Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani
Untuk Muhammad Alfariezie
Dari yang terpuput
Sedang kupandang bintang gemintang. Kuingat-ingat jalan-jalan kita menuju taman impian. Sembari cekakak-cekikik betapa aku senang ketika kamu, sayangku, cintaku, secara tidak pernah kuduga memegang erat tanganku dan betapa hangat asmaramu membongkar relungku.
Aku seperti rumput-rumput hijau dan kamu adalah embun yang berkilau. Kita lukis hari-hari sehingga bayi-bayi tersenyum menyambut mentari yang menari di tangkai-tangkai yang suci.
Kilaumu awan yang menyelimutiku, kilaumu adalah warna yang mengajariku makna cinta yang bergita. Kenapa di antara bunga-bunga mekar itu kamu tidak kembali bernyanyi untukku? Bukankah kau tahu mataku tak pernah berhenti memandang dawai-dawai indah karena tulusmu dan bibir merah sedang yang menggugah pandangku itu sungguh adalah damai perasaanku, lalu, ketika engkau mengakhiri lagu-lagu mesra antara kau dan aku— seketika aku menyadari bahwa kado istimewa adalah perasaan yang menentramkan subuh hingga gelap menyeluruh.
Untuk Muhammad Alfariezie
Dari yang terpuput
Aku tahu. Aku paham. Tapi
Karenamu api di jiwaku berkobar
Takkan padam
Untukmu, wahai segala dendam yang bersarang
Sejumlah bintang
Hari-hariku gersang
Kau buang segala yang berkembang
Sekarang
Asmara kita hanya mayat-mayat kumbang
Atau serangkai pohon tumbang
Tiada lagi bunga-bunga, apatah lagi buah
Susah terlupa pisau dari tanganmu bagai lebah
Menyengat
Aku kau sengat
Payah batinku sembuh dari goyah
Kini kau ingin aku datang
Datang kepadamu untuk mengulang yang pernah terkenang
Jangan pernah bertanya apakah aku masih bernafsu
Jangan pernah menanyakan segala tentang yang selalu kumau
Bagai sungai yang kering kerontang itulah jawabku
Bagai gunung yang dikeruk itulah sakit hatiku

Komentar
Posting Komentar