Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Cerpen Muhammad Alfariezie

  Wartawan Lain Mendorongku hingga Terperosok ke dalam Jurang   Investigasi bersama wartawan lain membuat diri ini hampir mati. Wartawan dari media misteri lain mendorongku dan wahyu. Kami   terperosok ke dalam jurang.   Ada yang sengaja mendorong kami. Wartawan berambut klimis dan berseragam itu ingin menghasilkan berita yang tak memiliki saingan.   Aku dan Wahyu terjebak berjam-jam di dalam jurang. Kami kembali setelah tertatih-tatih menaiki dinding tanah yang terjal. Sekuat tenaga dan berhati-hati, kami mencengkram rumput dan akar-akar gantung agar tidak berakhir di daerah yang gelap dan lembab.   Tubuh kami pun terluka karena deras terjatuh. Tubuh ini meluncur di atas tanah dan ranting-ranting perdu.   Aku dan Wahyu baru pertama kali bertemu. Kami saling mengenal melalui media sosial. Ketika memproyeksikan untuk mencari tahu tentang siluman babi di hutan Cinunang, aku segera mencari orang yang bertempat tinggal di sana. Muncul...

Karya Sastra Muhammad Alfariezie

    Bukan Guru atau Dosen yang Mengajarkan Merapihkan Rumah   Ruang tamuku telah kubersihkan dan kurapihkan hingga terlihat nyaman. Aku selalu mengamalkan ajaran yang diberikan ibu setiap bangun tidur dan sebelum mandi. Menyapu, mengepel dan mengganti taplak meja adalah kegiatan yang selalu kulakukan sebelum memulai kerja.   “Bukan guru atau dosen yang mengajarkanku menyapu dan merapihkan rumah. Guru memang pernah menyuruh murid-muridnya piket. Tapi, sekadar menyuruh. Tata cara menyapu dan mengepel? Seingatku tak pernah mereka praktekkan. Dosen? Bagi mereka menyapu dan   mengepel tidak penting. Yang penting adalah materi ilmu komputer dan manajemen. Mungkin, karena itulah tukang sapu jalanan kota dianggap remeh temeh. Padahal, tanpa sapu alangkah kotor rumah megah berdinding marmer hingga bertembok kaca.”   Aku menyapu dan mengepel hingga menggeser meja dan kursi agar sampah-sampah dan noda di bawahnya tak terlampau lama diam di situ. Bukan ...

Manis Gula-Gula

Manis Gula-Gula   “Sayang. Kok kamu selalu ngebuat aku menunggu. Janji-janji kamu itu manis gula-gula. Bikin aku sakit perasaan,” kata seoarng perempuan kepada cowoknya di kedai kopi modern yang terletak di dalam pusat perbelanjaan modern.   Aku yang sedang menikmati suasana   kesendirian, sontak menahan tawa. Bukan tidak berani. Tapi, menghargai si perempuan yang ingin dimanja kekasihnya. Selain itu, aku mencoba memberi keleluasaan bagi si lelaki, supaya sukses merayu, entah pacar atau tunangannya. Yang dapat kulakukan hanya sesekali melirik ke arah mereka sembari mereguk kopi dan mengemil pisang panggang coklat keju agar tidak terlalu menarik perhatian sepasang sejoli yang mungkin, nanti berkasih-kasih.   Batinku berkata, alangkah lucu melihat perempuan yang manja sekali kepada kekasihnya. Lelaki itu sampai garuk-garuk kening dan kepala ketika merayu demi ingkar janjinya menerima maaf.   Kopiku hampir habis. Tapi, aku belum mau pergi. Pemanda...