Prosa Muhammad Alfariezie
Inspektur
Merdika
Sesekali guntur terdengar di tengah malam yang gerimis.
Inspektur Merdika masih menulis laporan usai penangkapan pengedar sabu-sabu dan
ganja serta alprazolam di daerah teluk kharisma. Sebagaimana biasa, antara satu
jam hingga dua jam usai penangkapan pasti keluarga tersangka selalu datang
untuk meminta damai. Masuklah orang tua tersangka ditemani Bripka Dasarni ke
dalam ruang inspektur yang sedang sibuk menulis laporan.
“Pak, orang tua tersangka ingin bertemu,” kata Bripka
Dasarni sebelum suami istri itu duduk.
“o, iya, diterima,” kata inspektur merdika sembari
mengayunkan tangan dan menatap Bripka Dasarni memberi kode bahwa ia boleh keluar.
“Ada keperluan? Kenapa musti datang sekarang? Tersangka
belum bisa ditemui, dia masih di ruang
penyidikan,” lanjut Inspektur kepada mereka.
“Tolong pak. Saya hanya punya satu anak. Saya rela
menjual tanah asal dia bisa bebas. Di penjara justru akan membuatnya mengenal
gembong-gembong,” kata ayah tersangka memelas.
“Bapak tak perlu memelas. Saya ini hanya menjalankan
undang-undang. Di dalam undang-undang tak boleh menerima uang, dan membebaskan
tahanan. Lagi pula duit bapak tidak bisa saya pakai untuk merenovasi kantor
ini,” jawab Inspekur lalu memandang kedua orang tua tersebut.
“Tolong kami pak,” kata ibu tersangka sembari menyodorkan
uang lima juta ke Inspektur.
“Kalau begini, ibu bisa terjerat pasal penyuapan petugas.
Ini sudah malam, lebih baik pulang. Besok siang baru tersangka boleh dibesuk.
Saya tidak bisa membebaskan tersangka. Barang buktinya jelas banyak sekali dan
ada tiga jenis,” kata Inspektur sembari berdiri, lalu, setelah berbicara ia pun
mengantar ke dua orang tua itu ke luar ruangan.
Bapak dan ibu tersangka pun keluar dari kantor yang
memiliki luas kurang lebih satu hektar setengah tersebut. Malam masih gerimis,
dan mereka hanya menggunakan motor untuk membebaskan anaknya. Sementara
pelindung tubuh hanyalah mantel yang tak ada celananya. Helm pun mereka gunakan
dan mesin motor menyala, lampu menyorot, kemudian mereka keluar menyeberang
jalan menuju rumah yang tadi digerebek Inspektur serta timnya.
Dalam ruangannya, inspektur kembali fokus menyelesaikan
laporannya di depan komputer. Kopinya telah dingin, namun tetap ia reguk
kemudian menyalakan rokoknya. Satu-persatu anggota timnya izin pulang,
sedangkan dia masih menandatangani laporan. Sejenak ia termangu, mengingat
kedua orang tadi yang hanya memiliki satu anak dan takut kalau anaknya
bertambah parah usai di penjara.
Ia pandangi sajadah, peci dan sarung satu-satunya yang ia
punya di kantor itu. Mungkin barang ini bisa menolong anak itu dari
lingkarannya nanti. Tak pikir-pikir ia langsung mengambil benda-benda itu dan
menghampiri tersangka. Meski iba, tapi Inspektur bukanlah sosok yang kejiwaannya
lemah. Dua puluh tahun dia menjalani profesi sebagai tukang tangkap pengedar
dan pemakai narkoba. Meski tangkapannya ada juga yang anak-anak di bawah umur,
tapi tetap saja mengedarkan barang haram bukanlah kenakalan remaja yang bisa
diterima. Lagi pula tersangkanya saat ini sudah berusia dua puluh empat tahun.
“Hey, kemarilah,” ajak Inspektur kepada tersangka yang
merenung memeluk lutut. Sementara anak itu tak berkata apa pun, ia hanya
merunduk.
“Kau solat?” tanya Inspektur kepada anak itu.
“Solat pak,” jawab tersangka yang masih juga menundukkan
kepalanya.
“Ini ambil dan laksanakan!”
Inspektur Merdika pun tersenyum merespon gerak tersangka
yang segera mengambil air wudhu di dalam kamar mandi sel tahanan kepolisian.
Lekas ia ajak tubuhnya yang sedang menyender di tembok sisi jeruji besi untuk
ke sofa. Sebelum rebah, lebih dulu ia nyalakan televisi. Malam ini ia piket. Tapi
ia hanya sendiri karena briptu Amin malaria, maka terpaksa Inspektur Merdika
melaksanakan sendiri.
Jelas sekali sofa yang saat ini menjadi tempatnya tidur
tidaklah senyaman kasur di kamarnya. spring
bed yang ia miliki luas dan muat orang tiga, sedangkan di sofa itu—untuk
memiringkan badannya saja, ia kesulitan. Namun, tidur di sofa bukanlah hal yang
baru baginya. Kantor yang angker pun tidak sama sekali merubah prinsipnya untuk
selalu menjaga penjara. Walau kadang televisi di kantor ini sering menyala dan
mati sendiri, dan kerap terdengar derap langkah, tapi baginya itu sama seperti
kendaraan yang memenuhi jalanan ibu kota.
Malam gerimis pun berganti. Fajar telah menerbangkan
sayap-sayapnya. Inspektur Merdika yang baru tidur selama tiga jam kemudian
bangun, lalu bergegas berwudhu dan melaksanakan solat subuh menggunakan
sajadah, sarung dan peci kantor. Usai solat ia membuat roti dan menyeduh kopi. Burung-burung
pun mulai bercericit, satu persatu anggota timnya datang untuk melaksanakan
giliran piket.
Mesin kendaraannya pun menyala. Lima menit berlalu— avanza
silver yang bodinya lecet sana lecet sini pun melaju meninggalkan jejak di
parkiran kantor. Sambil fokus menyetir dan memaju mundurkan perseneling— Inspektur
Merdika tersenyum membayangkan ia dan anaknya berbincang-bincang mengenai masa
depan. Ia putar lagu-lagu riang. Ia bersiul-siul sembari tangannya berputar-putar
di setir mobil. Sampai di lampu merah ia merasa lapar, maka tangan kirinya
sekejap memegang perut. Tapi, Inspektur merdika yang setiap pulang selalu
membayangkan anaknya itu, tahu bahwa buah hatinya suka sekali nasi uduk Bi
Aminah yang warungnya terletak tak jauh dari rumah mereka.
Tak pikir-pikir, ketika sampai di warung Bi Minah, maka Inspektur
Merdika langsung membuka jendela mobil kemudian memesan dua bungkus nasi uduk
dan empat bakwan. Tapi bukan Bi Minah yang mengantar pesanan Inspektur,
melainkan anak lelakinya yang sepantar dengan buah hati polisi berkulit putih
dan bertubuh kekar serta berambut panjang tersebut.
“Kamu belum tidur, arman? Matamu cekung seperti usai
ngisap sabu,” tanya Inspektur Merdika kepada anak Bi Minah sembari tangan kanannya
bersandar di pintu yang jendelanya terbuka.
“Tidak pak. Saya tidak tahu apa itu. Saya memang belum
tidur, tapi karena nonton bola,” jawab arman.
“Bibirmu ke kanan dan ke kiri, padahal tak bicara.
Kasihan ibumu,” kata Inspektur sembari mengambil kembalian lalu menutup pintu
mobilnya.
Sembari fokus menyetir, Inspektur geleng-geleng kepala
karena mengingat wajah arman yang matanya cekung dan keringat di kepalanya
membasahi kening dan wajahnya, padahal ini masih pagi dan jalanan basah karena
hujan semalaman. Perasaannya berkata, anak zaman sekarang rusak karena narkoba.
Waktunya tidur malah dimanfaatkan untuk mengisap butir-butir. Mana harganya
mahal, tapi sayang dia tinggal di lingkunganku, dan sungguh berat jika aku
harus menjadikannya target operasi karena Bi Minah sangatlah baik. Waktu aku
belum gajian dan harus membayar biaya rumah sakit Sinta, dia rela nasi uduknya
kuutangi.
Suara gesekan roda besi pagar rumah Inspektur Merdika pun
terdengar. Mobil ia masukkan di garasi. Setelah menutup pintu mobil ia berjalan
sembari tersenyum dan menenteng sarapan. Tapi, betapa ia terkejut dan senyum
pun buyar ketika melihat anaknya gelabakan. Ada yang disembunyikan anaknya, maka,
Inspektur Merdika langsung meletakkan dua bungkus nasi uduk serta gorengan di
meja. Ia perhatikan wajah anaknya yang panik.
“Kenapa kamu seperti orang yang bingung?”
“Enggak pah. Tidak ada apa-apa kok,” jawab anaknya
sembari melirik-lirik bawah meja dan kursi.
“Sudah papah bilang, jangan lagi gunakan barang haram.
Kamu sudah jadi mahasiswa. Kamu tahu efek samping itu! Setiap hari papah
menangkap pemakai dan pengedar, tapi anak sendiri justru begini!”
Anaknya hanya merunduk, sedangkan Inspektur kembali dan
menutup pintu. Duar, perasaan anaknya kacau. Sarapan pun sia-sia karena mesin
kendaraan Inspektur kembali menyala dan suara gerbang terdengar lagi. Tapi,
anaknya yang sudah kecanduan sabu-sabu, taklah memiliki penyesalan, justru ia
kembali merakit bong dan mulai meleles lalu mengisap asap putih yang membuatnya
tolol, yang membuatnya hilang akal sehat, yang membuatnya malas makan, yang
membuatnya tak perduli terhadap keluarga, yang membuatnya tak perduli terhadap
makam ibunya.
Taklah salah yang dilakukan Inspektur Merdika. Setelah
memacu kendaraannya, dan usai ia menutup pintu, maka bergegas ia masuki kembali
kantornya. Jam istirahatnya tak bisa ia gunakan. Perasaannya berkata, ini serius,
tak bisa dibiarkan, dan aku bisa mati berdiri!
Pagi dimana burung masih bercericit—pagi itu ia menahan
rasa lapar dan kantuk. Setelah menutup pintu kantor, dan ketika melihat Bripka
Dasarni dan tiga tim lainnya sedang mengobrol di ruang depan, maka Inspektur
lekas memanggil mereka untuk mengikutinya ke dalam ruangan.
“Ada yang mendekak, pak?” kata Dasarni yang masih berdiri
di antara ketiga temannya.
“Aku perlu bantuan kalian,” jawab Inspektur sembari
memangku dagunya menggunakan kedua tangan.
“Siap, ndan,” kata salah satu anggota.
“Kalian segera ke rumahku, dan introgasi anakku, dan
setelah itu geledah semua kamar, tapi jangan menyakitinya, jangan menangkapnya,
jangan sampai masalah ini bocor hingga seluruh kantor tahu.”
“Aku belum paham maksud dari ini, pak,” Kata Bripka
Dasarni.
“Aku melihat wajah anakku seperti usai mengisap sabu. Tak
mungkin aku yang mengintrogasinya, karena pasti dia masih bisa berkelit,” Jawab
Isnpektur lalu mengusap wajahnya.
“Segera laksanakan, pak,” kata Bripka Dasarni dan mereka
bergegas menuju rumah Inspektur, sementara Merdika pun menunggu kembali tahanan.
Jalanan yang basah telah dilalui kendaraan yang
ditumpangi timnya inspektur Merdika. Dasarni tak percaya bahwa tugas ini
menjadi miliknya. Bagaimana mungkin memeriksa dan menggeledah rumah komandan
sendiri, katanya. Ia pun geleng-geleng kepala sembari tangannya menempel di
gagang yang terletak di atas pintu depan mobil. Sementara dua rekannya hanya
tidur di kursi belakang, dan yang menyetir hanya menjawab, “Benar-benar Inspektur
Merdika adalah orang yang menginginkan kebaikan peradaban. Dia memiliki jiwa
yang kuat. Di tengah tugas-tugas yang amat membuatnya sibuk, tapi dia tetap
memerhatikan keluarga. Wajar, selama menjadi anggotanya kita selalu di tes
urine, dan dia benar-benar perhatian pada orang-orang terdekatnya, dan dia tak
ingin keluarga serta teman-temannya terjerumus.”
Malang bagi anak Inspektur Merdika karena kecerdasan sang
supir sekaligus anggota polisi itu—yang memarkirkan mobil mereka lumayan jauh dari
rumahnya, maka anak laki-laki Inspektur tak sempat mengelak. Saat pintu
digedor, saat ia membuka, dan ketika tahu yang datang adalah polisi, ia tak
bisa lari dan tak bisa membereskan bong dan sabu yang tergeletak di bawah kasur
kamarnya.
Dasarni yang duduk di ruang tamu bersama anak Inspektur
merdika hanya geleng-geleng kepala ketika melihat mulut anak itu yang mengot
sana mengot sini. Ia pun hanya mengempaskan napas ketika melihat keringat
keluar dari tubuhnya karena efek sabu-sabu. Bripka Dasarni pun mulai memangku
tangannya di kedua kakinya, dan memandang anak itu. Anak yang tak tahu harus
bagaimana itu, yang hanya menundukkan kepala dan memelaskan wajah itu pun
mendapat perintah dari Bripka Dasarni, lelaki berbadan besar tinggi, berambut
gondrong dan selalu memakai tas selempang kecil itu—ia menyuruh agar anak itu
memandangnya.
“Kau tahu wajahmu itu sudah seperti hantu? Kau tahu nasi
uduk ini, yang hanya lima ribu ini lebih nikmat dari pada yang barusan kau pakai?” kata Bripka Dasarni
sembari meletakkan nasi uduk tersebut.
“Tolong pak, jangan tangkap saya. Bapak saya juga anggota
polisi, dia dinas di satuan narkoba juga,” jawab anak yang bingung tersebut
sembari memelas dan mengusap keringat yang meluncur dari kening ke wajahnya.
“Saya tak perduli. Kamu harus ikut ke kantor.” Sementara
anak itu menunjukkan telunjuknya ke foto Inspektur Merdika yang terpajang di
dinding di belakang Bripka Dasarni.
“Itu foto ayah saya, pak.”
“Jangan banyak bicara, itu barang buktimu. Dari mana barang
ini?” tanya Bripka Dasarni setelah
melirik ke rekannya yang kembali membawa barang bukti.
“Beritahu atau kau kami bawa?” kata rekannya sembari
meletakkan barang bukti tepat di depan anak Inspektur.
“Saya beli, pak.” jawab anak Inspektur sembari mengusap
keringat yang menetes di wajahnya.
“Beli di mana sialan!” kata Bripka Dasarni sembari
mengambil senpi dari pinggang sebelah kanannya.
“Ampun pak, ampun. Orang tua saya juga polisi pak, tolong
saya pak.”
“Kamu ikut ke kantor.”
“Jangan pak. Sabu ini dari Riki,” jawab anak Inspektur
yang dari tadi hanya menundukkan kepala.
“Riki siapa! Di mana rumahnya, di mana tempat nongkrongnya,
mana fotonya!” kata Bripka Dasarni sembari menodongkan senpi ke paha kanannya.
“Rumahnya yang menjual nasi uduk di simpang gang, pak.
Dia biasa main di rumah kawannya.
Namanya berti,” kata anak Inspektur.
Bripka Dasarni kemudian mengajak rekan-rekannya untuk
kembali. Tidak lupa pula barang bukti mereka bawa ke kantor. Namun, mereka
ingin memastikan rumah pengedar yang tadi dikatakan anak Inspektur, maka mereka
lewati warung Bi Minah yang masih dikunjungi pembeli, tapi Bripka Dasarni tak
mau membuat Inspektur marah, maka ia putuskan segera kembali ke kantor dan
menyampaikan laporannya pagi ini.
Kantor yang sepi membuat suasana hening dan menimbulkan
perenungan yang dalam bagi Inspektur Merdika. Satu jam sudah ia memikirkan
tentang kehidupan di desa, di kampung halamannya, di tanah kelahirannya. Di
sanalah ia berdiri menjadi pandu ibunya. Dia yang dulu masih kecil selalu
memanjat kelapa untuk ibunya. Di tempat yang tenang itu, di lokasi yang sejuk
itu—hingga dewasa ia sama sekali tak tahu tentang narkoba. Yang dia lakukan di
sana setiap hari adalah membantu ayahnya di sawah dan kebun serta menerima ilmu
di bangku pendidikan, lalu mengaji dan mencuci piring serta mengerjakan tugas
dari ibu guru.
Inspektur pun mulai mereguk kopi yang ia seduh sendiri,
lalu lanjut menulis surat permohonan pindah tugas. Ia pandangi pena dan kertas di atas mejanya, lalu ia
keluar sejenak dan memerhatikan sofa yang tadi malam menyanggah tubuhnya.
Apakah tadi malam adalah hari terakhirnya menggunakan sofa tersebut, dan apakah
tadi malam ialah hari terakhirnya berbicara dengan tersangka, lalu apakah tadi
malam adalah hari terakhirnya menolak orang-orang yang meminta damai kepadanya?
Tepat ketika ia menandatangani surat tersebut datanglah Bripka Dasarni beserta
rombongan.
“Lapor ndan. Kami telah mengetahui siapa pemasok narkoba
untuk Aldi. Dia tak jauh dari rumah komandan. Rumahnya jualan nasi uduk, dan warungnya
tepat di simpang jalan gang rumah komandan. Anak itu namannya riki,” kata
Bripka Dasarni sembari memberi barang bukti, sementara Bripka Dasarni dan
rombongan masih berdiri di depan meja Inspektur.
Inspektur Merdika taklah langsung menjawab. Ia ingat-ingat
kejadian tadi pagi saat menegur riki. Inspektur Merdika memejamkan mata lalu
menatap ke lampu kemudian luar ruangan. Perasaannya bertanya-tanya, “apakah
selama ini dia yang memberi sabu ke anakku? ya Tuhan—bagaimana aku bertindak? Ibunya
pernah menolongku.” Inspektur Merdika pun berdiri lalu menepuk pundak Bripka
Dasarni, dan berkata, “Dia target kalian, tapi jika nanti barang buktinya tidak
sampai satu Ji, maka lepaskan saja, beri kesempatan satu kali lagi.”
“Siap ndan,” kata mereka kompak lalu keluar dari ruangan
tersebut.
Inspektur merdika yang sejak tadi menunggu kedatangan pak
Dir pun dapat bernapas lega karena setelah meruguk kopi dan mengembalikan gelas
ke meja—ia melihat pak Dir yang baru saja tiba dari pintu ruangan yang terbuka.
Lekas ia cari-cari Amplop di dalam saku meja. Tapi tak ada satupun yang
tersisa. Sementara ketika ia bertanya pada timnya pun sama saja, mereka tak ada
yang memiliki amplop, maka berjalanlah Inspektur ke warung depan. Beruntung warung
ini masih memiliki dua amplop.
Tak pikir-pikir, Inspektur Merdika bergegas menelpon
anaknya di rumah. Sembari berjalan ia menunggu anaknya menerima telpon darinya.
Empat puluh lima detik menunggu ia pun mendapat jawaban. Anaknya menangis dan
meminta maaf karena sudah berulang kali ia ingatkan tapi masih saja memakai
barang haram.
“Siang ini kita berangkat ke rumah nenek. Segeralah bereskan barang-barang dan pakaian
yang akan kamu bawa. Jangan lupa baju-baju papah,” kata Inspekstur Merdika yang
sejenak menghentikan langkahnya, lalu segera ia tutup pembicaraan itu, kemudian
setelah mengembalikan Handpone ke kantung celana sebelah kanan ia kembali
melangkah ke ruang pak Dir. Sebelum masuk ia lebih dulu mengetuk pintu. Pak Dir
yang baru saja mereguk kopi pun memersilahkannya duduk.
“Hari ini adalah hari terakhir saya sebagai kanit satuan
khusus narkoba di kantor dan daerah ini, pak. Ini surat pengunduran tugas saya.
Apapun yang terjadi saya akan pulang kampung,” kata inspektur Merdika semabari
menatap mata Direkturnya.
“Apa-apaan ini?” kata pak Dir mengembalikan surat
tersebut.
“Saya tidak bisa selalu di sini. Kalau di sini saya harus
rela anak sendiri direhabilitasi atau ditangkap oleh polisi lain! Saya harus
meninggalkan kota ini untuk menyembuhkan buah hati yang kecanduan,” kata Inspektur Merdika sembari memandang Direkturnya
lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja.
“Saya masih butuh kamu! Dua puluh tahun pengalaman kamu di sini, ah. Kamu
yang paling dikatuti di daerah ini! Lalu
siapa yang akan menggantikan?” Jawab pak Direktur yang telah berdiri di hadapan
Inspektur Merdika.
“Sudah waktunya, pak. Saya sudah tidak bisa melanjutkan
tugas di sini. Siang ini saya pasti pergi.”
“Setiap kali kamu menembak pasti alasannya tepat, setiap
kamu menangkap pasti memiliki alasan yang tepat, setiap kali dada pengedar kau
tembak pasti alasannya tepat. Aku akan segera mengurus kepindahanmu. Ini bonus
karena dua puluh tahun kamu mengabdi denganku. Kamu benar, sudah tiba waktu kita
berpisah.”
Inspektur Merdika langsung berdiri dan memeluk
Direkturnya. Pak dir pun membalas pelukannya dan meraih kepala anak buahnya sehingga
kening mereka beradu. Tiga puluh detik mereka hanya terdiam dan terpejam—pak Dir
sadar dari keharuan lalu mengantar Inspektur Merdika. Pintu ruangan pun terbuka dan pak Dir
mengantar Inspektur Merdika ke mantan timnya. Suana pagi yang begitu haru. Keempat
anggotanya memberi hormat kepada Inspektur Merdika, bahkan pak Dir langsung berdiri
di depan keempat anggota, kemudian memberi hormat sehingga sebagaian tahanan
pun berdiri menyaksikan peristawa itu.
Sebelum mengemudikan kendaraannya—Inspektur Merdika
berteriak kepada Bripka Dasarni. “Jangan lupa Riki.” Bripka Dasarni mengedipkan
mata dan mengacungkan jempol. Pak Dir langsung mengajak Bripka Dasarni ke dalam
ruangan setelah mobil Inspekur Merdika menginggalkan parkiran. Di dalam mobil
yang nyaris sepuluh tahun menjadi miliknya itu—Inspektur Merdika mengusap
matanya yang nyaris menjatuhkan kejernihan. Telunjuk kanannya basah. Lima detik
mencoba mengendalikan perasaan, air matanya pun jatuh pula ketika mengenang
yang ia lakukan bersama-sama dengan Bripka Dasarni dan anggota lainnya. Mereka pernah
nyaris mati karena menggerebek salah satu bandar narkoba di kampung yang rawan
kejahatan. Bahkan mereka sudah adu tembak dengan beberapa orang yang tak
dikenal, yang diduga itulah komplotan pengedar bersenjata. Di kampung itu
mereka merasakan keganasan masyarakat yang sudah terkontaminasi narkoba,
masyarakat yang hidup dari narkoba. Di sana mobil mereka dihalangi— dipalang
dengan kayu-kayu, ember dan batang pohon hingga dilempari batu sehingga mobil
Bripka Dasarni kacanya pecah dan bempernya hancur karena menerobos palang. Bahkan
mobil itu nyaris terguling, tapi Bripka Dasarni berhasil membawa mereka keluar
dari kampung tersebut.
Bripka Dasarni yang waktu kejadian itu menolong salah
satu anggota yang terjatuh karena kesandung, dan berhasil berlari ke dalam
mobil dan segera menyalakan mesin mobil, dan mengorbankan mobilnya—tindakannya
itu taklah sia-sia. Pak Dir yang masih mencari Kanit baru pun mengangkat Bripka
Dasarni sebagai Katim, yaitu kepala tim. Hal ini harus dilakukan agar regu
macan bulan tetap melaksanakan tugas sebagaimana biasa.
Matahari pun mulai menampakkan kerajaannya. Inspektur
Merdika telah sampai rumah, namun ia tak memasukkan mobilnya ke garasi. Di dalam
mobil itu ia tersenyum ketika melihat anaknya sudah menunggu di halaman rumah,
dan tentu sudah mandi sehingga wajah lusuhnya karena begadang tak begitu
diperhatikan orang-orang. Lekas ia turun
lalu membantu anaknya memindahkan barang ke dalam mobil.
Mereka pergi meninggalkan rumah melalui simpang gang
dimana warung nasi uduk Bi Minah sudah tutup. Sembari mengarahkan setir mobil
ke arah kanan—Inspektur Merdika menatap rumah Riki. Handpone Inspektur Merdika pun berdering. Tangan kanannya meraih
telpon genggam di saku celana sebalah kanan. Ternyata Bripka Dasarni yang
menelpon. Ia mengatakan bahwa dia dan tim sedang melalukan perjalanan ke rumah tersangka yaitu Riki.
Inspektur Merdika masih terus menyetir. Sesekali ia
memandangi anaknya yang telah tidur. Lagi-lagi perasaannya berkata, “ya Allah,
ya tuhanku. Berilah yang terbaik bagi keluargaku dan keluarga Bi mimah.” Tapi
telpon segera berdering dan ternyata Bripka Dasarni. Ia melaporkan bahwa barang
bukti yang saat ini ditangannya memiliki berat satu ons. “Baiklah,” kata Inspektur
Merdika kemudian menutup telponnya.
“Aku kira dia hanya anak bawang yang mungkin hanya
memiliki satu Ji. Dasar otak udang—
Membantu ibu hanya sebagai kedok. Anakku pun jadi
korbannya. Ia pikir memberi anakku sabu akan mendapat informasi penangkapan. Beruntung
aku tak pernah bercerita tentang kerjaan dengan Alfin. Sudahlah, ini hanya
masalalu. Hidup baru telah menunggu. Dia telah ditangkap dan Bi Minah—
Aku yakin dia sanggup menerima kenyataan,” kata Inspektur
Merdika dalam hati, lalu, ia pun kembali memacu kendaraan usai membayar biaya masuk
Tol.
Inspektur pun tersenyum memandang sisi kanan dan kiri
yang ditumbuhi pepohon hijau. Ia membayangkan betapa segar kehidupan di
kampungnya nanti, ia membayangkan kerja sebagai polisi yang hanya stand by di kantor, ia membayangkan
menikmati hari pada aroma dan rasa di secangkir kopi hangat, ia membayangkan
memanen buah dengan anak dan ibunya, ia membayangkan berdoa di makam ayahnya,
namun ia membayangkan betapa jauh jika harus ziarah ke makam istrinya, tapi
perasaannya berkata, “ini demi Alfin. Inilah pilihanku.”
2020
Komentar
Posting Komentar