Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Sedetik Pun Tak Seperti ritmis gerimis dini hari, engkau Jernih, selalu Punya cara membuatku berdiri, kekasihku Tutur katamu ialah puisi, sungguh Aku ingin selalu mendengar, karena barangkali Badai paling ngeri, atau Api paling emosi datang-- Melumat kita di sini 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Kamu Seperti daun Tumbuh karena tubuh mentari, kekasih Sehari tak memelukmu adalah layu; Laguku, puisiku, prosaku hingga pandangku Seperti berjalan di tengah lumpur, dan tidurku Bagai di jutaan jarum, juitaku Engkau kata-kata Membuatku senantiasa bicara, dan kamu Perempuan yang membangun taman mimpiku 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Wangi Rindu Barangkali rindu seperti kupu-kupu atau capung jarum di dalam cangkang embun, sehingga Untuk melihat wajahmu, aku Seperti berlari di atas arang dan duri yang terbakar, apalagi Memelukmu, hingga bersandar dan berbicara empat mata perihal bulan, kekasihku Di malam gigil aku ngilu menahan ulu hati yang lapar dan dahaga, sungguh Kumau jari-jemarimu menuangkan kemesraan, hingga Jari-jemarimu Menusuk hitam dan gatal perasaanku, juitaku Aku bernyanyi agar bintang memberi sinarnya kepadamu, dan aku Memetik bunga, supaya Wanginya selalu untukmu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Tiga Hal Darimu Siang dan malam pohon awan seperti mega, Seperti bulan dan matahari Reranting hujannya bagai jari-jemari, maka Arah sungai tanpa belukar alang-alang, Penghilang nyeri gigit taring hari, sungguh Aku selalu berteduh, kekasihku Kau-- aku tahu Napasmu, ucapmu, gerakmu Hanya aku, hingga yang kupandang Kompas nelayan 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Asmara Sehelai bunga gugur dan air jatuh dari pucuk daun, lalu Tanah seperti bunga yang dihinggapi kupu-kupu, dan seperti itulah Ketika tutur kataku padamu bagai penyair puitis di abad romantis Perasaanmu bening Menjadi tempat ikan-ikan, gincu, hingga teratai, kekasihku Aku menguning untukmu, mengalir karenamu, dan kamu Menengadah demiku, dan tumbuh bersamaku 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Gradasi Davinci Menjelang siang rebah di kelopak samudera Aku melihat perempuan Di tangannya seikat kembang Wajahnya seperti sungai          Membuatku ingin berenang Menjelang awan membuka tirai samudera Ia becermin di permukaan maha bening, sungguh Bagai gunung dan awan dari kejauhan Dia gradasi terbaik seperti imaji davinci 2020 https://youtu.be/m6LuiezVUJg

Puisi Muhammad Alfariezie

Kamu Bunga cahaya bersemi di pohon siang Cengkerik bernyanyi di antara rerumput, Pohon rindang--  lalu Seperti terik siang yang tiba-tiba terkapar Gontai gerak jari-jemari menepuk pundak hutan, kekasihku Saban pagi dan malam adalah wajahmu yang selalu kunyanyikan, Ialah embun pucuk mawarmu, juitaku-- kamu Napas yang menyalakan lelampu, Ialah hari sehingga terbit nurani 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Bunga Malam Secangkir kopi dan dua lapis roti Tanpamu meja ini hanya debu dan pagi Aku hanya berdiri memandang mentari Lalu semakin bagai batu Dedaunku tak berayun, Bungaku layu, Dan siang malamku berbulu, kekasihku Kamu barangkali penyebabku tak pernah yatim piatu Sungguh setiap kali kau menemaniku bernyanyi, pasti Seperti kudengar ibu mengaji, kemudian Ketika kau mengantarku bermimpi, betapa Seperti kupeluk tubuh bapakku-- Kau, sayangku Adalah bunga yang tumbuh di kedalaman bulan 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Kamu Bagai rel yang sempit dan memantulkan cahaya matahari Gontai perjalanan ini kulalui Bagai kupu-kupu Mengepak lalu hinggap di mahkota bunga, lalu Kembali berdansa bersama beberapa teman dan sahabat, kemudian Tenang seperti danau Kuperhatikan lalulalang, Kereta yang gerbongnya berjejal sumber daya, Hingga Kupandangi yang termangu, bercanda, dan Baru saja mendapat peluk dan kecup Sunggu sayangku Adalah kamu tujuanku, maka Kulewati lorong-lorong hitam, Kumasuki ribuan bintang, walau kadang usus menggedor, Meski tajam busur siang hingga ke pikiran, kamu Satu-satunya rumah Tempatku kembali 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Gelapmu Ketika mimpiku adalah memetik bunga merah nan wangi nihil duri Lekas kuhampiri cermin kemudian memandang fotomu, dan Saat hujan tapi aku sendiri berteduh, maka Nyanyian rindumu yang selalu kudengar, kekasihku Kamu memelukku ketika gigil pendakian menyerangku, Kau tuangkan jernih air sungai, sungguh gelap Kau bulan atau relung samudera Aku bagai kabut bara kuda 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Aku Berlayar Tidak Mencari Sunyi Ketika kupu-kupu di jendelamu Aku sedang bernyanyi sembari mengingat kau memelukku Kekasihku Sungguh meski hujan dan terik Aku selalu berjalan meski temanku sekedar besi halte yang berkarat, Burung-burung dan pepohon Aku mau kau selalu mengenakan gaun putih dan biru Aku tak ingin susu menjadi mutiara bagi anakku dan anakmu Aku sudah menernak, menenun, menanam jutaan benih Kau tahu sendiri bagaimana tanah halaman kita 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Relung Desa Dedaun berayun menyentuh jari-jemariku Gemercik berbisik seperti kakek kepada cucunya Para bocah di balik air jernih Bagai burung Terbang di reranting memandang bening cahaya embun Relung desa begitu hijau Pepohon rindang, rerumput menjalar Menggelitik perasaan, aku Tumbuh Akan seperti lebat pepohon jambu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Segela Pernah Tergenggam Apakah kamu mengerti pabila sendiri adalah sunyi? Sayang kau tak pernah memahami  bahwa kita bunga dan kembang. Nanti setelah kamu paham bahwa aku mencintaimu dan kamu menyangiku adalah mimpi dan kenyataan, pasti kamu kembali. Tapi entah dalam pelukanku atau justru bagai secangkir kopi tanpa seseorang memiliki. 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Pemilik Embun Ritmis gerimis dan daun-daun segar seperti nyanyian pagi Inspirasi puisi-- sungguh  nurani Bagai bersuci di genangan nan jernih Menendang benci dan dengki Kau, kekasihku Pemilik embun dan bunga-bunga mejikuhibiniu Setiap nafas yang kau embus Adalah bening di selah rerimbun pepohon 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Metafor Bagai metafor puisi  penyair nan mahsyur sepasang daun gontai mengisi kolam Memberi kabar kepada ikan-ikan bahwa siang yang teduh merupakan prasasti di abad ini, Memberi objek kepada pelukis amatir dan videographer, Memberi tenang perasaan yang pernah pisau bersarang di sana Seperti hujan dan dedaun berayun; embun merah kekuning-kuningan Mengisi hari agar ladang tumbuh kembang, Memberi warna agar hijau tak merata, Menebar sejuk hingga kamu tak berpeluh melulu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Meski Jauh Embun batang mungil masih merah kekuning-kuningan, tapi udin Ia berjalan tanpa sandal meski deduri hingga reranting menjadi pijakannya Baginya jika hanya memandang sepi  adalah kopi merkuri, maka Meski boat lusuh, sandal piatu dan pakaian debu Tapi ikan di kolam lumut ialah hidup anak istrinya Jauh ia mendaki Melewati lalulalang lebah, nyamuk hingga tanduk Sungguh jurang pendakian-- tapi Senyumnya bagai rona mawar Akar pohonnya 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Antara Sisik Debu & Bunga Merah Dedaun hijau muda berayun burung singgah di reranting mungil Gemericik dan desir seperti bernyanyi Jatuh ribuan liter air basahi dinding hijau Gontai kupu-kupu menangkap kasih di tubuh bunga merah Kekasihku, jika kota adalah lelampu dan gedung-gedung Aku di sini-- tempat segala buah-buah berembun Ikan-ikan berenang dan madu jumlahnya bagai rerumput Hingga kutanggkap rembulan sedangkan yang kau genggam bagai sisik debu di bibir gurita 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Rinduku Padamu Sebagaimana Laut & Gunung Luruh daun seperti gontai ketika kita susur pantai Di sini, di pinggir kolam yang keruh, di naungan rindang pepohon Barangkali jari-jemariku akan selalu memungut ampas tanaman, dan Menimba air sembari tersenyum  dengan dinding sumur karena gema candamu Reranting mungil berkali-kali berayun dan aku paham angin selalun membawa kabar cantik Seperti misalnya gadis langsat cina yang tiap pagi menjemur pakaian Tapi sebagaimana laut dan gunung, kekasihku Rinduku luas dan tinggi hanya kepadamu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Surat Debu Fajar mengembang ketika suratmu kubaca; Surat pernyataan tentang umang-umang yang benci  kelapa Tapi seperti biasa Secangkir kopi dan roti kunikmati, lalu Jazz dan blues kunyanyikan sebelum akhirnya pergi ke ruang sunyi; Ruang yang sampai hari ini memberiku inspirasi menulis puisi, dan Di sini aku pun merangkai do re mi; Nada klasik yang selalu kumainkan, lagu sepi Yang setiap malam memaling pelukku kepadamu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Bernafas             Li Wenliang Seperti pagi memberi kabar tentang mentari Serupa kembang-kembang hijau Duri merah kulihat karena putikmu—dan kini Kau abu Setelah merawat, menjaga dan menutrisi Sebagaimana bunga—wangi Kamu udara Membawa aroma ke setiap jendela; Harum kayu putih Bernafas, kau ingin ribuan kaki kembali Menanam benih Jernih seperti melodi, gemercik dan nurani Engkau sungai— mengalir Sejuk— Semoga     nanti-- Kota yang menyimpanmu 07 / 02

Puisi Muhammad Alfariezie

Sekedar Debu Kemarin bayi mentari tersenyum di tengah kota Bagai kupu-kupu Sinarnya gontai menyinari yang termangu di emper pertokoan; Mencoba membunuh sepi, dengki dan benci semalam Hari ini  ibu hujan marah Bagai perang, dentum Bak memaki mereka yang malas kokang senjata Padahal musuh hanya kedipan mata, tapi Malang ini negeri Peluru dan kasih sekedar debu Orang-orang tetap menunggu, meski sesak Menggenggam sembilu 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Di Bawah Megah Bayang Pencuri Siang seperti mengirim bala tentara dan memaki-makinya-- lelaki Pribumi Kerap mengunyah ranting meminum sungai industri; Coklat, lendir, penuh sisa kapuk Ribuan pejabat, pemilik vila dan pulau serta  fortuner dan jet pribadi, kemudian artis cantik-- ah Ia hanya abu-- Bagai semut, merayap-- bak ulat, melata Asma-- berjalan Baleho, poster, iklan tiga dimensi Ia menunduk di bawah megah bayang pencuri Ia mendongak di antara selebriti penjudi Tanah, laut, gunung adalah satu untuknya; Haus dan lapar walau hujan atau pun kemarau-- lalu perang, pemilu, dan penyuluhan merupakan 2 ; Gerhana matahari dan bulan Jenderal telah berperang Belanda pergi, PKI mati Partai-partai muda berdiri, bahkan PDI Perjuangan Wong cilik           Duduk di tahta paling tinggi Dasar bambu Berkumpul menyimpan ular Bisa menjalar Lumpuh kemakmuran Mati kemerdekaan Kubur bangsawan 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Jika Kau Kuantar Pulang Seperti guci antik di antara bunga dalam ruang tamu rumah mewah Warna rambutnya bak langit menjelang malam Wajahnya serupa pevita, tubuhnya mulan Dirinya di antara lelampu menjemput perasaan Dulu di tepi kolam sering aku dan dirinya mengayunkan kaki di antara ikan-ikan Kami selalu bicara perihal asmara Ia gemas menyubitku Aku malu-malu memeluknya Jika  kuantar ia pulang mungkin esok kami mendapat gunung dan ladang Ayahnya, ibunya pasti mendapat laut Aku dan ia akan  menanam pohon bulan Menebar benih pagi, petang dan malam 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Rindu Selalu saja ada rindu  ketika aku memasuki kota baru. Meski betapa haru tapi  rindu ini tidak hanya aku yang memiliki. Kuyakin ada beberapa orang yang sama sepertiku. Seperti saat kupandangi kakek yang memandang bayang di bawah rindang pepohonan. Jari-jemarinya tak henti-henti mengelus rambut halus kucing hitam putih yang begitu cantik bagai fauna sexy di kaki pantai yang bening. Rindu yang tak tahu kemana akan berlabuh ini mungkin metafora yang membuat puisi bagaikan dewa. Aku tak mau hilang ingatan. Biarlah hitam menjadi tendang bagi siangku yang malang dan bagi malamku yang lebam. Jalan panjang yang akan kulalui akan lebih ramai jika bayang-bayang tak pernah padam. Lagi pula aku yakin siapa pun yang sedang kurindu sama perasaannya sebagaimana yang menggelitikku. 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Pagi Pagi selalu berlari Padahal puisi-puisiku masih seperti meja tanpa teh atau kopi Padahal kekasihku ingin sekali membaca bayi mentari Namun embun selalu pergi Sepi dan rindu menumbuk ulu hati Tapi esok pasti kembali Aku tak boleh melulu bersedih Aku harus mencari Supaya cinta kupeluk lagi 2019