Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Tak Ada yang Lain Pekarangan wangi nan berwarna Adalah jutaan saksi tentang magisnya istriku Sampai-sampai aku merasa bagai menyelami relung kejernihan Bahkan seperti memandang kerlap-kerlip lelampu dari atas bukit, kekasihku Adik perempuanku Sungguh ingin belajar denganmu Sebagaimana senja dan pelangi, katanya Engkau paling bisa membuat hari merona   Bidadariku, sejak kecil hingga remaja Ia hanya berteman pelayan-pelayan Tak pernah jauh dari halaman Tadi malam saat bulan begitu sempurna Dan ketika dedaun berayun Saat api kecil lilin hampir redup Ia peluk diriku Bagai menyelami kedalaman rindu Ia menangis Perasaanku bagai bunga di ujung tangkai yang disentuh sang angin Ia ingin sekali keliling kota Bermain bersama para remaja seusianya, Bercanda, memandang merpati serta bernyanyi di alun-alun, juitaku Tapi ia juga paham bahwa suatu hari nanti akan menjadi kanselir Ia selalu memandangi arakan awan, Kesiur cuaca Ia tak m...

Puisi Muhammad Alfariezie

Tak Hanya Merangkai Kembang dan Menghitung Hujan Sesuatu yang amat ngeri adalah ketika memilih tujuan Salah langkah bisa saja bertemu harimau atau terpersok lubang buruan Tangan dan kaki putus Yang tersisa jeritan Menunggu kematian Berkat kau, kekasihku   Negeri kita selamat dari bencana Kerjasama dengan tetangga untung tak terlaksana Betapa kita rugi jika Nasehat para dewan kudengarkan, ah Seperti kerlap-kerlip bintang nun jauh di atas sana Kau tuntunku untuk selalu menyenangkan hati orang-orang Juitaku, kulihat permaisuri tersenyum memandang foto kita saling memeluk Dia yang dulu tak pernah memercayaimu telah memahami Bahwa bunga mawar yang tumbuh di pekarangan istana dan rumah sederhana Memiliki kualitas yang ditentukan dari perawatnya Andai   batang-batang menjuntai selalu dirapihkan, Pabila senantiasa disiram ketika pagi dan sore Dan memerhatikan tata letak penanaman Sungguh cantikku, Kapten telah membuatmu menjadi ses...

Puisi Muhammad Alfariezie

Seluas Lautan Bersamamu, kekasih Betapa indah gunung-gunung dan lautan   yang hijau dan biru Aku tak lagi mencaci para dewa dan dewi, dan tuhan Ialah yang paling baik, juitaku Engkau mengajariku menimang rindu, membesarkan cinta Dan merawat kasih dan sayang Kau ratu yang pantas kuberi kota, Perempuan yang akan memberi inspirasi bagi anak-anakku memenangkan perang Kecantikan yang memakmurkan seribu pulau Tak satupun kubiarkan manusia dan hewan menggores tubuh dan perasaanmu Di dermaga itu aku ingat betul bagaimana kau memelukku Kau bisikkan padaku bahwa hujan tak selalu datang dengan gerombolan penabuh guntur Seketika mendung dan hujan mengetuk kalbuku Kau lari menuju pantai dan aku mengejar Di atas pasir putih nan halus saat jarak kita seujung kuku Aku mengerti bahwa kebahagiaan tak selalu tentang perburuan Sentuhan dan pandangan Ternyata seperti pemburu yang melumpuhkan objeknya Dan rasa senang bisa tiba di bawah guyuran—lalu Gig...