Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani Bin Husin Syahri

 

Menuju Bulan dan Awan

 

        Kepeting, udang, kerang, kelapa hingga air jernih tak pernah nihil meski di ujung pulau tersunyi. Penyair tak pernah menulis puisi tanpa memikirkan perbedaan dan persamaan bunyi. Apatah lagi sesuatu di dalam kalbu paling murni. Neraka pun diciptakan sesuai nurani.

         

        Memangku tangan, mengunci lutut di sudut ruang penuh sawang dan tanpa teman tak membuat burung mencipta sarang. Hewan nan lincah tetap lompat kesana-kemari meski di dalam kandang sehingga yang memandang bagai melihat kerlap-kerlip bintang gemintang. Jadilah pemiliknya yang tampan tak pernah ragu memberi satu apel atau pisang. Warna-warni pun berkembang hingga daun-daun tak sekali-sekali gamang.

 

        Menuju bulan dan awan lebih payah dan susah dari melewati setapak berdebu, berkerikil dan di sisinya jurang berduri. Pun di sana tidak sama sekali terlihat ada ubi maupun sumur kecil. Di nun jauh di sana, sekadar menyentil lambung agar tak tertidur lebih pahit dari mengunyah mahoni  dan lebih gila daripada tirani.

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnologi Bagi Anak

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani