Puisi-puisi Muhammad Alfariezie
Mengapa hanya Mimpi Sinarmu Abadi
Terlihat daun layu berserak di depan pintu
Nampak bunga-bunga mati di luar jendela
Hujan dan mentari yang ngambek atau bermain petak umpet
Mengapa dalam mimpi sinarmu abadi
Harapan ini di air coklat jalanan sisa hujan
Lima sungai menjelma gurun pasir
Hanya kuning bagai lalat-lalat pembuat kesal
Dan bagai bocah kepada orang yang dianggap gila
Terdengar desir dari rumpun ilalang saat berjalan
Dan aroma ayam panggang terendus ketika berhayal
Kemanjaan yang dijanjikan dan ketentraman yang diumbar-umbar
Perlukah tumbal supaya tanah menurtisi akar?
Kemiling, Bandarlampung 2 Desember 2020
Dari Judul Film Warkop DKI
Lampu-lampu merah telah menjadi tempat mencari rezeki
Bagi beberapa orang. Dasar setan kredit,
kata judul film warkop DKI. Tragedi dan komedi
Bersemedi di merah, kuning, hijau
Dalam naungan NKRI.
Kemiling, Bandarlampung 2 Desember 2020
Petani yang Takkan Membuatmu Menangis
Manjaku yang manis manggis,
Aku petani takkan membuatmu menangis
Sedangkan dia tengkulak yang pasti menjadikanmu miris
Sungguh buahku yang putih
Tubuh ini pasti bekerja agar pohonmu tak punah
Sedangkan dia memikirkan untung semata
Dia itu hantu karbit pengrusak harga cengkeh, kopi, lada dan singkong
Sedangkan aku
Sungguh bukan buaya yang mudah tergiur iming-iming kancil
Manjaku yang manis manggis,
Kalaulah aku mengasah pisau
Benar-benar bukan untuk menyakiti batangmu, melainkan
Melawan pengganggu di sekitarmu, yaitu
Rumput-rumput gatal yang bisa jadi berular
Wahai, manjaku yang manis manggis,
Mimpiku cuma satu, yaitu
Anak-anakku merawat kebun ini
Kebun rimbun karena cintaku padamu
Duhai, manjaku yang manis manggis
Kemiling, Bandarlampung 2 Desember 2020
Komentar
Posting Komentar