Puisi Muhammad Alfariezie
Montana
Seseorang duduk tenang memandang burung, lalulalang, dan layang-layang. Barangkali perasaannya berbicara dengan bayang kekasihnya yang pergi, tapi mungkin juga berteori perihal bumi.
Dari matanya seperti memendam cinta yang bersemi ketika pagi, dari aromanya bagai bunga mekar di tanah peri. Sungguh, jika ia bernyanyi pasti orang-orang berhenti sendiri-sendiri. Sayang, ia tak butuh puja puji.
Seseorang itu merupakan paras lain nan elok di kota ini. Dia seperti desa. Ia tak mewah tapi kakinya adalah pijakan bagi sayur mayur hingga sampai ke sini. Sungguh, jangan lagi kau benci. Dia tak punya dengki. Dia hanya manusia yang penuh kasih.
2019
Seseorang duduk tenang memandang burung, lalulalang, dan layang-layang. Barangkali perasaannya berbicara dengan bayang kekasihnya yang pergi, tapi mungkin juga berteori perihal bumi.
Dari matanya seperti memendam cinta yang bersemi ketika pagi, dari aromanya bagai bunga mekar di tanah peri. Sungguh, jika ia bernyanyi pasti orang-orang berhenti sendiri-sendiri. Sayang, ia tak butuh puja puji.
Seseorang itu merupakan paras lain nan elok di kota ini. Dia seperti desa. Ia tak mewah tapi kakinya adalah pijakan bagi sayur mayur hingga sampai ke sini. Sungguh, jangan lagi kau benci. Dia tak punya dengki. Dia hanya manusia yang penuh kasih.
2019
Komentar
Posting Komentar