Karya sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani
![]() |
| aisyah0107.wordpress.com |
Korespondensi
Untuk Muhammad Alfariezie
Dari yang terpuput
Kutulis surat ini ketika sunyi mengetuk-ngetuk jendelaku dan kutulis surat ini saat ritmis gerimis seperti mengalunkan melodi yang mencitrakan kasih sayangmu padaku, pangeran tampan yang tak mungkin kutemui lagi di dunia ini. Apakah engkau masih mencintaiku? Selalu membayangkan gontai jari-jemarimu yang mengusap keningku? Senantiasa mengingat kecup bibirmu di nafas manjaku? Sungguh betapa dulu aku bagai merpati yang menanti-nanti pujaan hati ketika engkau mengembara dan entah ke mana. Tapi betapa aku gembira ketika kamu menukik dari puncak paling tinggi dan tersepi hanya untuk menyentuh kekasihmu.
Datang sayang. Datanglah seperti dulu, saat aku gigil di tengah taman ketika hujan dan petir seperti awan dan langit, wahai kebahagianku, duhai payung pelangiku. Dia tak pernah memayungiku. Apatah lagi mengajak dan menceritakan tentang wangi-wangi surgawi.
Betapa jenuh. Saban minggu selama satu tahun hanya menonton telenovela dan film-film tragedi serta komedi yang tidak berkesinambungan.
Dari Muhammad Alfariezie
Untuk yang terpuput
Tak akan mau aku kembali kehilangan bahagia
Kekasihku adalah laut
Kekasihku ialah sungai
Kekasihku hutan dan ladang
Dia selalu memerlihatkan kecantikan padaku
Ketika lapar memanggil-manggil pasti ikan-ikannya ke jari-jemariku
Buah-buahnya mudah kupetik sehingga merah sampai jingga tak perlu kurisaukan
Pacarmu begitu membutuhkan maka kembalilah padanya
Pelukmu Pakaiannya
Payungnya
Selimutnya
Tanpamu dia pingsan
Betapa jumawa terik siang baginya
Takan mampu ia melawan
Dia pasti tenggelam di lingkaran gelap
Atau hidup
Tapi tidak memakai sehelai benang
Bukankah katamu, benang-benangku tak mampu membuat layang-layangmu lebih tinggi
Dan dia datang
Aku kau tendang
Terulur dan terurus
Tinggi hingga aku kehilangan jejakmu
Untuk Muhammad Alfariezie
Dari yang terpuput
Kau telah menyentuh merah muda yang amat kujaga. Kutahu pasti, kamu takan pernah melupakan rasa dari manis sedang jambu air. sejak bocah buah itu selalu kusiram. Aku masih ingat bagaimana nyaris kamu terjatuh ketika ingin mencicip dan menghilangkan dahaga asmara. Tapi, seperti pangeran dan ratu yang dipertemukan di tepi pantai. Sungguh ketika ketiga kali kau ingin buah itu maka batang-batang cinta dan rindu kita seperti bersatu sehingga betapa nikmat manisku di bibir hingga lidahmu lalu mengelupas kelaparan yang terletak di dalam perasaan.
Mengapa kamj membiarkan aku sendiri di tepi jendela dan hanya menatap butir-butir rindu yang terbingkai? Apakah aku harus kecewa karena sang pangeran enggan kembali setelah menemukan kekasih baru di daerah jajahan? Benar-benar aku seperti batang-batang mungil yang tertiup angin. Kadang aku berayun ke bawah dan ke samping. Saat ini, barangkali akulah satu-satunya di dunia yang tak tahu harus ke mana menuju.
yang terpuput menunggu balasan

Komentar
Posting Komentar