Karya Sastra Muhammad Alfariezie Bin Firdaun Bin Iwal Burhani Bin Husin Syahri
Menuju Bulan dan Awan Kepeting, udang, kerang, kelapa hingga air jernih tak pernah nihil meski di ujung pulau tersunyi. Penyair tak pernah menulis puisi tanpa memikirkan perbedaan dan persamaan bunyi. Apatah lagi sesuatu di dalam kalbu paling murni. Neraka pun diciptakan sesuai nurani. Memangku tangan, mengunci lutut di sudut ruang penuh sawang dan tanpa teman tak membuat burung mencipta sarang. Hewan nan lincah tetap lompat kesana-kemari meski di dalam kandang sehingga yang memandang bagai melihat kerlap-kerlip bintang gemintang. Jadilah pemiliknya yang tampan tak pernah ragu memberi satu apel atau pisang. Warna-warni pun berkembang hingga daun-daun tak sekali-sekali gamang. Menuju bulan dan awan lebih payah dan susah dari melewati setapak berdebu, berkerikil dan di sisinya jurang berdur...