Karya Sastra Muhammad Alfariezie

 

Adakah yang Menunggu Rindu di Stasiun ini

 

Bunyi peluit terdengar. Tanda keberangkatan segera dimulai. Rindu akan memasuki gerbong dan memulai perjalanan panjang. Mengenang peluk dan cium mentari di kebun warna-warni bersama cinta yang pelangi.

 

“Suatu hari nanti. Entah sabtu atau minggu. Di stasiun ini, adakah yang menunggu sembari melambaikan tangan dan tersenyum kemudian menyambut peluk ini?” Batin rindu yang telah duduk di kursi, tepat di sisi jendela.

 

Bunyi peluit terdengar. Gerbong ini, bergerak perlahan, meninggalkan sedih di peron. Suatu yang ditunggu, yang tak pernah hilang dalam kenangan. Tapi, tak datang. Mungkin, tak kuat melihat perpisahan.

 

Berjam-jam terngiang dulu, pernah berlari-larian di taman bersama yang terkasih. Bahkan, hingga habis bergelas-gelas minuman dingin.

 

“Begitu panjang dan berliku rel ini. Sepi tanpa teman. Bagai di tengah hujan tanpa sehelai benang. Mungkin, jika rindu dan kenangan duduk bersebelahan maka akan tercipta suasana puitis yang menginspirasi musisi untuk bernyanyi sepanjang perjalanan.”

 

Lorong-lorong gelap pun dilalui. Hitam putih kenangan masih seperti malaikat yang senantiasa memberi nasihat. Terngiang kata-kata cinta yang kekal. Kata-kata mesra yang diucapkan kala pagi menukikkan sayapnya yang bersinar dan larik-larik rayuan yang diungkapkan waktu bulan rebah di peraduan.

 

“Sunyi di kaca, sunyi di gerbong dan sunyi di dalam toilet. Adakah ramai setelah sampai tujuan?”

 

Kebun-kebun pisang, padang alang-alang dan hamparan hijau tempat menggembala kuda terlalui. Tapi, adakah cinta sedang menulis puisi untuk rindu yang biru, rindu yang selalu membayangkan kemesraan saat melalui jalan sesuai bintang gemintang. Di kursi ini, roti yang mahal dan lezat pun bagai apem basi atau singkong busuk.

 

“Pada mulanya perjalanan ini adalah keraguan. Namun, untuk hidup yang lebih beraturan maka menjadi tujuan. Untuk itu, cinta. Bersabarlah hingga rindu mengetuk mahligai sempurna lalu mengelupas segala perih yang sempat ada.”

 

Petugas karcis menghampiri. Tiket harus segera diberi. Jika tidak, kemungkinan perjuangan harus mati terlindas roda baja yang melintas sangat cepat.

 

“Tiket itu pertanda kalau meninggalkan cinta, meski sementara. Tapi, nyata. Untuk itu, di mana letak gembira dalam gerbong ini sehingga ada lagu yang merdu, yang barangkali akan membuat perih perasaan terjatuh dan mati?”

 

Tak ada apapun yang dapat dilakukan kecuali menutup tubuh hingga wajah menggunakan selimut. Begitu dingin ruang ini. Seperti kenangan yang bertubi-tubi datang tanpa permisi. Gigi bergemeretak dan tangan pun iya.

 

“bermimpi mungkin akan membawa rindu dan memeluk cinta. Di ranjang yang empuk dan kemesraan terjadi lagi.”

 

2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnologi Bagi Anak

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani