Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani

 


 

Untuk Muhammad Alfariezie                                 

Dari yang puput

 

Kau pernah berkata, “bila bintang-bintang di langit menjelma seribu kutukan untukku maka seketika engkau langsung memeluk dan menyelimuti serta memadamkan takutku.” Lalu, engkau pun mengungkapkan bahwa dewi paling suci adalah yang saat itu kau peluk cium. Kekasihku yang sejak subuh hingga gelap menyeluruh selalu kupuja, dengarlah bisik-bisik malam yang meredakan segala kegilaanmu. Itu adalah doa-doaku hanya untuku, itu adalah nyanyian-nyanyianku untukmu, pangeranku.

 

Gigilku semakin menjadi. Jantung bagai mendengar genderang perang. Bisa saja aku menjatuhkan tubuh ke dalam jurang paling curam yang dasarnya penuh batu-batu tajam lalu kepala atau dadaku belah. Apakah mungkin engkau akan memelukku jika di situ terpahat namamu? Lalu apakah mungkin engkau ke liangku lalu memelukku setelah aroma kasmaranku ialah wangimu, wahai lelaki paling tampan dan bijaksana.

 

Di sini, di tepi kegelisahan, di antara kebekuan, betapa tubuhku bergetar dan yang kupanggil hanya kamu, seluruh inderaku. Bukan dia. Aku telah menjauh darinya. Aku sadar dia bukanlah matahari yang ada pada gelapku dan dia bukanlah lilin yang menentramkan matiku, nanti dan dia bukanlah tanah yang akan menjadi tempatku ketika lelah benar-benar menyerangku.

 

Dari Muhammad Alfariezie

                                    Untuk yang Puput

 

Pelukku bukan lagi untukmu

Ciumku telah kuberi untuknya

Apakah kamu sadar akan hal itu?

 

Berhentilah menanti nol kali nol

Betapa aku tolol

Kembali padamu sama saja aku mati

Mati tertusuk ribuan tombak

Mati tertimbun jutaan pasir dan sampah

Mati terkulai sendiri

Terampas jantung serta hatiku

 

Sudah kudaki puncak paling tinggi

Sudah kutanya pada awan-awan

Sudah kuberteriak di ujung jurang paling curam

Tapi jejakmu tak kulihat

Jejakmu bagai pasir di dalam paha

 

Di mana kamu saat aku tersiksa di jalam yang tersayat ganasnya matahari?

Kamu menjelma sosok yang tak mampu kumengerti

Kamu seperti benang-benang

Tapi bukan mencipta kain untukku, melainkan nyaris menjerat kerongkonganku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnologi Bagi Anak

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani