Puisi Muhammad Alfariezie


Seluas Lautan

Bersamamu, kekasih
Betapa indah gunung-gunung dan lautan  yang hijau dan biru
Aku tak lagi mencaci para dewa dan dewi, dan tuhan
Ialah yang paling baik, juitaku
Engkau mengajariku menimang rindu, membesarkan cinta
Dan merawat kasih dan sayang

Kau ratu yang pantas kuberi kota,
Perempuan yang akan memberi inspirasi bagi anak-anakku memenangkan perang
Kecantikan yang memakmurkan seribu pulau
Tak satupun kubiarkan manusia dan hewan menggores tubuh dan perasaanmu

Di dermaga itu aku ingat betul bagaimana kau memelukku
Kau bisikkan padaku bahwa hujan tak selalu datang dengan gerombolan penabuh guntur
Seketika mendung dan hujan mengetuk kalbuku
Kau lari menuju pantai dan aku mengejar

Di atas pasir putih nan halus saat jarak kita seujung kuku
Aku mengerti bahwa kebahagiaan tak selalu tentang perburuan
Sentuhan dan pandangan
Ternyata seperti pemburu yang melumpuhkan objeknya
Dan rasa senang bisa tiba di bawah guyuran—lalu
Gigil dan gemertak mudah hilang

Cukup air hangat dan selimut kain, ah
Betapa kuah ketulusanmu, bidadariku
Kau sulap kentang dan dedaun menjadi pelebur alarm lambung
Aku pun mengerti bahwa daging, ayam atau ikan
Bukanlah satu-satunya makanan paling nikmat

Kegemaranmu sungguh kusuka
Kau tak pernah berubah
Kain sutra bukanlah alasan untuk berhenti menanam dan menyiram
Kudengar ahli kebun selalu menyebutmu ratu peri
Bahkan mereka sempat malu

Kamu selalu datang lebih awal
Tapi senyummu dan bahasa perhatianmu
Sungguh si pandai bunga yang selalu datang setelah embun menghilang
Kini saat fajar mengembang sudah mandi dan mengenakan pakaian serba rapih

Cintamu laut
Selalu memberi ke tiap yang datang
Aku adalah karang
Sangat beruntung karena kebaikanmu

Andai dulu kuturuti permaisuri
Mungkin istriku akan menghancurkan kota
Aku selalu ia suruh untuk berperang
Dan tentaraku pasti selalu mengasah pedang sedangkan keluarga mereka
Ah kutak tahu harus berbuat apa
Mungkin saja aku akan menggali lubang
Mengubur segala kenangan

Sungguh kutahu betul bagaimana anak laksamana
Di suatu pesta setelah ayahnya memenangkan pertempuran
Di hadapanku ia tenggak segelas minuman
            Yang haram bagiku
Sempoyongan ia berjalan—sayang
Ibuku tak tahu soal ini
Yang ia tahu kau hanya anak kapten, sedangkan dia
Lahir dari rahim istri calon perdana menteri, kekasihku

Telah kau isi relungku dan bayang ini selalu tentang hal-hal menenangkan
Seperti peristiwa sepasang angsa yang berjalan di sisi danau,
Bunga-bunga yang selalu bercerita tentang roman pangeran dan ratu, juitaku
Memandangmu aku paham
Cinta adalah pelangi
Untuk melihatnya aku harus menunggu,
Untuk memandang itu kuharus menempuh pendakian ke tempat-tempat maha sunyi
Begitu berat aku menghalang keinginan permaisuri
Ratusan hari aku membujuknya agar merestui hubungan ini,
Milyaran lagu kunyanyikan agar ia mau memeluk kau, sayangku

Aku takut di suatu hari nanti kita tak lagi memandang hamparan padi,
Menatap burung-burung  menebar benih, serta mendengar ritmis gerimis yang mengesankan
Aku juga takut kalau-kalau di suatu hari nanti air matamu jatuh, karena
Kutak bisa mendamaikan rakyat sebagaimana janjiku padamu

2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie