Karya Sastra Muhammad ALfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani
Untuk Muhammad Alfariezie
Dari yang puput
Kau telah menyentuh merah muda yang amat kujaga. Kutahu pasti, kamu takan pernah melupakan manis sedang jambu air. Sejak bocah, buah itu selalu kusiram. Aku ingat kamu nyaris terjatuh ketika ingin mencicip asmara. Tapi, seperti pangeran dan ratu yang dipertemukan di tepi pantai. Sungguh, ketika ketiga kali kau ingin buah itu maka batang-batang cinta dan rindu seperti bersatu sehingga alangkah nikmat manisku di bibir hingga lidahmu lalu mengelupas kelaparan yang terletak di dalam perasaan.
Mengapa membiarkan aku sendiri di tepi jendela dan hanya menatap butir-butir rindu yang terbingkai? Apakah aku harus kecewa karena sang pangeran enggan kembali setelah menemukan kekasih baru di daerah jajahan? Benar-benar aku seperti batang-batang mungil yang tertiup angin. Kadang aku berayun ke bawah dan ke samping. Saat ini, barangkali akulah satu-satunya di dunia yang tak tahu harus ke mana menuju.
Dari Muhammad Alfariezie
Untuk yang puput
Hitamku, engkau terlalu pekat
Tak mungkin aku berjalan tanpa lilin, nyala api hingga lelampu
Bisa saja aku terjungkal
Aku tak lagi sebagaimana burung menebar benih di tanah-tanah lapang
Sakit hatiku, saat ini cintaku adalah warna mega dan bulan serta kerlip bintang
Bagaimana mungkin aku mencari-cari warna di ruang tanpa jendela dan pintu
Kepalaku terlalu lunak untuk menumbur kerasmu
Tanganku pasti patah jika meninju bentengmu
Lagi pula dulu aku seperti peminta-peminta yang amat lapar
Tapi di wajahku kamu melempar plastik berisi air kencing
Aku tak menangis meski kamu begitu bengis
Aku tetap berdiri meski tahu ditendang badai berduri
Bogem peremuk perasaanku, ketahuilah waktu telah membawamu padanya
Angin merestui aku dengan kekasihku
Peluk ciumlah cium peluknya
Saban malam itulah bunga-bunga ranjangku dan kekasihku
Komentar
Posting Komentar