapun—ketika aku pulang dan menatap mata Ani—aku melihat hujan. Aku merasa teduh. Dulu sewaktu belum ada Ani aku selalu menghilangkan kegundahan dengan bermain musik. Ya.. aku mengerti sekarang bahwasanya itu agama sama halnya juga dengan cinta.

*
Akhirnya aku menepi karena sudah merasa sangat gigil. Kami menepi di sebuah warung yang kelihatannya menjual minuman hangat. Aku pesan kopi dan  teh hangat. Kopi untukku dan teh hangat Ani. Ani menatapku. Lembut. Lagi-lagi aku melihat hujan di matanya. Aku teduh.

“Her, kamu dingin?
“ya, an”.
“sama.” , kata Ani mengejekku sambil tertawa terbahak-bahak. Aku bergumam, An An, lagi-lagi kau meneduhkanku. Saat-saat seperti ini dia mampu mengejekku. Apa dia tidak malu ya dengan pemilik warung dan derai hujan. Ah Ani, sebuah melodi yang absurd bagiku tapi selalu menggugah, kataku dalam hati sambil menghirup aroma kopi khas kampung.

Hujan yang sedikit reda mulai memberi harapan padaku untuk melanjutkan perjalanan yang tak lama lagi akan sampai. Udara segar selepas hujan deras membuat pikiran sedikit tenang. Aku tadahkan tangan pada gerimis dan kuusap ke wajah. Kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelum aku melajukan kendaraan ani berkata, her, kau sangat tampan dan menggoda bagi perempuan. Kau jangan seperti hujan ya.

2018

Biodata :
Muhammad Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Lulusan FTIK  Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.
Karya puisinya telah di muat media massa Lampung Post, Budaya Haluan, Majalah Simalaba, Flores Sastra dan dalam antologi bersama yaitu “Semalam Di Pesantren, Aku Pelajari Kemerdekaan, dan Jejak Cinta Di Bumi Raflesia.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie