Puisi Muhammad Alfariezie
Betapa
Banyak yang
menginkan waktu untuk bercinta, membicarakan asmara sampai sekedar membual. Detik
dan menit memang memiliki nilai yang lebih dari 24. Saat bersama keluarga dan
sang kekasih bernilai 90, bersama kawan 80 namun sendirian, tidaklah berlebihan
jika tidak ada nilainya kecuali ketika belajar atau menjalin hubungan yang
penuh kasih sayang bersama sesuatu yang tidak terlihat.
Pacarku sering
sekali memintaku untuk memberikannya waktu lebih. Kira-kira sekitar lima jam. Sebenarnya
itu bukan perkara sulit hingga aku berjanji bahwa lima jam adalah aku untuknya.
Tapi aku kadang menyesatkan diri. Aku mengingkari janji. Pacarku sedih. Aku sadar
bahwa yang kulakukan adalah salah. Kadang aku mengingkari janji hanya alasan
sepele yaitu bermain gitar dan menulis lagu.
Daun-daun yang
berguguran memang bukan masalah tapi juga bisa menjadi masalah jika dibiarkan
berserak di pekarangan. Seperti itulah yang terjadi padaku. kubiarkan
kebohongan-kebohongan yang sepele. Kubohongi kekasihku terus menerus sampai ia
muak. Aku menangis ketika ia mati. Mati karena selalu kubohongi. Ia menganggap
bahwa dirinya kalah cantik dan sexy dengan gitar elektrik.
Penyesalan tentu
tak dapat kubendung. Aku berjalan dan hanya sendiri karena
setiap kali melihat gitar, aku seperti melihat pisau tajam yang menembus
jantung kekasihku. Aku menangis. Tak ada lagi inspirasi untuk kumenulis puisi
apalagi bernyanyi. Setiap sudut yang kupandang hanya ada bayang senar-senar
gurita yang ingin melontarkan noktah. Segala yang kuhirup hanya sepi yang ingin
sekali menggali salahku hingga ke akar perasaanku.
2019
Komentar
Posting Komentar