Prosa Muhammad Alfariezie

 

 

Dia yang Melewati Berbagai Masalah

 

Andi mengucap Alhamdulilah ketika operasi anaknya berhasil. Ayah satu anak itu berhasil melewati hari-hari penuh masalah. Dia sempat tidak punya pekerjaan setelah mendapat surat pemecatan. Istrinya yang sempat tidak perduli terhadap kesulitan keuangan rumah tangga tetap menuntut Andi untuk selalu memenuhi kebutuhan belanja kosmetiknya. Beruntung, Andi selalu konsultasi kepada ustad dan seorang imam masjid di sekitar rumahnya.

 

***

 

Fajar mengembangkan senyum. Andi terbangun dan bergegas membuka jendela. Melebarkan kedua tangan sembari menghirup napas adalah rutinitasnya sebelum mandi lalu melaksanakan ibadah sebagai muslim kemudian memasak nasi goreng untuk sarapannya sebelum berangkat kerja.

“Bu. Bu. Bangun. sudah waktunya solat subuh. Ayok kita bersama-sama mendoakan kesembuhan anak kita,” ujarnya sembari menepuk-nepuk punggung hingga pinggul istrinya.

“Aduh. Berisik banget sih. Bertahun-tahun hidup bersama, enggak ngerti juga. Sudah solat saja sendiri. Saya masih mengantuk. Semalam enggak bisa tidur karena melihat kawan arisan beli tas baru,” ceriwis istrinya membelakangi Andi, ceriwis istrinya yang kakinya meronta-ronta sebab sangat menolak ajakan Andi.

Andi hanya mengelus dada sembari menatap ke arah embun-embun di dahan dan daun sambil mengharap keajaiban yang merubah sifat istrinya sehingga berkenan untuk diimaminya. Dia ingin sekali solat berjamaah dengan istri dan anaknya. Sayang sekali, Andi tidak bisa melakukan itu. Dia pun pergi sendiri ke masjid karena tak mungkin membangunkan anaknya. Kondisinya sangat lemah karena suatu penyakit langka.

“Ustad. Bertahun-tahun saya berkeluarga. Tapi, hanya sekali saja menjadi imam solat untuk istri saya. Berkali-kali saya mengajaknya mengaji dan terus-terusan ia tidak perduli,” ujar Andi setelah selesai mendengar kultum dan ketika jama’ah mulai meninggalkan masjid dan yang tersisa hanya mereka berdua.     

“Apa yang kamu alami telah saya alami, Ndi. Bahkan, sempat terpikir untuk menceraikan istriku. Tapi, hal itu tidak terjadi hingga ia mati. Saya hanya manusia. Saya telah berusaha.Tapi, tidak bisa. Serahkan semuanya kepada yang Lebih tahu. Kita manusia hanya mengingatkan. Tapi, jangan pernah berhenti berdoa,” jawab sang ustad.

            “Terima kasih ustad, telah memberi saya motivasi untuk tetap menjalani kehidupan,” jawab Andi, kemudian pamit karena harus memasak nasi goreng untuk sarapannya dan keluarga.

Wajah Andi tidak menampakkan keceriaan meski melewati pagi yang cerah, pagi yang diiringi nyanyian burung-burung. Dia terbayang biaya pengobatan anaknya dan pekerjaannya yang belum selesai sementara waktu luangnya sebelum berangkat harus dimanfaatkan untuk membuat nasi goreng dan menyuapi anaknya yang sakit.

Tidak ada waktu untuk menikmati kopi sembari menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dipotongnya bawang, cabai sembari menunggu minyak goreng memanas.

Ia tuangkan semua bumbu ke dalam wajan, lalu menumis rempah-rempah yang setengah matang bersama nasi. Yang dia inginkan adalah masakan terlezat untuk keluarganya. Aroma bawang pun tercium di dapur rumahnya.

Sebelum berpakaian adalah menyuapi anaknya terlebih dahulu yang Andi lakukan. Dia tahu, istrinya takan mau menyuapi anak mereka satu-satunya itu.  Anaknya hanya makan ketika pagi dan malam karena ketika siang Andi tak mungkin pulang hanya untuk menyuapinya makan.

Setelah mencium kening dan pipi anaknya dan mengucapkan kasih sayang maka Andi segera berpakaian dan bergegas menuju kantor menggunakan motor bututnya. Jika dia terlambat maka bukan hanya honor yang mendapat potongan. Tapi, pemecatan karena telah mendapat dua kali surat peringatan. Ia mendapat tilang dari polantas karena menerobos lampu merah. Terlambatlah dia ke kantor.

“Maaf pak, saya terlambat. Tadi, saya tertilang polantas. Sekali lagi, saya mohon pengertian bapak. Maafkan saya pak,” ujar Andi sembari menundukkan kepala, ujarnya yang datang bersamaan dengan bosnya. Dia tak mau mendapat surat peringatan ketiga.

“Kamu sudah mendapat dua surat peringatan karena sepuluh kali terlambat! Sekarang kamu terlambat lagi. Kamu pikir bos kantor ini bapak monyet kamu!” jawab bosnya lalu segera masuk kantor meninggalkan Andi.

Sayang, Andi tidak pernah mengatakan alasan keterlambatannya. Dia tak mau orang-orang terlalu mengasihani atau bahkan malah mengejeknya.

Andi dipanggil ke ruangan bos sebelum duduk di kursi kerjanya. Surat pemecatan dia terima. Tapi, andi belum mau pergi atau pasrah begitu saja. Dana pengobatan anaknya masih kurang.

“Tolong saya pak. Usia saya sudah tidak memungkinkan untuk mencari pekerjaan baru. Tolong beri saya kesempatan pak. Anak saya perlu biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saya memerlukan uang dan pekerjaan, pak,” kata Andi memohon kepada atasannya.

“Sudah. Sudah. Pagi ini, saya harus rapat. Bereskan semua meja kerjamu dan bawa pulang semua barang-barangmu sekarang juga. Ini uang sebagai sikap kemanusiaan saya terhadap anakmu yang memerlukan pengobatan,” kata bosnya kemudian mengangkat telpon dan tidak menjawab apa pun ketika Andi berpamitan hingga menutup pintu ruangan.

Tidak ada barang-barang yang mesti dibawa pulang. Semua laporan telah ia bawa pulang dari kemarin-kemarin. Andi pun enggan menampakkan raut sedih kepada kawan-kawannya. Tak perlu waktu lama untuknya meninggalkan kantor itu. Setelah menyerahkan laporan kepada satpam, maka dia pun bergegas memacu motor bututnya agar cepat sampai di rumah dan beristirahat sejenak.

“Assalamualaikum,” ucapnya setelah kaki kanannya melangkah masuk ke dalam rumah.

“Walaikumsalam,” terdengar suara yang tidak terlalu keras dari kamar anaknya. Tapi, Andi tidak langsung ke kamar anaknya. Andi lebih dulu membangunkan istrinya.

Tak juga mau bangun maka Andi pun menuju kamar anaknya.  Ia kabarkan pada anaknya kalau sang ayah tidak lagi memiliki pekerjaan. Dia tunjukkan uang pesangon. Ia hitung bersama dengan anaknya yang terkulai.

“Alhamdulilah, nak. Walau pun bapak tidak lagi bekerja tapi kamu bisa segera dioperasi. Tabungan bapak jika ditambahkan uang pesangon ini maka cukup untuk biaya operasimu. Kamu jangan khawatir. Bapak akan bekerja apapun untuk makan kita,” ujar Andi yang terharu, ujarnya sembari memeluk lalu mencium kening anaknya.

Sayang sekali. Andi memerlihatkan emosi yang sangat di depan anaknya. Ternyata, perkataan Andi terdengar oleh istrinya. Perempuan yang belum sempat mencuci wajah atau gosok gigi itu segera menyambar uang pesangon Andi.

Andi segera meredakan emosi. Ia tidak sengaja melihat anaknya menangis karena melihat dan mendengar kemarahan Andi dan perbuatan ibunya yang tidak perduli terhadap kesehatannya. Andi pun segera mencium kening anaknya dan memeluknya. Sementara istrinya meninggalkan mereka.

“Betapa perih, ya Allah. Itu pesangonku. Harapanku untuk melihat cahaya di rumah ini,” batinnya sembari memeluk anaknya.

Andi tidak bisa berlama-lama memeluk anaknya. Adzan zuhur terdengar begitu merdu. Memanggil-manggil Andi untuk segera mengadukan segala perih batin yang terpendam. Namun, ia tak mau ke masjid dalam keadaan perasaan yang berkobar. Ia luangkan waktu lima menit untuk membasahi tubuh.

“Kamu mau ke mana, bu? Sisahkanlah setengah uang itu untuk tabungan pengobatan anak kita,” ujarnya ketika ingin berpakaian. Tapi, justru melihat istrinya bersiap-siap ingin pergi.

“Sudah. Kamu kan pintar, mas. Kamu pasti mudah mencari pekerjaan yang baru! Kemarin saja, kamu ditawarkan untuk mengelola perusahaan abangmu,” jawab istrinya.

“Ya, Tapi....” Istrinya bergegas meninggalkan kamar sebelum Andi menyelesaikan ucapannya.

Andi tetap menegur dan berbincang dengan tetangga yang kebetulan bertemu di simpang jalan. Sepanjang perjalanan menuju masjid, Andi mendengarkan keluh kesah kawannya yang memiliki masalah terhadap laporan keuangan. Andi tak sekadar diam. Pengalamannya sebagai pengelola keuangan selama bertahun-tahun mampu memberi pemahaman kepada tetangganya sehingga dia ditawarkan untuk membantu perusahaan Dinamika.

“Terima kasih, pak. Terima kasih sekali. Saya memang benar-benar butuh pekerjaan,” kata Andi sebelum mereka berpisah di tempat wudhu pria masjid Al Isro.

“Ya Allah. Ampuni dosa hamba dan keluarga. Hamba mohon bimbingan agat istriku berkenan merawat anaknya dan mendengar yang ingin kusampaikan. Ya Allah, yang menguasai rezeki manusia hewan dan tanaman. Hari ini, kulit anakku terlihat sangat kuning dan pucat serta nafsu makannya amat berkurang. Tolonglah seseorang yang amat susah ini, ya Allah, ya Rosulku Nabi Muhammah Saw. Bantulah umatmu ini Ya Rosulku,”  itu adalah doa Andi.

“Kau terlihat khusuk sekali berdoa hari ini, Ndi. Apa kamu tidak bekerja hari ini?”

“Hari ini saya baru saja dipecat, Ustad. Tapi, Alhamduliah karena ada kebaikan dari tetangga kita sehingga besok saya bisa kembali bekerja, walau di tempat yang berbeda,” katanya lalu berpamitan karena ingin segera menyuapi anaknya makan.

Betapa Andi terkejut. Ada mobil polisi di depan rumahnya. Bergegaslah dia untuk mengetahui apa yang terjadi.

Dia lebih terkejut lagi karena polisi ternyata mengantar istrinya yang nyaris di penjara karena kedapatan bersama DPO pengedar uang palsu saat berbelanja di suatu supermarket. Beruntung, karena tidak terbukti memiliki uang palsu maka ia dikembalikan ke keluarganya.

Istrinya menangis dan air matanya tak henti-henti menetes. Ia sempat dibawa ke kantor polisi. Mungkin, di sana, ia sempat mendapat bentakan dan hentakan polisi yang marah dan memukul meja ketika menginterogerasi seseorang yang sedang mereka curigai.

Sebelum pulang, Polisi menasehati Andi di depan istrinya yang masih menangis. Polisi tak segan-segan memasukkan istrinya ke dalam tahanan kalau kembali kedapatan bergaul dengan orang-orang yang melanggar hukum dan tidak melaporkan kejahatan yang dilakukan kawan-kawannya.

“Mas, saya minta maaf. Saya benar-benar menyesal. Saya takut mas,” kata istrinya yang menangis.

“Ini uang yang tadi kuambil. Sumpah, uang ini belum sempat kubelanjakan. Maaf. Bertahun-tahun, saya menyusahkanmu, mas” tambah istrinya.

Andi memeluk erat istrinya, lalu mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk segera menyiapkan segala sesuatu guna operasi pengobatan penyakit langka anak mereka. Cahaya matahari pun nampak berseri-seri hingga ke sudut-sudut rumah ketika mobil jemputan membawa mereka ke rumah sakit terbaik suatu kota.

 

2020

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie