Puisi Muhammad Alfariezie
Dongeng
Asmara berkembang di pepohon bulan
Meneduhkan
perasaan yang memandang
Tapi jutaan tangan yang ingin memetiknya tak pernah
sampai
Mereka hanya
melompat-lompat
Tanpa pernah membuat tangga atau pun penyanggah
Lelah yang sangat mengakar di tubuh dan pikiran mereka
Satu sama
lain berkelahi
Tak perduli perempuan atau lelaki
Mati dan semua tergeletak
Rumah-rumah sepi dan anak-anak
Melongok tak tahu malu dalam
hatinya
Mengutuk
si penanam benih yang tidak mereka kenal
Padahal lingkungan itu berarus jernih,
Berjejer bambu di sisinya
Sejak zaman nenek moyang
Mereka hanya memakan daun-daun yang menjalar, dan
Akar-akar talas atau pun ubi, dan ketika ada seseorang
yang pandai mencipta perahu,
Membuat bumbu, senjata
Hingga menanam benih cinta—justru mereka cekik
Kata mereka
ini orang akan merebut takhta
Padahal ia tulus mengajarkan,
Ia tak pernah meminta balasan—sebagai musafir
Ia hanya meminta izin untuk tinggal, dan
Menanam mejikuhibiniu dari desanya
Sebagai bekal hidupnya
Ia pun berharap
Jika tumbuh
Kesegaran, kesederhanaan warna, dan manis sedangnya
Seluruh masyarakat
senang dan bahagia atas pelanginya
2020
Biodata :
Muhammad
Alfariezie, lahir di Bandar Lampung, 19 November 1994, Lulusan FTIK Universitas Teknokrat Indonesia. Saat ini aktif
di UKM Teater Sastra TERAS. Selain itu ia juga ikut berproses di Lamban Sastra
Isbedy Stiawan ZS.
Karya puisinya
telah di muat media massa Lampung Post, Budaya Haluan, Majalah Simalaba,
Flores Sastra dan dalam antologi bersama yaitu “Semalam Di Pesantren, Aku
Pelajari Kemerdekaan, dan Jejak Cinta Di Bumi Raflesia. Buku tunggal yang
berjudul PROSA, telah terbit dan dapat di beli di Toko Pedia. Bukalapak. Shope
dan Guepedia”
Pernah diundang ke acara Festival Sastra Asia Tenggara
Yang bertema jejak Cinta di Bumi Raflesia, yang diadakan di Bengkulu. Pernah
diundang pada acara Festival Asia Tenggara yang bertema Hang Tuah, yang
diadakan di Gunung Bintan. Pernah diundang dalam acara sastra internasional
tegal mas poetry island.
Komentar
Posting Komentar