Karya Sastra Muhammad Alfariezie
Keindahan di Bawah Langit yang Biru
Kakek selalu memanggil ayah, ibu, tante, paman, ponakan hingga aku dan adik-adikku untuk selalu makan bersama menikmati tiap hidangan yang dibuat dan disajikan oleh nenek bersama Bi Inah. Mantan pejuang yang amat kusayang, yang rambutnya telah memutih tak ingin seperti burung elang. Terbang sendiri menikmati angin dan keindahan samudera serta awan di bawah langit yang biru.
“Betapa perasaan ini seperti lagu melankoli, kakek. Setiap nasi yang kupandang sebelum makan, wajah tampan nan berkharisma itu bagai menatap – bernasehat. Sayang, aku lelaki. Tak bisa menangis di tengah riuh ramai rumah makan atau sunyi ruang kamar.”
Aku mencoba merebahkan tubuh di kasur empuk yang kubawa dari rumah kakek dan ini sempat menjadi penyanggah tubuhnya. Aku mesti berhemat dalam urusan membeli barang. Apalagi, sebagai mahasiswa, tentulah belum memiliki penghasilan sendiri dan orang tuaku bukan pejabat atau anggota dewan juga pengusaha berlimpah uang.
Kasur ini memang lebih tua dariku. Tapi, masih sangat nyaman. Bayang-bayang pekarangan yang ramai di rumah kakek terngiang. Aku, ponakan dan adik-adikku asyik mengejar-ngejar bola dan kakek serta nenek fokus menyiram dan menanam kembang yang berbunga.
“Wangi. wangi sekali apa yang pernah tertanam di sana. Rumput-rumput hijau dan mawar yang selalu basah adalah anugerah terindah warisan mereka; orang yang bila marah hanya diam dan jika menasehati selalu menggunakan kisah-kisah nan menggugah.”
Sejenak aku terdiam. Aku merasa sudah begitu lama tidak melalui lorong-lorong gelap dan hamparan hijau yang indah. Di dalam kereta, sambil tak henti berdoa perihal kesehatan keluarga. Sungguh, rinduku laut yang tak terkira.
“Kapan waktu-waktu indah itu kembali terulang? Kenyataan telah memastikan. Selagi aku masih hidup maka ruang makan yang selalu menjadi tempat keluarga berkumpul selalu menyediakan bangku jati kosong. Bangku itu tidak boleh ada yang menduduki karena pemiliknya telah pergi dan tak sempat mewarisi kepada yang berhak setelahnya.”
Kunyalakan sebatang rokok. Lalu, berdiri dan becermin. Ternyata, gaya merokokku memang mirip seperti orang yang dulu selalu mengelus rambutku. Namun, sungguh, rambut, mata dan hidungku sangat berbeda dengannya.
Kumatikan rokok yang masih setengah batang. Mungkin, menghirup udara segar akan jauh lebih baik. Gontai kulucuti lalu memakai pakaian sederhana yang selalu disukainya. Kemudian, meninggalkan kamar ini menuju tempat, yang mungkin di sana ada keindahan baru di bawah langit nan biru.
2020
Komentar
Posting Komentar