Manis Gula-Gula
Manis Gula-Gula
“Sayang. Kok kamu selalu ngebuat aku menunggu. Janji-janji kamu itu manis gula-gula. Bikin aku sakit perasaan,” kata seoarng perempuan kepada cowoknya di kedai kopi modern yang terletak di dalam pusat perbelanjaan modern.
Aku yang sedang menikmati suasana kesendirian, sontak menahan tawa. Bukan tidak berani. Tapi, menghargai si perempuan yang ingin dimanja kekasihnya. Selain itu, aku mencoba memberi keleluasaan bagi si lelaki, supaya sukses merayu, entah pacar atau tunangannya. Yang dapat kulakukan hanya sesekali melirik ke arah mereka sembari mereguk kopi dan mengemil pisang panggang coklat keju agar tidak terlalu menarik perhatian sepasang sejoli yang mungkin, nanti berkasih-kasih.
Batinku berkata, alangkah lucu melihat perempuan yang manja sekali kepada kekasihnya. Lelaki itu sampai garuk-garuk kening dan kepala ketika merayu demi ingkar janjinya menerima maaf.
Kopiku hampir habis. Tapi, aku belum mau pergi. Pemandangan yang berada tak jauh di depanku, membuat diri ini betah meski sendiri dan tidak mengerjakan apapun.
Kupesan lagi secangkir teh tanpa gula. Aku ingin memelajari bagaimana si lelaki menaklukan sedih perempuan berkulit putih dan berambut panjang hitam lurus tersebut.
Sembari menunggu pesanan, cukup lama aku memandang mereka. Kalau-kalau si lelaki memegang tangan perempuan lalu mengatakan alasannya terlambat karena mesti membantu orang tua atau mencari bunga di dalam kemacetan pasar tradisional, untuk diberikan kepada yang tercinta, yaitu siapa lagi kalau bukan perempuan yang berada di depannya.
Sayang sekali, lelaki itu justru mengikuti cemberut perempuan. Dia diam dan sesekali matanya melihat ke langit-langit mall, yang menurutku sama sekali jauh lebih cantik wajah kekasihnya itu.
Batinku, “andai saja lelaki itu aku, maka jari-jemari halus perempuan anggun itu kukecup. Kemudian, kukatakan kalau setiap ingkar janji pasti sebabnya cinta. Kenapa? Ya karena aku mencintaimu maka sebelum ke sini— lelaki yang sangat mencintamu ini, tidak sengaja melihat toko perhiasan. Di dalam etalase ada cincin dan kalung dari berlian yang sangat indah nan berkilau. Aku menanyakan harga benda itu untuk pernikahan kita nanti, juwitaku.”
Berhubung lelaki itu justru marah dan ngambek perempuannya menjadi, maka di dalam kafe itu hanya aku sendiri. Daripada seperti Spider Man atau Batman yang bernyanyi di kolam bola anak-anak maka lebih baik, aku membayar teh yang baru sekali terteguk kemudian pulang.
2020
Komentar
Posting Komentar