Karya Sastra Prosa Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani
Mutiaraku
Kekasih mutiaraku melihat kupu-kupu dan capung jarum hinggap di batang-batang mungil. Dia yang paling kucinta memintaku menghentikan kereta yang sedang berjalan. Aku hanyalah awan dan kekasihku langit. Terkutuklah diri ini bila permintaannya kuanggap bagai luruh daun.
Segera aku meminta kepada juru kemudi untuk menghentikan perjalanan. Perwiraku lekas berlari untuk menolong rajanya menuruni tangga kendaraan. Dia yang begitu menyayangiku tak mau pujaannya terpeleset apalagi tersungkur. Bunuh dirilah perwira itu jika aku terkulai di pundak pohon besar karena kecerobohannya.
Kutuntun kekasihku yang cantik menuruni anak tangga kendaraan. Kulitnya adalah hujan yang menentramkan bunga. Alangkah aku bodoh jika kekasihku jatuh hingga kepalanya menumbur batu.
“Terima kasih kesayanganku karena engkau paling tahu apa yang dibutuhkan mawar,” katanya menatapku setelah mengecup tangan kanan kekasihnya ini.
“Tak mau aku kembali dipecundangi dua hewan yang kau inginkan,” kataku lalu memeluknya.
“Wahai rajaku, biar anak buahmu ini yang meraih impian ratumu, wahai kesatria paling mulia,” kata perwiraku sembari menundukkan kepala.
“Jangan. Itu sama saja membuatku bagai kulit jeruk di dalam lemari,” kataku sembari menepuk pundaknya.
Perlahan kudekati capung merah ungu dan kupu-kupu jingga perak keemasan yang diam di tangkai mungil. Mungkin pohon besar ribuan tahun yang amat rindang tahu betapa aku mencintai kekasihku yang perasaannya seperti tenang dan heningnya danau. Tak ada persembunyian paling gelap dari kupu-kupu dan capung jarum cantik itu sehingga aku dapat meletakkan kawanan hewan indah itu ke dalam kotak kaca berlubang.

Komentar
Posting Komentar