Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani Bin Husin Syahri

  Menuju Bulan dan Awan             Kepeting, udang, kerang, kelapa hingga air jernih tak pernah nihil meski di ujung pulau tersunyi. Penyair tak pernah menulis puisi tanpa memikirkan perbedaan dan persamaan bunyi. Apatah lagi sesuatu di dalam kalbu paling murni. Neraka pun diciptakan sesuai nurani.                       Memangku tangan, mengunci lutut di sudut ruang penuh sawang dan tanpa teman tak membuat burung mencipta sarang. Hewan nan lincah tetap lompat kesana-kemari meski di dalam kandang sehingga yang memandang bagai melihat kerlap-kerlip bintang gemintang. Jadilah pemiliknya yang tampan tak pernah ragu memberi satu apel atau pisang. Warna-warni pun berkembang hingga daun-daun tak sekali-sekali gamang.             Menuju bulan dan awan lebih payah dan susah dari melewati setapak berdebu, berkerikil dan di sisinya jurang berdur...

Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani

  Si Biangkerok Terperosok   Terpaksa Eisaku menginap satu hari di kamar yang tak seberapa mewah tapi mahal. Beruntung Eisaku tak sampai mati karena keusilan yang tak tertahan. Andai, ia memijat-mijat punggung gurunya yang pegal karena menempuh jarak yang lumayan untuk mengajar Bahasa Indonesia. Tapi, mungkin itulah yang dijudulkan sebagai ‘Biangkerok terperosok.’ “Hari ini adalah peringatan Sumpah Pemdua. Tidak asyik banget kalau ini sekolah hanya upacara. Biar rame, bagaimana kalau Pak Alton, guru Bahasa Indonesia yang baru masuk sesuda dua tahun kita di sini, bagaimana kalau berik kejutan ulang tahun. Aku dengar dia punya penyakit jantung. Jika dia mati, tentu puisi tak menjadi tugas yang memusingkang ,” kata si biangkerok yang terperosok. “Kamu aja ah. Aku mau tobat. Ini kan peringatan sumpah pemuda. Harusnya kita meniru lagak Mohammad Yamin,” kata Laluna yang semalam bermimpi ditelanjangi matahari dan bulan karena suka berbuat jahil hingga membahayakan orang. ...

Karya sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaus Bin Iwal Burhani

  Untuk Muhammad Alfariezie                                     Dari yang puput          Aku burung gereja yang tak memiliki warna pelangi hingga perasaanmu membatu, aku burung gereja yang suaranya ranting kering hingga perasaanmu membiru, aku burung gereja, percuma mengetuk-mengetuk jendelamu, akulah burung gereja, tiada guna mencoba menarik perhatian yang mulia.        Salahkah bila burung gereja ingin sekali menyentuh kedalaman rindu? Jika tak, maka katakanlah engkau adalah selimutku di dalam kegelapan yang paling dingin, kamu jari-jemari yang menenangkanku ketika cemas menendang-nendang.        Burung gereja ini akan seperti daun di hidupmu. Aku akan menjadi parfum di tiap nafasmu dan aku akan menjelma bunga-bunga di tangkai...

karya Sastra Muhammad Alfariezia Bin Firdaus Bin Iwal Burhani

Gambar
  Untuk Muhammad Alfariezie                                     Dari yang puput   Mungkin meminum racun adalah hal paling baik untuk perempuan yang kesepian. Bagaimana tidak, kekasihku. Aku yang tanpa teman melihat sepasang angsa ketika duduk di tepi danau, aku yang seperti daun di lantai melihat sekumpulan ikan koi di kolam sebuah taman penuh bunga-bunga.   Aku debu di antara kaca-kaca bening karena hujanmu tak pernah datang.   Berenang tak membuatku melupakan awan-awan teduh karena peluk cium itu. Seperti gontai mentari menyisir rambut hari di kebun warna-warni. Sungguh, aku bagai hutan yang menerima kasih sayang bumi dan langit.   Aku ingin sekali kamu becermin sambil mengingat kisah-kisah puitik antara pangeran dan orang yang disayang. Disitulah engkau pasti tersadar bah...