Prosa Muhammad Alfariezie
Ibu dan Kekasihku Tidak Nyaman Mendengar Situasi Perang
Benar-benar aku tak mengerti dengan maksudnya. Tapi, daripada aku pusing sendiri maka lebih baik kembali menemui kedua orang yang kusayang. Barangkali, pikiranku akan lebih tenang sehingga tiap keputasan akan berdampak positif bagi negeri ini.
Kedua orang yang kusayang sedang memberi makan ikan-ikan di dalam kolam. Apa yang aku rasakan ternyata dirasakan juga. Ibu dan kekasihku tidak nyaman mendengar situasi perang. Memberi makan ikan-ikan adalah hal yang selalu ibu lakukan untuk menghindar dari perasaan yang kacau.
Wajah mereka hanya sedikit tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tahu kalau pikiran mereka tidak baik-baik saja. Pastilah kemerdekaan rakyat dan istana ini adalah yang mereka pikirkan. Tapi, aku tak mau kedua orang yang kusayang menjadi sakit atau lain hal.
“Ibu dan kekasihku. Kenapakah sinar di wajah kalian nampak berkurang? Padahal, aku ingin sekali melihat cahaya di wajah orang yang amat kusayang, aku ingin memenangkan segala pertempuran,” ujarku sembari mencium jari-jemari ibu lalu kekasihku.
“Bagaimana perkembangan persiapan perang, anakku?” Tanya ibu kepadaku.
“Ini bukanlah perang pertama bagiku, ibu. Lagi pula, aku memiliki kalian dan aku memiliki panglima dan panglima memiliki para jenderal dan para jenderal memiliki perwira-perwira. Selain itu, kita memiliki saudara-saudara yang siap membantu,” ujarku menenangkan ibu.
Kekasihku beranjak dari sisi ibu. Dia memelukku lalu merangkul hebat lenganku. “Kekasihku, lindungilah diriku yang lemah ini,” ujarnya.
Sekejap kulihat ibu tersenyum menyaksikan adegan itu. Barangkali dia teringat satu kisah puitik atau mengenang masa silam bersama ayahku.
Menerima peluk sang istri dan melihat senyum ibu yang merestui, sungguh aku kembali bersemangat untuk menerima laporan pada siang ini. Aku merasa menjadi orang yang paling dibutuhkan. Untuk itu, aku tak boleh lemah. Sebab, yang dibutuhkan mereka saat ini adalah Aku.
Komentar
Posting Komentar