Karya Sastra Muhammad Alfariezie
Tulus Menyiram Segala yang Layu
Ritmis gerimis terdengar di awal januari. Aku, jadi rindu yang menyegarkan kembang-kembang hijau, bunga merah hingga biru. Air yang selalu bermanfaat bagiku, tulus menyiram segala yang layu. Seperti tangan seorang bapak atau ibu kepada rambut-rambut halus sang bayi. Rintik-rintik membelai dan membasuh sehingga yang terpandang memberi segar bagi yang duduk menikmati minuman hangat dan nuansa pegunungan.
“Air yang jatuh ke bumi. Tahukah kalau bumi ini gersang bila hanya kemarau? Dan tahukah jika aku selalu menangis jika matahari begitu terik?” Kataku kepada sesuatu yang jernih, yang selalu kutampung setiap datang.
Cuaca basah selepas 31 Desember. Aku yang sempat terjungkal karena cinta, kembali terhibur karena permainan nada genting. Suaranya membuatku berilusi ke taman penuh bunga-bunga.
Di sana, aku berlari-lari. Seketika, duri-duri perasaan yang sempat menusuk-nusuk, seperti berisik alat musik elektrik yang tiba-tiba hilang lantaran listrik yang padam.
“Di awan-awan yang putih nun jauh di sana. Kalau suatu hari nanti aku bisa rebah, bisakah yang dingin menjadi selimut untuk melindungi tubuh dari gerah yang amat sangat?” Tanyaku kepada butir-butir yang meluncur dari daun muda lalu jatuh ke tangkai-tangkai mungil sebelum ke batang dan mencintai tanah juga akar.
Kuambil selembar kertas dan pena. Barangkali, hujan tak berhenti sepanjang hari jika puisi atau prosa tercipta. Pikiran yang kacau akan selalu mengembara ke daerah-daerah tenang, seperti danau yang di sisinya ramai sepasang angsa juga teratai. Bagai pagi, cerahlah benak ini.
“Air yang menggenangi tanah dan jalan-jalan, yang hadir pada musim baru. Bagai anak-anak yang riang bermain di pantai-pantai. Berlari-lari hingga menerbangkan lelayang,” kataku setelah usai merangkai kata-kata dan nada sembari memandang butir-butir di kaca jendela.
2020
Komentar
Posting Komentar