Sepentil Kisah dari Muhammad Alfariezie
Cincin Besar Menghantam Pelaku Mesum
Balidah meringis-ringis di sudut penjara. Wajahnya biru dan bengkak. Dia ditampar, ditinju, digebuk pakai cincin berbatu besar oleh anak nenek Syaadiyah.
Anak nenek berusia 60 tahun itu geram benar. Dia melihat Balidah nyaris bercumbu dengan perempuan yang rambutnya penuh uban dan wajahnya lumayan berkeriput. Bahkan, mereka berdua dipergoki hanya mengenakan celana dalam di dalam kamar Syaadiyah.
“Berdasarkan keterangan pelaku, dia melakukan hal yang tidak terpuji karena tergiur iming-iming uang Rp 500.000 yang dijanjikan kawannya jika menerima hasrat Syaadiyah yang telah menjanda selama dua puluh tahun,” ujar kasat reskrim kepolisian yang menangani kasus ini.
Menurut Kasat Reskrim Parwanto, Syaadiyah adalah korban. Syaadiyah berhasrat untuk bercumbu setelah pemuda berusia 35 tahun itu memberikan segelas jus naga. Tak selang beberapa menit, Balidah menawarkan jus yang juga diminumnya. Kawannya pun izin membeli rokok setelah melihat kedua orang yang berada di depannya telah meminum jus yang sama.
“Balidah dan kawannya memang sering bertamu ke rumah Syaadiyah yang kebetulan hanya berkisar tiga rumah dari tempat kerja dua orang tersebut. Warung Syaadiyah adalah tempat biasa mereka mengutang untuk minum kopi dan berteduh usai menunaikan pekerjaan sebagai tukang pasang tenda,” ujar warga sekitar tempat kejadian perkara.
Kasat Reskrim mengatakan, sementara pelaku utama adalah Balidah. Sedangkan Syaadiyah ialah korban dan anaknya menjadi saksi.
“Kita belum tahu pasti siapa pelaku utama praktek yang merugikan anak dan keluarga saudari syaadiyah. Kawannya Balidah belum ditemukan sejak tiga hari kasus ini ditindaklanjuti. Kita masih mencari di mana keberadaan saksi kunci. Anggota saya telah menggerebek rumahnya. Tapi, tak menemukan apapun, kecuali bantal, guling, tikar dan lemari serta pakaian kumal di dalam rumahnya.
“Balidah. Balidah. Pahit nian rasa nasib yang kau cecap. Babak belur dan mendekam di penjara hanya karena Rp 500.000 dan ingin mencicip tubuh orang yang telah berumur. Kasian keluarga di kampung. Bagaimana ibu bapakmu membeli beras. Kau ke kota karena kebun di kampung sudah habis karena longsor,” batinku sembari sembari merokok dan menatap wajah Balidah dari luar jeruji besi, ujarku seorang wartawan terkenal dari majalah misteri yang mengisi rubrik kisah di balik tindak kriminal.
2020
Komentar
Posting Komentar