Prosa Muhammad Alfariezie

 

 

Tak Mungkin Ada di Tengah Kota

Burung-burung bangau putih yang paruhnya kuning, ada yang terbang mengitari kuala, ada juga yang terbang dari ranting ke ranting lalu hinggap pada bekas kerambah yang ditinggal petambaknya. Aku menduga, burung yang tak mungkin ada di tengah hiruk pikuk kota ini sedang menyapa kehadiran rombongan pengantin, yang pada Senin 28 Desember akan melangsungkan pernikahan di tengah tambak udang atau di sisi kanal.

 

Betapa tergugah perasaan orang-orang yang memandang. Tak terkecuali bapak-bapak.

 

“Wuiiii. Indah nian tempat ini. Kita disambut unggas-unggas menawan. Padahal, belum apa-apa. Kalau di Tanjung Karang, berapa tiket untuk masuk kebun binatang?” Ujar Mang Andi, Mamangnya (Paman)  Aan Aprian. Aan adalah seorang yang saat itu, Minggu 27 Desember sedang degdegan karena besok akan mengucap ijab kabul.

 

“Paling enggak duit tiga puluh ribu keluar Mang. Tapi, enggak mungkin kita melihat pesona alam yang indah. Burung-burung bebas terbang dan jumlahnya banyak. Luar biasa bukan? Sesuatu yang mahal di tempat kita,” ujar Aan.

 

Cemasnya Aan hilang lantaran berbaur dengan rasa senang kami. Tak nampak wajah seorang yang sedang menghapal (saya terima nikahnya dengan mas kawin tersebut). Yang nampak ialah, wajah lelaki yang sedang terpesona pada kecantikan. Diam dan tenang serta penuh cinta memandang keajaiban. Dia tak membatu juga tak ribut dalam hal meredakan cemas. Namun, tenang dan fokus memandang hijaunya air kuala yang berpadu dengan tanaman rawa-rawa.

 

Sayang sekali, perjalanan kami ke rumah calon istrinya Aan tak berlangsung lama. Tiga menit adalah waktu tempuh dari dermaga speed bood menuju blok 18 kampung Dipasena. Semua penumpang, kecuali ibu-ibu, merasa senang berlayar di atas speet bood.  Pengalaman ini, bagi Mang Andi adalah pengalaman yang sangat mahal.

 

“Wui, An. Enggak mungkin adrenalin semacam ini kita dapat kalau dipasena masih dikelola perusahaan. Untung, lu dapetin Putri pasca konflik petambak dan perusahaan usai, untung lu dapetin Putri setelah bapak dan orang-orang kampung memang melawan polisi dan preman yang disewa perusahaan untuk mengusir petambak,” kata Mang Andi setelah duduk di rumah kayu milik Kepala Kampung Blok 8.

 

“Ya alhamdulilah. Sekarang ini keadaan sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun lalu. Listrik sudah ada, mas,” ujar kepala Kampung Blok 8.

 

Makan Udang Dua Ember Secara Gratis

Lengkap sudah kebahagian pada hari minggu yang diiring ritmis gerimis serta rintik-rintik yang melukis permukaan kanal. Sayur dan udang kerispi terhidang di ruang tamu rumah. Makanan itu sengaja dihidangkan untuk rombongan. Anak-anak hingga bapak dan ibu antusias mengambil nasi dan sayur serta udang. Semua lahap dan bersemangat.

 

“Pas bener. Soto kentang, nasi dan udang. Emmh makanan yang lemak nian,” kata Mang Andi semberi mengunyah dan mencecap nasi yang bercampur lauk pauk enak tersebut.

 

“Lantak Mang. Kapan lagi makan udang gratis. Apalagi, secara langsung di tempat yang nyaman dan tenang,” jawabku lalu mengunyah udang vaname yang baru dipanen beberapa hari lalu.

 

Belum habis nikmat santapan. Tapi, minuman yang paling kami tunggu pun datang. Kopi dan teh terhidang di teras rumah. Yang sedang merokok maupun yang tidak, bergegas mengambil minuman yang masih panas.  Seruput, wajah Mang Andi bertambah ceria setelah satu teguk kopi manis sedang ia reguk.

 

“Asoy Geboy, An. Burung gelatik hinggap di ranting mangga, sungguh asyik berkunjung ke bumi dipasena,” tukas Mang Andi.

 

Sontak kami tertawa mendengar ucapnya itu.  Dia mengatakan sembari memejamkan mata dan menggelengkan kepala dan menghirup udara sore menjelang malam.

 

Shampo sebagai Pengganti Obat Oles Anti Nyamuk

Ada kenyang tentu ada lapar. Ada indah ada juga ribuan nyamuk.  

 

Ketika sore, kami tidak begitu terganggu oleh gigitan nyamuk. Namun, serangan nyamuk terasa sangat akurat ketika gerimis ba’da isya datang. Serangga hitam berkaki lentik itu bagai membawa ribuan prajurit untuk mengusir kami dari bumi dipasena.

 

Tentu saja, kami yang pendatang dan tak ada niat menjajah tak mau kalah. Meski kekurangan obat oles anti nyamuk, Mang Andi memiliki alternatif yang sangat kami butuhkan.

 

“Wui, wui. Jangan rebutan. Ini shampo. Segera oles di tangan – kaki. Enggak. Nyamuk enggak akan menyerang,” ujarnya sembari melempar rentetan shampo sachet.

 

Benar-benar pengalaman pertama bagiku. Sungguh, tidak pernah aku menggunakan Shampo di tangan sampai kaki. Apalagi tanpa air. Tapi, pada minggu malam yang gerimis ini, aku mencoba cara jitu itu.

 

Benar saja. Nyamuk tidak lagi menyerang. Barangkali, aroma shampo membuat nyamuk muak dan ingin muntah.  Jadilah, aku mencoba tidur, tepat pada pukul 20.00 Wib.

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie