Sepentil Kisah dari Muhammad Alfariezie

 

Basar Menjual Mobil Turun Mesin

 

 

Basar tidak terpaksa menjual mobil satu-satunya walau seharga motor bebek yang bodinya pecah-pecah dan lecet sana lecet sini serta tak memiliki surat kendaraan. Mobilnya memang turun mesin karena bertahun-tahun olinya tidak pernah diperiksa, apalagi diganti atau ditambah. Krek. Teketek-ketek. Cukuta kutak. Itu adalah suara dari mesin mobilnya waktu itu ketika mati mendadak. Padahal, belum sempat sampai tujuan.

 

Basar bukan tak mau membelikan mobilnya oli atau sekadar mengecek kondisi mesin mobilnya. Hanya saja, Basar terlalu mencintai istrnya dan dia bukan tipe orang yang terlalu banyak berhitung jika demi memenuhi kehidupan rumah tangga dan kecantikan sang istri yang juga dipersembahkan untuknya—

untuknya yang seorang lelaki besar tinggi dan gagah berani serta selalu ke sana ke mari untuk mencari rezeki.

 

 

“Papah tidak merasa rugi karena menjual mobil kesayangan dan satu-satunya itu? Apalagi harganya tak sebanding ketika awal membeli. Masak, jual mobil kayak menjual rongsokan saja. Papah sih, papah tidak pernah menyisihkan uang untuk mengecek dan membeli onderdil mobil,” ujar istrinya yang sedang menemani Basar menghitung uang.

 

“Ini uang hasil penjualan mobil, mah. Kuberi untukmu semua, duhai bulan purnama yang selalu sedap jika terpandang,” ujar Basar sembari memberikan uang.

 

“Lagi pula mobil itu menyusahkanku, mah. Aku harus mengumpulkan uang untuk membeli ban, oli hingga baut yang terkecil. Belum lagi, jika ada kerusakan mesin," ujar Basar sembari tersenyum lalu menggenggam tangan kanan istrinya. 

 

 Lagian mobil itu sudah sepuluh tahun membantu papah. Sekarang, barang itu sudah tidak bisa lagi membantu papah. Lebih baik dijual saja kepada orang yang bisa memperbaiki barang itu. Kan, hasilnya bisa buat tabungan kesehatan keluarga,” tambahnya.

 

“Aku merasa diri ini adalah wanita paling beruntung karena memiliki suami seperti papah. O iya, papah mau minum susu, telur dan madu enggak? Atau mau kopi jahe saja? mamah bikinin sekarang ya? Tadi, mamah udah beli sprei terbaru yang asyik lho. Parfum ruangan juga udah tersedia, pah,” jawab istrinya.

 

“I love you, mamah,” balas Basar

 

 

Perlahan-lahan gerimis menjadi hujan. Cinta Basar dan Aneisha sampai ke awan-awan. Seperti air di siang terik. Benih-benih asmara di antara mereka menjadi energi bagi yang suci untuk menebar kesejukkan.

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie