Puisi Muhammad Alfariezie
Asmara
Berpendar
Seekor merpati jantan rela menukik demi asmara
Untukmu aku pun menyelami samudera
Ini mutiara jelita
Kuberi kepada yang juita
Kemarin aku seperti api tanpa udara
Aku hilang lentera
Kini aku kembali melihat cahaya
Sungguh tak elok jika berlagak buaya
Lagi pula hujan bisa tiba ketika kemarau
Begitu pun aku yang ingin perasaanmu hijau
Walau itu bukan cincin bucellatti
Tapi kau tahu tangan ini tak memungut upeti
Negeri ini merah warna hati
Dan bukankah kau tahu aku seperti nuri
Bernyanyi meski air tak ada yang memberi
Kekasihku, pulang pergi hanyamu yang kuingat
Sungguh engkau di pikiran dan kejiwaanku melekat
Engkau langit nan biru
Sederhana sebagaimana laut arafuru
Kakimu menghamparkan pasir putih begitu luas
Nihil yang buas, kosong yang culas, kau senantiasa merias
Cintamu remaja, cintamu dewasa bersahaja, cintamu lansia
raharja
Rindu, ya rinduku, rindu ini merah persija
Anak-anak desa hingga kota ingin melihat cantik jarimu
Perdana menteri hingga dewan kangen kilaumu
Bukankah engkau istriku?
Engkau inspirasi bagiku dan anak-anakku
Tanpamu, mungkin aku pintar hingga selalu berkelakar
Barangkali wajah orang-orang kucakar
Rerumah penduduk kumasukkan macan akar, maka
Ini perhiasan ialah tanda asmaraku kepadamu telah
berpendar
2020
Komentar
Posting Komentar