Puisi Muhammad Alfariezie
Sungai
Cinta yang Jernih Mengalir
Rintik gerimis mengalir di dedaun pekarangan rumah kita
Betapa
segar hijau berkilau bebulir air bermain di tetangkai mungil
Bunga-bunga merah seperti payung bagi hewan-hewan lunik,
dan
Anak-anak yang biasa menjual koran pun datang kemari
Mereka mainkan
gitar yang dulu kau beli untukku,
Mereka bunyikan
tamborin yang selalu kau mainkan, dan aku
Betapa bahagia menikmati kopi dan kue bersama mereka
Senyumku
tak henti-henti mengembang melihat polos tingkah mereka
Kekasihku, setelah kepergian ibu dan bapakku
Di teras rumah ini yang kupandang hanya ilalang
Faunanya banyak yang melata dan haram bagi perasaanku sebab
Aromanya membuat selera makan mengendur, juitaku
Parit rumah ini pun dulu coklat, marmer berdebu
Aku benar-benar
sendiri dalam kelumpuhan akan keindahan
Tak pernah tawaku
muncul di sini
Untuk menghibur diri aku harus rela ke suatu tempat,
untuk menyelesaikan pekerjaan
Aku harus menyewa kamar hotel bintang lima—kau bisa
bayangkan
Begitu banyak yang kukeluarkan untuk bisa menghasilkan
sesuatu yang bernilai
Kau anak petani berpelangi, cintaku
Jari-jarimu senantiasa mewarnai ceruk penglihatanku yang
begitu ngeri waktu itu
Saat pertama kali kita saling genggam di pesta
pernikahan sederhana
Beruntung aku pernah tersasar ketika ingin melepas hitam yang selalu menghantui
Sungguh ayahmu baik sekali
Sungguh ayahmu baik sekali
Ia begitu tulus merangkulku yang untuk berdiri pun lemas,
lalu
Ia mengantarku ke sebuah sungai beraliran jernih—di sana
Pucat pasiku dilelapkan hingga kanyut
Cantikku, tidaklah mungkin keputusanku salah
Segala yang kupunya, jerih payahku,
Impianku untuk membeli sebuah pulau dan kota,
Segala yang kusenangi adalah milikmu, ialah
Warisan yang akan kau terima, bidadariku
Wajahmu lebih cantik dari pevita, tubuhmu juga
Lebih anggun dari istrinya eross candra, dan kau
Lebih mulia dari putri raja, Engkau
Adalah yang kupunya
2020
Komentar
Posting Komentar