Prosa Muhammad Alfariezie


Kesehatan Rakyat

Satu kampung padat penduduk di pinggiran kota yang letaknya tak jauh dari pesisir adalah lokasi penjualan narkoba paling terkenal. Pemukiman penduduk yang rumahnya berdempet-dempetan tersebut memiliki tingkat pengguna narkotika paling banyak. Tapi, yang paling sering digunakan ialah jenis sabu-sabu, ganja dan ekstasi. Selain narkoba, di sekitar lokasi ini banyak sekali penjual minuman beralkohol dari kelas menengah hingga paling bawah. Para pemuda suka sekali jika ada yang hajatan dan menyewa organ tumbal, pasti mereka minta hingga larut malam supaya menjadi tempat untuk melampiaskan hasrat hura-hura, yaitu menikmati ekstasi, alkohol hingga sabu-sabu.

Bapak-bapak dan ibu-ibu serta nenek dan kakek yang tinggal di sana pun sudah terbiasa dengan pemandangan anak-anak mereka yang rambutnya lusuh, bajunya sobek sana sobek sini, dan badannya sedikit dekil. Bukan karena daerah ini sulit air bersih. Sungai yang lebarnya kurang lebih tujuh meter yang mengalir hingga lautan—
adalah sumber daya utama mereka. Namun, pendidikan dan ekonomi yang kurang baik merupakan faktor utama mereka menganggap kebersihan dan kerapihan adalah hal nomor sepuluh.

Orang tua di sana pun biasa mendengar diksi sabu, ganja, ngudang, tepar, kentang, sprempi, seji, skil, hingga doting. Seperti memakan nasi, kekata tersebut adalah minuman sehari-hari. Tak jarang pula banyak orang tua yang menggunakan narkoba dan miras. Bahkan ada yang tak sanggup membetulkan gentingnya yang bocor tapi mampu membuat bong dan membeli sabu-sabu atau ganja.

Katakanlah di sana ada seribu manusia, maka hitung-hitungannya adalah pengedar 200 dan pengguna 500, sedangkan yang tiga ratus adalah ibu-ibu rumah tangga, kakek dan nenek serta beberapa pemuda yang benar-benar hanya bergaul di luar lingkungannya yang sesak dan sumpek itu, dan juga tentunya para bocah. Sungguh-sungguh di sana memang panas, bukan lantaran cuaca tapi efek kurang kreatif orang-orangnya.

Pemerintah bukan tak tahu soal ini. Para dewan pun mungkin tahu, karena ada orang legislatif yang bermukim di sana. Menyedihkan. Tak ada upaya-upaya meningkatkan harkat dan martabat kampung yang ketinggalan zaman tersebut. Cobalah cari perpustakaan di sana, maka yang kalian temukan hanyalah batu-batu kali yang keras serta kelakar dari pemuda-pemudi bahkan ibu-ibu di sana. Membaca buku, di sana akan dikatakan orang gila. Rangking satu otomatis menjadi bahan kongekan.

Seperti itulah laporan yang hari ini kubaca tentang kampung tersebut. Benar-benar menjadi tantangan bagi inspektur baru sepertiku ini. Belum apa-apa, aku sudah dihadapkan dalam situasi yang memprihatinkan, dalam situasi yang menyulitkan. Aku belum memiliki pengalaman dalam menangkap pengedar narkoba. Usiaku baru tiga puluh tahun. Dua tahun kuhabiskan sebagai peserta didik, dan delapan tahun aku bertugas di ibukota sebagai kepala regu kesatuan anti huru-hara.

Aku memang berhasil menjalankan diplomasi dengan beberapa pengunjuk rasa yang terkenal angker, dan aku juga berhasil membubarkan pendemo yang membakar ban, menghancurkan gedung dan mobil. Mereka-mereka yang kacau itu berhasil kupukul mundur  sehingga aku memiliki rapot sangat biru dalam kesatuan.

Ayahku seorang prajurit tentara yang suka sekali memukul. Dia tak segan-segan memukul bokong hingga menampar pipiku jika aku tak melaksanakan solat atau melanggar kewajiban bernegara seperti mencuri mangga tetangga. Aku pernah kena tampar karena itu. Selain itu, waktu aku enggan mengikuti tes akademi kepolisian pun—
aku diancam dikeluarkan dari rumah dengannya. Terpaksa aku harus memutus cita-citaku untuk menjadi dokter.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang pandai membuat kue. Kue-kue buatannya selalu dijual ke tetangga-tetangga kami. Bukan tanpa alasan ia menjual kue-kue itu. Penghasilan ayahku sebagai prajurit tentara tidaklah cukup membiayi pembayaran listrik, pendidikan, kesehatan, hingga cicilan rumah dan biaya perabotan rumah tangga. Berkat bantuan ibuku itulah ayahku tak perlu repot-repot mencari sampingan kerja. Tapi karena ibuku harus membuat kue, maka yang ngurus kebersihan rumah ialah aku. Setiap usai sholat subuh, pasti aku sudah merapihkan tempat tidur, merebus air, hingga menyapu dan mengepel. Lalu usai pulang sekolah aku pasti langsung tidur, kemudian bangun saat senja dan melaksanakan kewajiban sebagaimana muslim, kemudian jika usai sholat isya aku pasti mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Aku paling suka pelajaran sains. Ilmu pengetahuan alam mampu memberi kita pemahaman yang menurutku sangatlah penting bagi peradaban. Karena mempelajari sains, aku mengerti bahwa betapa bahaya narkoba bagi perkembangan manusia.

Ayahku yang jiwa nasionalisnya begitu kuat, sangat benci sekali terhadap pemuda-pemudi yang menggunakan narkoba, apalagi aparat negara yang justru melancarkan peredaran barang haram itu. Ia ingin sekali menembak kepalanya. Sayang, ayahku hanya seorang tentara, maka ia sangat berharap padaku, dan aku berkesampatan untuk menjalankan amanah bapakku.

Siang yang gersang menjadi awal langkahku memulai rapat kordinasi menyusun rencana penggrebekan kampung narkoba tersebut. Usai membaca laporan yang sudah tertulis sejak tiga tahun lalu aku lekas memanggil semua timku yang berjumlah lima orang. Mereka adalah Junaidi, Arifin, Kusnaidi, dan Jhon. Semua anggotaku memiliki kapasitas yang berbeda namun memiliki kelebihannya masing-masing. Menurut data yang kubaca, Junaidi dan Arifin adalah sosok penyabar sehingga menurut analisaku, mereka adalah orang yang cocok untuk menyamar. Sedangkan Kusnaidi dan Jhon adalah sosok yang keras, tempramen dan kerap memukul tahanan. Mereka sangatlah tidak cocok dibagian penyamaran.

“Selamat siang! Maaf  karena hari ini kita baru mulai kerja.  Kemarin saya masih mempelajari beberapa laporan,” kataku sembari membuka lembar-lembar laporan, sementara mereka semua duduk santai, sebagaimana anggota bulu sergap, yaitu menyelondorkan tubuh ke kursi.

Terus terang, ini pengalaman pertamaku, sehingga kau agak kaget melihat anggota polisi yang bertingkah seperti mereka. Waktu aku di anti huru-hara, ketika aku memimpin rapar kordinasi, anak buahku pasti duduk tegap.

“Kalian semua pasti tahu tentang kampung narkoba, maka tak perlu kujelaskan lagi. Langkah awal kerja kita adalah ke sana.” kataku sembari meletakkan kedua tangan di atas meja, usai akrobatik jari-jemari agar lebih asyik dilihat ketika berbicara. Ha ha, hal ini kudapat ketika menjalani pendidikan kepribadian saat pendidikan.  
“Kita nihil Informan, ndan. Daerah itu sulit dijangkau.  Banyak sekali gang, dan orang-orangnya tak koperatif.  Sudah dua kali kami operasi di sana, tapi gagal, maka iptu parmin lengser dari jabatannya,” kata kusnaidi sembari memainkan pena.
“Siapa target kita, ndan? Kita telah gagal menangkap cihuy dan si pincang. Cecunguk itu berhasil kabur karena banyak warga yang menghalangi,” kata Junaidi yang pandai mengakrobatkan tangannya ketika berkomunikasi.
“Aih, di sana kita punya puluhan target. Sekali operasi kita bisa membawa pulang sepuluh hingga dua puluh pengedar serta pemakai,” kata Jhon yang bertubuh besar tinggi. Wajahnya ketika bicara benar-benar seperti bukan polisi. Wajar, sudah lima belas tahun ia di sini. Sudah ratusan pengedar kena tembaknya. Dia adalah kepala tim. Dialah orang yang dapat kuandalkan untuk memberantas narkoba di kampung itu.
“Sementara target utama kita seperti yang dikatakan jhon. Cari tahu tentang cihuy dan si pincang. Tapi, aku yakin, mereka punya penyuplai yang juga tinggal tidak jauh dari sana,” kataku sembari menutup buku laporan.
“Junaidi dan Arifin, kalian baru bertugas di regu ini. Otomatis kalian tidak ikut operasi kemarin. Kalian kutugaskan menjadi tukang somay yang secara bergiliran akan memasuki kampung itu. Mulai pukul tiga hingga jam lima adalah waktu kalian di sana. Aku sudah menyewa bedeng di sana. Gerobak sudah siap. Ketika tepat pukul setengah tiga kalian harus sudah di sana karena tukang somay yang asli akan mengantar keperluan kalian!” kataku sembari menghampiri mereka dan menepuk pundak mereka.
“Siap ndan!” kata mereka berteriak.
“Aku percaya kepada kalian.”
“Dan Jhon, serta Kusnaidi bersamaku mengintai dari dalam mobil!”
“Siap ndan!” kata mereka berteriak.

Rencana penangkapan ini memanglah baru pertama kali kulakukan. Tapi aku bukanlah orang yang pasrah pada keadaan serta menunggu keajaiban. Bapakku sangat benci dengan orang yang seperti itu. Ia selalu menyuruhku agar selalu menyiapkan segala sesuatu sebelum memulai tindakan, maka ketika semua keluar dari ruangan, aku bergegas ke toko kamera. Kubawa ahli-ahli cctv untuk memasang kamera di beberapa sudut gerobak. Kamera ini selalu menyala siang dan malam, Hal ini tentu saja karena gerobak penyamaran akan kami letakkan di luar rumah kontrakan.

Junaidi dan Arifin tak perlu tahu mengenai hal ini, karena aku takut justru akan membuat mereka gelisah karena harus membawa gerobak yang sudah dirancang. Apalagi pengintaian ini akan berlangsung lumayan lama, waktu yang kutentukan ialah satu minggu paling cepat dan paling lambat dua minggu. Tapi, aku sangat yakin bahwa anggotaku akan menyelesaikan misi jauh lebih cepat dari pada yang kuperkirakan.

Laporan-laporan data tentang junaidi dan arifin sangatlah memuaskanku. Tingkat kecerdasan dan ketenangan mereka di atas rata-rata. Dan lagi, mereka masih muda, yaitu seumuran denganku. Mereka memiliki analisa yang baik. Menurut laporan, mereka mampu memecahkan analisa dari dua kasus dalam waktu satu jam. Waw, itu sangat mengesankan, dan mereka telah membuktikan. Hasil tiga hari pengintaian mereka memuaskan. Aku, kusnadi dan jhon sangat terkesan hingga kami bertiga kompak tepuk tangan di depan layar yang berada di ruanganku.
“Gila. Sangat gila. Di luar jangkauan, ndan! Pengintaian cihui dan pincang berhasil. Lihat, mereka tak segan bertransaksi depan orang banyak, bahkan di depan pedangan somay,” kata Jhon yang tangannya masih di atas layar intai.
“Kapan kita bergerak, ndan?” Kusnaidi berkata sembari menyalakan rokok.
“Menurutmu darimana kita mulai?” kataku kepada Kusnaidi.
“Sesuai kondisi, ndan.”
“Cihuy adalah target utama,” Jhon berkata sembari menyalakan rokok.
“Menurut kalian apa kita perlu regu gabungan?”
“Bahaya, ndan.  Setiap regu bersaing, belum lagi penghianatan dari kelompok lain,” tegas jhon sembari mengembuskan asap rokok.
“Segera hubungi Arifin dan Junaidi— magrib adalah waktu yang tepat kita kepung rumah cihuy,” kataku meyakinkan mereka.

Siang yang teduh dan penuh motivasi tiba-tiba berubah menjadi siang yang sama sekali tak mengasyikkan. Belum sempat Kusnaidi menghubungi Arifin dan Junaidi, betapa jantungku berdebar setelah melihat tayangan bahwa gerobak somay mereka dipecahkan kacanya, dan kontrakan mereka diobrak abrik dan dua anggotaku dikepung oleh lebih dari 20 orang. Begitu cepat kejadian itu berlangsung, layar tiba-tiba berubah menjadi jutaan milyar semut. Jhon menggebrak meja dan berkata, anjing! Kusnaidi berdiri dari duduknya dan berkata, kita harus segera ke sana sekarang juga, ndan! Aku bagaimana? Aku langsung berlari ke ruang pak Direktur, sementara Jhon dan Kusnaidi pun ikut berlari.

“Ada pak Dir? hey nona, apa pak Dir di ruangan?” kataku yang geram kepada sekretarisnya yang asyik main handpone sementara pertanyaanku tak dianggap.
“Bapak sedang ke jakarta,” katanya yang tiada senyum, justru wajahnya seperti tak senang. Tapi, tak ada waktu untuk meladeni perempuan yang tak beretos kerja tersebut.
“Kanit, kita harus ke sana sekarang juga!,” kata Jhon sembari mengarahkan telunjuknya ke arah kampung tersebut.

Jhon yang perkataannya tak kuhiraukan hanya duduk sembari menyalakan rokok sedangkan Kusnaidi mengikutiku yang menuju ke ruang regu inspektur alfin. Dialah yang paling lama bertugas di kesatuan narkoba kepolisian daerah ini. Ia memiliki tim berjuluk harimau hantu. Timnya selalu bekerja siang dan malam dan berhasil menangkap gembong narkoba yang sudah main ratusan kilogram sabu.

“inspektur, anggota saya dalam masalah. Saya perlu bantuan inspektur,” kataku setelah sampai di ruanganku.
“Tidak mungkin kami memasuki kampung itu hanya tiga orang saja,” lanjut Kusnaidi sembari menyalakan rokok.
“Hey, lihatlah inspektur dan kusnaidi. Saya hanya sendiri di ruang ini. Lagi pula tak ada surat perintah gabungan dari pak Dir,” Jawabnya yang masih duduk santai di kursi putarnya lalu ia mereguk kopinya, dan lanjut berkata, “Siang ini saya ada janji dengan saudara, saya harus pulang.”

Langsung kututup pintu ruangannya. Sungguh ini adalah pengalaman pertama yang sangat menakutkan. Aku harus memasuki kampung narkoba yang mana anggotaku dalam bahaya di sana, sementara kami hanya tiga orang. Tapi aku kembali mengingat bagaimana dulu aku dan seratus anggota memukul mundur ribuan pendemo. Aku pun mengingat wajah emosional ayah ketika menceritakan tentang pemuda yang kecanduan narkoba. Tekadku pun sempurna setelah Jhon menghampiri kami seraya membuang puntung rokoknya lalu berkata, siang ini juga kita harus ke sana, ndan!

Kusnaidi pun meminta konci mobil lalu segera berlari menyalakan mesin kendaraan setelah kuberikan padanya. Aku dan Jhon pun berlari bergegas memasuki mobil. Sungguh-sungguh perjalan cemas kami laksanakan. Lima belas menit kami sampai di persimpangan dimana gang masuk kampung itu hanya berkisar lima puluh meter. Belum sempat kami turun, betapa aku kaget ternyata Junaidi dan Arifin berlari keluar gang. Jhon segera keluar pintu lalu memanggil mereka. Mereka pun menengok dan menuju ke sini, namun saat baru setengah menyebarang, nampak puluhan orang menenteng kayu mengejar mereka. Tak pikir-pikir, jhon langsung melepaskan tembakan. Tor. Tor. Satu orang terjatuh karena kakinya ditembus timah panas.

Orang-orang yang mengejar Arifin dan Junaidi pun kembali masuk gang dan menghilang entah ke mana. Sementara Jhon langsung berlari ke dalam gang. Senpi Arifin dan Junaidi pun kuberi, sementara Kusnaidi yang ingin masuk ke dalam gang—
Ia kuperintahkan untuk stand by  di dalam mobil. Beruntung Kusnaidi yang baru satu minggu menjadi anggotaku taat terhadap perintah inspektur barunya. Kami bertiga pun berlari menyusul Jhon, namun baru dua puluh meter masuk gang, betapa aku terkejut. Apa yang terjadi? Yang terjadi ialah jhon sudah bergulat dengan dua orang kampung, maka aku yang mengingat pukulan ayah karena dulu pernah ketahuan memaling mangga tetangga,  langsung menembak mereka semua. Tor. Tor, mereka meringis-ringis memegang kaki. Semua orang keluar, dan ada juga yang memerhatikan kejadian ini  dari dalam jendela.
“Diam kalian semua, jika menghalang-halangi kami, matilah,” kata Arifin sembari tangan kanannya menodongkan pistol, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membangkitkan Jhon.
“Di mana cihuy dan pincang?” kata Jhon kepada dua orang yang tadi bergulat dengannya.
“Aku tak tahu. Aku tak tahu,”  kata mereka sembari menundukkan kepala sementara kedua tangan mereka memegang betis yang terkena timah panas.
“Aku tak mau kalah, aku langsung menelpon ambulan untuk segera membawa mereka ke rumah sakit.”
“Tor. Tor,” Jhon melepas tembakan ke udara, lalu berkata, “dimana cihuy dan pincang!”
“Ampun pak. Ampun, jangan tembak lagi, kami hanya melaksanakan perintah. cihuy dan pincang masih lari menyeberangi sungai,” kata mereka menangis.
“Siapa RT di sini?” kataku pada kerumunan.
“sa.. sa.. saya pak,” jawab seseorang bertubuh tinggi kurus yang nampak jelas kakinya gemetar, wajahnya pucat.
“Jaga orang ini, nanti ambulan akan segera kemari, dan jangan coba-coba melawan kami, bilang ke setiap warga,” kataku kepadanya.

Kami berjalan melewati kerumunan orang yang menonton. Sementara sambil berjalan, Arifin meminta maaf kepadaku karena telah gagal. Tapi tegas kujawab, nanti saja bahas ini setelah kita sampai di kantor. Jhon pun berlari karena melihat pergerakan seseorang yang mencurigakan. Benar-benar tak kuduga, plastik sabu-sabu, puntungan ganja, botol miras, sisa kondom, kartu gaple dan remi bertebaran di jalan-jalan gang kampung ini. Tapi itu bukanlah masalah utama, karena yang paling penting adalah cihuy dan si pincang.

cihuy dan pincang pun berhasil kami ringkus tak lama setelah kami sampai di sungai. Mereka bersembunyi di salah satu rumah yang cukup besar. Kenapa kami bisa tahu dia berada di sana? karena Jhon yang tadi melihat pergerakan seseorang dan ketika kami sampai di sungai, Jhon melihat pintu rumah yang lumayan besar yang bercat putih serta berpagar warna emas, juga terdapat dua mobil mini bus keluaran baru—pintu rumah itu memang rapat sementara pagarnya masih bergoyang-goyang seperti baru ditutup.

Jhon yang melihat sesuatu segera berlari dan memerintahkan junaidi dan arifin tetap di sini, aku ia ajak untuk segera menuju pintu depan. Aku sempat terjatuh karena kesandung batu kali yang puluhan tahun menempel di tanah, tapi Jhon hanya memerdulikan buruannya. Tor, sembari berlari ia lepaskan tembakan ke udara. Lalu aku tak melihatnya lagi, tapi aku langsung berdiri dan berlari menyusulnya. Betapa aku kaget karena melihat kehebatan anggotaku yang berambut gondrong ini. Buas sekali. Bibir orang botak yang tubuhnya seukuran sama dengan Jhon pecah, kakinya berlubang karena timahnya. Dia adalah cihuy, dan tiang besi pagar rumah menjadi tempatnya bersandar sembari di borgol.

Orang-orang pun keluar ingin melihat penampakan ini. Kulihat wajah-wajah pemuda yang ketakutan, wajah yang juga lusuh persis mereka-mereka yang kurang tidur atau usai mengisap ganja. Tapi, mereka hanya melihat-lihat saja, maka aku dan Jhon bergegas memasuki rumah yang cukup besar ini. Ada dua anak perempuan dan lelaki. Yang perempuan, kira-kira usianya 11 tahun sedangkan yang lelaki dua belas tahun. Mereka tak tahu apa-apa. Mereka hanya memerhatikan kami, namun jelas terlihat olehku betapa wajah mereka memendam kecurigaan dan ketakutan. Benar-benar ini pengalaman dramatis. Tapi, dalam kejadian seperti ini aku tak mau terlalu banyak berpikir dan menghayal. Berbahaya. Bisa-bisa aku yang digulung musuh, maka lekas kutuntun anak itu untuk sembunyi di dalam kamar—sementara
Aku dan Jhon bergegas menyusuri rumah belakang.

Tor. Tor. Suara tembakan dari arah tempat Arifin dan Junaidi terdengar. Kami bergegas menuju pintu keluar belakang. Seorang pembantu ketakutan, kakinya bergetar, dan katanya, tolong pak jangan sakiti saya, saya hanya pembantu di sini, saya juga tak tahu menahu soal ini. Diam di tempat dan jangan macam-macam, kataku mengancam. Jhon yang telah lebih dulu ke arah mereka pun berteriak.
“Ndan, kita berhasil melumpuhkan tiga orang sekaligus. Hari ini kita berhasil,” katanya sembari memasukkan senpinya ke selah celana. Lalu ia tampar si pincang, ia tendang karena ia masih memegang senapan angin dan pelurunya mememarkan paha kanan Junaidi. Sementara Junaidi menjenggutnya, sementara pagar belakang rumah ini menjadi tempat mereka bersandar dan diborgol.

Aku dan Jhon menggeledah semua kantung mereka hingga ke dalam celana mereka. Tak perduli mereka meringis. Rekaman cctv jelas sekali bahwa ci pincang terlibat dalam pengrusakan gerobak somay, yang mana arti dari itu ialah ada satu pasal yang melekat padanya. Namun, kami tak menemukan apapun di saku celana mereka, dan di dalam rumah itu, kami hanya menemukan bong-bong sabu dan plastik-plastik serta timbangan digital. Tapi, di rumah cihuy dan pincang kami menemukan satu ton ganja, satu kilo sabu-sabu dan plastik klip yang jumlahnya ribuan.

Kami giring mereka bertiga ke rumah sakit kepolisian untuk mendapat pertolongan medis. Mereka bertiga semua hanya meringis di depan barang bukti yang sengeja Jhon letakkan di depan mereka yang semuanya double borgol. Suster pun menjemput mereka menggunakan kursi roda, namun Kusnaidi yang dari tadi menjaga mobil pun beraksi, “bawa kembali suster cantik, mereka tak pantas diperlakukan sebagaimana pasien,” katanya—
 maka tanpa bius, luka mereka dibersihkan dan diobati.  

Pengalaman pertama bersama tim baruku benar-benar membuatku dikagumi pak Dir dan Inspektur alfin yang sempat menolakku saat meminta bantuan. Dia datang kepadaku dan menyodorkan kata selamat serta tangan kanannya, katanya, “inspektur, anda sukses dan sempurna. Tak sekedar menakhlukan dua target yang membuat kawanku kau geser, tapi membuat media politik datang kemari untuk meliput anggota dewan yang tersandung kasus narkoba, dan ternyata dialah dalang dari kebobrokan yang nyaris abadi dari kampung itu. Tentu, kasus ini masih akan berlanjut. Semoga nanti, kita bisa bahu membahu. Selamat malam, inspektur, dan Dir,” katanya sembari tersenyum, namun senyumnya tidak terlalu riang dan tak juga sedikit. Senyumnya menampakan gigi-gigi putih dan lesung pipinya, sehingga aku tak mampu mengartikan apa maksudnya.

Pak Dir pun masuk ke ruangannya untuk membuat laporan, sementara aku menghampiri ruang penyidikan. Dari balik kaca kuperhatikan Kusnaidi yang mengintograsi anggota dewan pecundang itu. Benar-benar aku kagum terhadap Kusnaidi, dia berhasil membuat anggota dewan itu mengakui bahwa seminggu lagi akan datang barang yang muatannya satu truk. Jhon pun keluar dari dalam toilet dan Kusnaidi menghampiri kami setelah menutup pintu ruang itu. Kataku, pada mereka, mari kita rayakan pengalaman pertamaku. Lalu kata mereka, bagaimana dengan Junaidi dan Arifin?” Jawabku, “Mereka berhasil dalam pengintaian, maka tak elok bila mereka kunomerduakan.”

Arifin dan Juanidi pun menceritakan bagaimana mereka bisa ketahuan. Ternyata, para pemakai dan pengedar di kampung itu—
memang sudah antisipasi terhadap warga baru dan pedagang baru. Semua pemakai narkoba di sana sudah paham bahwa jika ada orang baru, dan—
apalagi dia pedagang, maka patut dicurigai. Sehingga entah siapa yang mengutus, ada dua remaja yang datang ke kontrakan mereka. Remaja tersebut duduk di depan bedeng mereka, dan mendengar Obrolan Arifin serta Junaidi yang membicarakan tentang gaji tiga belas. Tapi,  karena ini pengalaman pertamaku, maka—
kuanggap sebagai pembelajaran, meski bukan aku yang berbuat. Aku yakin, Arifin dan Junaidi takan mengulangi kesalahan itu, dan tentu mereka akan lebih hati-hati, walau dengan para remaja.

2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekhnologi Bagi Anak

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani