Karya Sastra Muhammad Alfariezie

 

Tempat yang Tertanam Beraneka Kebutuhan Perasaan

Mengerjakan banyak hal di dalam kamar, tentu saja membuat pikiranku sumpek. Berjam-jam mata ini melihat layar komputer dan ponsel. Temanku di ruang yang sejuk hanya secangkir kopi dan pesan singkat dari sang kekasih.

 

Kunyalakan kendaraan. Taman adalah tujuanku untuk menghibur Perasaan. Tempat yang tertanam beraneka kembang dan bunga itu selalu dikunjungi berbagai kalangan. Aku terbiasa memandang yang indah-indah di sana. Sembari mereguk kopi hangat, selalu saja inspirasi-inspirasi menghampiri sehingga aku memiliki ide-ide baru untuk perancangan, ada deh.

 

Langsung saja aku duduk kursi berukir jati yang terbuat dari besi. Kursi ini adalah favoritku. Dari sini, aku bisa melihat orang-orang yang berpacaran, anak-anak yang asyik berlari-larian bersama kawan-kawan hingga keluarga yang mengajarkan bayinya berjalan.

 

Tak selang beberapa saat aku duduk, terlihat dari sini ada sepasang lelaki dan perempuan sedang suap-suapan cemilan murah meriah. Jika dari tempat kududuk maka mereka berada tepat di bawah matahari yang sedang berenang ke arah kakbah.

 

Kuhampiri mereka yang menurutku sedang bermesraan. Tapi, betapa aku kaget. Mereka bukan sepasang kekasih. Melainkan, sudah bersahabat sejak SMP hingga kini mereka duduk di bangku kuliah semester awal.

 

“Menduga-duga memang dibenarkan. Tapi, jauh lebih baik langsung menanyakan apa yang terlintas di depan penglihatan dan pikiran. Jawaban yang lebih bermartabat terdengar dan menjadi rangsangan indera untuk melakukan banyak hal.”

 

Aku tak mau terlalu lama mengganggu mereka. Nanti, meraka akan risih. Kemesraan yang menggugahku sirna seketika, seperti matahari yang tiba-tiba entah ke mana.

 

Aku menghirup wangi yang menentramkan sekali ketika kembali duduk di tempat tadi. Wangi ini mengingatkanku pada dulu, ketika duduk di pangkuan ibu dan mengatakan kalau pelajaran matematika lebih kusuka disbanding menggambar.

 

Aku kaget. Aroma itu berada tak jauh di belakangku. Di sekitarku, memang agak rindang sehingga pas untuk pasangan muda yang ingin bermain dengan bayinya. Mereka terlihat harmonis. Saling menggenggam seraya mendorong kereta bayi memutari area lapangan basket yang sepi.

 

“Bapak yang menyempatkan waktu luang untuk keluarga seperti harimau yang berburu untuk dan melawan hiena agar daging dapat dimakan keturunannya. Nampak sekali kharisma lelaki muda itu. Apalagi, ketika ia menggantikan sang istri untuk menyuapi bayinya. Lalu, dia memandang mata sang kekasih. Tulus, seperti ingin memberi cincin istimewa tanda cinta kasih yang jernih.”

 

Aku tak mau terlalu lama memandang mereka. Takut, kalau-kalau dianggap aneh. Bergegas aku berdiri  lalu menuju kendaraan untuk kembali pulang. Sebentar lagi senja berakhir. Aku harus mandi. Tapi, belum sempat membuka pintu kendaraan, aku melihat tukang parkir yang sedang menghitung uang sembari menatang ke langit biru yang dipenuhi mega.

 

Wajahnya seperti menyimpan harap. Dahinya tidak berkurut. Tapi, matanya seperti menyimpan cerita yang menggugah jika dicatat atau dijadikan kisah. 

 

Mungkin, lelaki setengah baya itu sedang membayangkan anaknya yang sebentar lagi lulus sekolah. Uang yang sedang ia hitung itu, barangkali setengahnya untuk bayaran dan sebagian lagi untuk ditabung serta makan sehari-hari.

 

“Di mana aku dapat menemukan kisah yang menggugah lagi. Di sini, tiga gambaran puitik menjadi simpanan memoriku. Seperti air yang gontai mengalir dari daun ke tangkai lalu batang hingga akar. Sungguh, hijau sekali. Warna yang menggugah. Tak mungkin, kutemui jika berdiam diri di depan komputer dan di dalam kamar.”

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnologi Bagi Anak

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani