Puisi Muhammad Alfariezie


 
Foto di Suoh - Panas Bumi Indonesia

Kasidah Rindu

Bebulir di tubuh dedaun yang menari membuatku berpikir tentangmu
            Keindahan dari jernihnya sungai-sungai nan menenangkan
Gersang perasaan senantiasa hilang, aroma yang tak mengasyikan selalu mati
            Kau—sungguh
Jika menengok ke sini maka kamu seperti mentari yang membelah pekatnya lautan, dan
Pabila bernyanyi
Engkaulah yang pasti mahsyur hingga bunga-bunga layu kembali tumbuh

Aku pernah singgah ke suatu pulau. Di sana
Aku bertemu seorang anak kecil. Ia begitu rindu.
Kangen yang tak bertepi,
 Ungkapan karena tidak ada jari-jemari sepertimu
            Mampu membuat ikan-ikan berdatangan dan memberi kasihnya                   lalu
Waktu aku mendaki dan tersasar. Sungguh kusebut-sebut namamu, kemudian
Hadir sinar dari celah-celah putih nan suci yang menembus rimbun pepohon rindang—
Seketika kawan-kawan datang dan langsung memeluk

Aku masih ingat betul sejarah itu
Kau tak pernah lupa memberiku penglihatan yang tenang—seperti
Lukisan danau di bawah rintik hujan dan sepasang angsa di kebun rembang—dan aku
Satu dua dan tiga menolongmu ketika ingin madu

Tidak hanyaku yang ingin kau ke mari
            Kembali membantu merawat negeri
            Menemani orang tua menanam benih—dan waktu itu
Saat aku melempar kekata bulan samudera kelam      kepadamu
            Sungguh, kutak bermaksud membuat air matamu jatuh,
Kamu tau aku—sejak kecil kita selalu
            Lari-larian di tepi pantai
            Mencari sesuatu hingga luka dan  nyaris tenggelam
            Saling melempar canda dan kadang bertengkar, dan kau paham
Aku bukanlah  si  pandai menyaring kekata, dan suaraku
Lebih cepat dari perasaan ini

Kau adalah yang kutunggu, dan ombak, karang, rerumput, biru, pulau, gunung,
Pasir putih, gubuk—ah kekasih
Saban malam kudengar mereka berkidung untukmu


2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie