Sepentil Kisah dari Muhammad Alfariezie

 

Jemu Masuk Lubang Yang Bau

 

Seorang tua yang kesepian hanya menatap Ponsel pintar sembari mengembuskan asap rokoknya yang mungkin juga jemu masuk mulut dan hidung lalu keluar dari lubang yang sama baunya. Seorang tua itu bernama Zaquan. Dia dulu memiliki murid-murid dan ada satu yang paling setia. Namanya Roman Leo.

 

Dia seorang pemuda tampan, cerdas, berani dan penggerak segala lini kebutuhan sang guru. Namun, Roman Leo pun pergi meninggalkan Zaquan setelah bertahun-tahun mencoba bertahan dan mencoba untuk menutup telinga jika mantan murid-murid zaquan membicarakan perihal merajalelanya korupsi yang dilakukan seorang tua yang saban hari ke sana-kemari untuk mendapat proyek demi kehidupan pribadi. Selain itu, banyak juga mantan murid-murid zaquan membicaran tentang pemanfaatan si tua yang sok hebat itu terhadap orang-orang yang ingin belajar dengannya.

 

“Guru, saya butuh uang untuk biaya rumah sakit tetangga yang tak bisa berdiri dan makan karena sakit paru-paru yang lama diderita. Dia perlu biaya untuk membeli obat, baik herbal maupun modern,” kata Roman Leo suatu hari setelah zaquan mendapat bantuan dana 20 juta dari berbagai orang dan instansi pemerintahan.

 

“Ini lima puluh ribu. Dua puluh ribu untuk kau beli kopi dan rokok. Sisanya silahkan kau beri kepada tetanggamu itu. Aku perlu bayar listrik, kreditan ini itu dan sekolah keluarga dan lain hal segala yang kumiliki,” kata zaquan lalu pergi kemudian duduk di kursi jati berukir naga buatan Roman Leo, dia duduk sembari menyeruput kopi yang dibuatkan Roman Leo juga.

 

“Ya Allah berilah hampa kekayaan, kejayaan serta kesehatan jasmani, rohani dan akal pikiran agar senantiasa mampu meraih rezeki darimu. Rezeki itu ya Allah, akan kupakai setengah saja dan sisanya untuk siapapun yang membutuhkan, yang terlihat di sekitar mata ini,” batin Roman Leo sambil menatap awan-awan berarak dan langit biru di tengah putih nan suci.

 

Betapa mujarab doa Roman Leo, seorang pemuda yang selalu menolong tetangganya dalam susah mau pun riang. Seorang pemuda yang senantiasa membopong beras demi ibunya di rumah.

 

Telpon Roman Leo berdering. Telpon itu dari direktur perusahaan paling sukses di daerahnya. Lamarannya sebagai kepala produksi diterima tanpa tes karena bukti kecerdasan berupa file yang ia kirimkan.

 

“Guru. Saya pamit. Saya tidak bisa lagi mengurus tempat ini karena memiliki tanggung jawab baru di tempat yang barangkali lebih indah dari ini. Terima kasih telah mengajariku tentang beberapa hal dan memberiku sedikit uang untuk modal ke sana ke mari dan sesuap nasi,” ujar Roman Leo yang hingga gurunya wafat tak juga datang karena rasa sakit perasaan yang mengakar sebab diperlakukan lebih buruk dari ayam peliharaan, domba aduan dan sapi perah atau kurban oleh gurunya itu.

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie