Prosa Muhammad Alfariezie
Kesehatan
Rakyat
Satu kampung padat penduduk di pinggiran kota yang letaknya
tak jauh dari pesisir adalah lokasi penjualan narkoba paling terkenal.
Pemukiman penduduk yang rumahnya berdempet-dempetan tersebut memiliki tingkat
pengguna narkotika paling banyak. Tapi, yang paling sering digunakan ialah
jenis sabu-sabu, ganja dan ekstasi. Selain narkoba, di sekitar lokasi ini
banyak sekali penjual minuman beralkohol dari kelas menengah hingga paling
bawah. Para pemuda suka sekali jika ada yang hajatan dan menyewa organ tumbal,
pasti mereka minta hingga larut malam supaya menjadi tempat untuk melampiaskan
hasrat hura-hura, yaitu menikmati ekstasi, alkohol hingga sabu-sabu.
Bapak-bapak dan ibu-ibu serta nenek dan kakek yang
tinggal di sana pun sudah terbiasa dengan pemandangan anak-anak mereka yang
rambutnya lusuh, bajunya sobek sana sobek sini, dan badannya sedikit dekil.
Bukan karena daerah ini sulit air bersih. Sungai yang lebarnya kurang lebih
tujuh meter yang mengalir hingga lautan—
adalah sumber daya utama mereka. Namun, pendidikan dan
ekonomi yang kurang baik merupakan faktor utama mereka menganggap kebersihan
dan kerapihan adalah hal nomor sepuluh.
Orang tua di sana pun biasa mendengar diksi sabu, ganja,
ngudang, tepar, kentang, sprempi, seji, skil, hingga doting. Seperti memakan
nasi, kekata tersebut adalah minuman sehari-hari. Tak jarang pula banyak orang
tua yang menggunakan narkoba dan miras. Bahkan ada yang tak sanggup membetulkan
gentingnya yang bocor tapi mampu membuat bong dan membeli sabu-sabu atau ganja.
Katakanlah di sana ada seribu manusia, maka
hitung-hitungannya adalah pengedar 200 dan pengguna 500, sedangkan yang tiga ratus
adalah ibu-ibu rumah tangga, kakek dan nenek serta beberapa pemuda yang
benar-benar hanya bergaul di luar lingkungannya yang sesak dan sumpek itu, dan
juga tentunya para bocah. Sungguh-sungguh di sana memang panas, bukan lantaran
cuaca tapi efek kurang kreatif orang-orangnya.
Pemerintah bukan tak tahu soal ini. Para dewan pun
mungkin tahu, karena ada orang legislatif yang bermukim di sana. Menyedihkan.
Tak ada upaya-upaya meningkatkan harkat dan martabat kampung yang ketinggalan
zaman tersebut. Cobalah cari perpustakaan di sana, maka yang kalian temukan
hanyalah batu-batu kali yang keras serta kelakar dari pemuda-pemudi bahkan
ibu-ibu di sana. Membaca buku, di sana akan dikatakan orang gila. Rangking satu
otomatis menjadi bahan kongekan.
Seperti itulah laporan yang hari ini kubaca tentang
kampung tersebut. Benar-benar menjadi tantangan bagi inspektur baru sepertiku
ini. Belum apa-apa, aku sudah dihadapkan dalam situasi yang memprihatinkan,
dalam situasi yang menyulitkan. Aku belum memiliki pengalaman dalam menangkap
pengedar narkoba. Usiaku baru tiga puluh tahun. Dua tahun kuhabiskan sebagai
peserta didik, dan delapan tahun aku bertugas di ibukota sebagai kepala regu
kesatuan anti huru-hara.
Aku memang berhasil menjalankan diplomasi dengan beberapa
pengunjuk rasa yang terkenal angker, dan aku juga berhasil membubarkan pendemo
yang membakar ban, menghancurkan gedung dan mobil. Mereka-mereka yang kacau itu
berhasil kupukul mundur sehingga aku
memiliki rapot sangat biru dalam kesatuan.
Ayahku seorang prajurit tentara yang suka sekali memukul.
Dia tak segan-segan memukul bokong hingga menampar pipiku jika aku tak
melaksanakan solat atau melanggar kewajiban bernegara seperti mencuri mangga
tetangga. Aku pernah kena tampar karena itu. Selain itu, waktu aku enggan
mengikuti tes akademi kepolisian pun—
aku diancam dikeluarkan dari rumah dengannya. Terpaksa
aku harus memutus cita-citaku untuk menjadi dokter.
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang pandai membuat
kue. Kue-kue buatannya selalu dijual ke tetangga-tetangga kami. Bukan tanpa
alasan ia menjual kue-kue itu. Penghasilan ayahku sebagai prajurit tentara
tidaklah cukup membiayi pembayaran listrik, pendidikan, kesehatan, hingga
cicilan rumah dan biaya perabotan rumah tangga. Berkat bantuan ibuku itulah
ayahku tak perlu repot-repot mencari sampingan kerja. Tapi karena ibuku harus
membuat kue, maka yang ngurus kebersihan rumah ialah aku. Setiap usai sholat
subuh, pasti aku sudah merapihkan tempat tidur, merebus air, hingga menyapu dan
mengepel. Lalu usai pulang sekolah aku pasti langsung tidur, kemudian bangun
saat senja dan melaksanakan kewajiban sebagaimana muslim, kemudian jika usai
sholat isya aku pasti mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.
Aku paling suka pelajaran sains. Ilmu pengetahuan alam
mampu memberi kita pemahaman yang menurutku sangatlah penting bagi peradaban.
Karena mempelajari sains, aku mengerti bahwa betapa bahaya narkoba bagi
perkembangan manusia.
Ayahku yang jiwa nasionalisnya begitu kuat, sangat benci
sekali terhadap pemuda-pemudi yang menggunakan narkoba, apalagi aparat negara
yang justru melancarkan peredaran barang haram itu. Ia ingin sekali menembak
kepalanya. Sayang, ayahku hanya seorang tentara, maka ia sangat berharap
padaku, dan aku berkesampatan untuk menjalankan amanah bapakku.
Siang yang gersang menjadi awal langkahku memulai rapat
kordinasi menyusun rencana penggrebekan kampung narkoba tersebut. Usai membaca
laporan yang sudah tertulis sejak tiga tahun lalu aku lekas memanggil semua
timku yang berjumlah lima orang. Mereka adalah Junaidi, Arifin, Kusnaidi, dan
Jhon. Semua anggotaku memiliki kapasitas yang berbeda namun memiliki
kelebihannya masing-masing. Menurut data yang kubaca, Junaidi dan Arifin adalah
sosok penyabar sehingga menurut analisaku, mereka adalah orang yang cocok untuk
menyamar. Sedangkan Kusnaidi dan Jhon adalah sosok yang keras, tempramen dan
kerap memukul tahanan. Mereka sangatlah tidak cocok dibagian penyamaran.
“Selamat siang! Maaf karena hari ini kita baru mulai kerja. Kemarin saya masih mempelajari beberapa
laporan,” kataku sembari membuka lembar-lembar laporan, sementara mereka semua
duduk santai, sebagaimana anggota bulu sergap, yaitu menyelondorkan tubuh ke
kursi.
Terus terang, ini pengalaman pertamaku, sehingga kau agak
kaget melihat anggota polisi yang bertingkah seperti mereka. Waktu aku di anti
huru-hara, ketika aku memimpin rapar kordinasi, anak buahku pasti duduk tegap.
“Kalian semua pasti tahu tentang kampung narkoba, maka
tak perlu kujelaskan lagi. Langkah awal kerja kita adalah ke sana.” kataku
sembari meletakkan kedua tangan di atas meja, usai akrobatik jari-jemari agar
lebih asyik dilihat ketika berbicara. Ha ha, hal ini kudapat ketika menjalani
pendidikan kepribadian saat pendidikan.
“Kita nihil Informan, ndan. Daerah itu sulit
dijangkau. Banyak sekali gang, dan
orang-orangnya tak koperatif. Sudah dua
kali kami operasi di sana, tapi gagal, maka iptu parmin lengser dari
jabatannya,” kata kusnaidi sembari memainkan pena.
“Siapa target kita, ndan? Kita telah gagal menangkap
cihuy dan si pincang. Cecunguk itu berhasil kabur karena banyak warga yang
menghalangi,” kata Junaidi yang pandai mengakrobatkan tangannya ketika
berkomunikasi.
“Aih, di sana kita punya puluhan target. Sekali operasi
kita bisa membawa pulang sepuluh hingga dua puluh pengedar serta pemakai,” kata
Jhon yang bertubuh besar tinggi. Wajahnya ketika bicara benar-benar seperti bukan
polisi. Wajar, sudah lima belas tahun ia di sini. Sudah ratusan pengedar kena
tembaknya. Dia adalah kepala tim. Dialah orang yang dapat kuandalkan untuk
memberantas narkoba di kampung itu.
“Sementara target utama kita seperti yang dikatakan jhon.
Cari tahu tentang cihuy dan si pincang. Tapi, aku yakin, mereka punya penyuplai
yang juga tinggal tidak jauh dari sana,” kataku sembari menutup buku laporan.
“Junaidi dan Arifin, kalian baru bertugas di regu ini.
Otomatis kalian tidak ikut operasi kemarin. Kalian kutugaskan menjadi tukang
somay yang secara bergiliran akan memasuki kampung itu. Mulai pukul tiga hingga
jam lima adalah waktu kalian di sana. Aku sudah menyewa bedeng di sana. Gerobak
sudah siap. Ketika tepat pukul setengah tiga kalian harus sudah di sana karena
tukang somay yang asli akan mengantar keperluan kalian!” kataku sembari
menghampiri mereka dan menepuk pundak mereka.
“Siap ndan!” kata mereka berteriak.
“Aku percaya kepada kalian.”
“Dan Jhon, serta Kusnaidi bersamaku mengintai dari dalam
mobil!”
“Siap ndan!” kata mereka berteriak.
Rencana penangkapan ini memanglah baru pertama kali
kulakukan. Tapi aku bukanlah orang yang pasrah pada keadaan serta menunggu
keajaiban. Bapakku sangat benci dengan orang yang seperti itu. Ia selalu
menyuruhku agar selalu menyiapkan segala sesuatu sebelum memulai tindakan, maka
ketika semua keluar dari ruangan, aku bergegas ke toko kamera. Kubawa ahli-ahli
cctv untuk memasang kamera di beberapa sudut gerobak. Kamera ini selalu menyala
siang dan malam, Hal ini tentu saja karena gerobak penyamaran akan kami
letakkan di luar rumah kontrakan.
Junaidi dan Arifin tak perlu tahu mengenai hal ini,
karena aku takut justru akan membuat mereka gelisah karena harus membawa
gerobak yang sudah dirancang. Apalagi pengintaian ini akan berlangsung lumayan
lama, waktu yang kutentukan ialah satu minggu paling cepat dan paling lambat
dua minggu. Tapi, aku sangat yakin bahwa anggotaku akan menyelesaikan misi jauh
lebih cepat dari pada yang kuperkirakan.
Laporan-laporan data tentang junaidi dan arifin sangatlah
memuaskanku. Tingkat kecerdasan dan ketenangan mereka di atas rata-rata. Dan
lagi, mereka masih muda, yaitu seumuran denganku. Mereka memiliki analisa yang
baik. Menurut laporan, mereka mampu memecahkan analisa dari dua kasus dalam
waktu satu jam. Waw, itu sangat mengesankan, dan mereka telah membuktikan.
Hasil tiga hari pengintaian mereka memuaskan. Aku, kusnadi dan jhon sangat
terkesan hingga kami bertiga kompak tepuk tangan di depan layar yang berada di
ruanganku.
“Gila. Sangat gila. Di luar jangkauan, ndan! Pengintaian
cihui dan pincang berhasil. Lihat, mereka tak segan bertransaksi depan orang
banyak, bahkan di depan pedangan somay,” kata Jhon yang tangannya masih di atas
layar intai.
“Kapan kita bergerak, ndan?” Kusnaidi berkata sembari
menyalakan rokok.
“Menurutmu darimana kita mulai?” kataku kepada Kusnaidi.
“Sesuai kondisi, ndan.”
“Cihuy adalah target utama,” Jhon berkata sembari
menyalakan rokok.
“Menurut kalian apa kita perlu regu gabungan?”
“Bahaya, ndan.
Setiap regu bersaing, belum lagi penghianatan dari kelompok lain,” tegas
jhon sembari mengembuskan asap rokok.
“Segera hubungi Arifin dan Junaidi— magrib adalah waktu
yang tepat kita kepung rumah cihuy,” kataku meyakinkan mereka.
Siang yang teduh dan penuh motivasi tiba-tiba berubah
menjadi siang yang sama sekali tak mengasyikkan. Belum sempat Kusnaidi
menghubungi Arifin dan Junaidi, betapa jantungku berdebar setelah melihat
tayangan bahwa gerobak somay mereka dipecahkan kacanya, dan kontrakan mereka
diobrak abrik dan dua anggotaku dikepung oleh lebih dari 20 orang. Begitu cepat
kejadian itu berlangsung, layar tiba-tiba berubah menjadi jutaan milyar semut.
Jhon menggebrak meja dan berkata, anjing! Kusnaidi berdiri dari duduknya dan
berkata, kita harus segera ke sana sekarang juga, ndan! Aku bagaimana? Aku
langsung berlari ke ruang pak Direktur, sementara Jhon dan Kusnaidi pun ikut
berlari.
“Ada pak Dir? hey nona, apa pak Dir di ruangan?” kataku
yang geram kepada sekretarisnya yang asyik main handpone sementara pertanyaanku tak dianggap.
“Bapak sedang ke jakarta,” katanya yang tiada senyum,
justru wajahnya seperti tak senang. Tapi, tak ada waktu untuk meladeni
perempuan yang tak beretos kerja tersebut.
“Kanit, kita harus ke sana sekarang juga!,” kata Jhon
sembari mengarahkan telunjuknya ke arah kampung tersebut.
Jhon yang perkataannya tak kuhiraukan hanya duduk sembari
menyalakan rokok sedangkan Kusnaidi mengikutiku yang menuju ke ruang regu
inspektur alfin. Dialah yang paling lama bertugas di kesatuan narkoba
kepolisian daerah ini. Ia memiliki tim berjuluk harimau hantu. Timnya selalu
bekerja siang dan malam dan berhasil menangkap gembong narkoba yang sudah main
ratusan kilogram sabu.
“inspektur, anggota saya dalam masalah. Saya perlu
bantuan inspektur,” kataku setelah sampai di ruanganku.
“Tidak mungkin kami memasuki kampung itu hanya tiga orang
saja,” lanjut Kusnaidi sembari menyalakan rokok.
“Hey, lihatlah inspektur dan kusnaidi. Saya hanya sendiri
di ruang ini. Lagi pula tak ada surat perintah gabungan dari pak Dir,” Jawabnya
yang masih duduk santai di kursi putarnya lalu ia mereguk kopinya, dan lanjut
berkata, “Siang ini saya ada janji dengan saudara, saya harus pulang.”
Langsung kututup pintu ruangannya. Sungguh ini adalah
pengalaman pertama yang sangat menakutkan. Aku harus memasuki kampung narkoba
yang mana anggotaku dalam bahaya di sana, sementara kami hanya tiga orang. Tapi
aku kembali mengingat bagaimana dulu aku dan seratus anggota memukul mundur
ribuan pendemo. Aku pun mengingat wajah emosional ayah ketika menceritakan
tentang pemuda yang kecanduan narkoba. Tekadku pun sempurna setelah Jhon
menghampiri kami seraya membuang puntung rokoknya lalu berkata, siang ini juga
kita harus ke sana, ndan!
Kusnaidi pun meminta konci mobil lalu segera berlari
menyalakan mesin kendaraan setelah kuberikan padanya. Aku dan Jhon pun berlari bergegas
memasuki mobil. Sungguh-sungguh perjalan cemas kami laksanakan. Lima belas
menit kami sampai di persimpangan dimana gang masuk kampung itu hanya berkisar
lima puluh meter. Belum sempat kami turun, betapa aku kaget ternyata Junaidi
dan Arifin berlari keluar gang. Jhon segera keluar pintu lalu memanggil mereka.
Mereka pun menengok dan menuju ke sini, namun saat baru setengah menyebarang,
nampak puluhan orang menenteng kayu mengejar mereka. Tak pikir-pikir, jhon
langsung melepaskan tembakan. Tor. Tor. Satu orang terjatuh karena kakinya
ditembus timah panas.
Orang-orang yang mengejar Arifin dan Junaidi pun kembali masuk
gang dan menghilang entah ke mana. Sementara Jhon langsung berlari ke dalam
gang. Senpi Arifin dan Junaidi pun kuberi, sementara Kusnaidi yang ingin masuk
ke dalam gang—
Ia kuperintahkan untuk stand by di dalam mobil.
Beruntung Kusnaidi yang baru satu minggu menjadi anggotaku taat terhadap
perintah inspektur barunya. Kami bertiga pun berlari menyusul Jhon, namun baru
dua puluh meter masuk gang, betapa aku terkejut. Apa yang terjadi? Yang terjadi
ialah jhon sudah bergulat dengan dua orang kampung, maka aku yang mengingat pukulan
ayah karena dulu pernah ketahuan memaling mangga tetangga, langsung menembak mereka semua. Tor. Tor,
mereka meringis-ringis memegang kaki. Semua orang keluar, dan ada juga yang
memerhatikan kejadian ini dari dalam
jendela.
“Diam kalian semua, jika menghalang-halangi kami,
matilah,” kata Arifin sembari tangan kanannya menodongkan pistol, sementara
tangan kirinya ia gunakan untuk membangkitkan Jhon.
“Di mana cihuy dan pincang?” kata Jhon kepada dua orang
yang tadi bergulat dengannya.
“Aku tak tahu. Aku tak tahu,” kata mereka sembari menundukkan kepala
sementara kedua tangan mereka memegang betis yang terkena timah panas.
“Aku tak mau kalah, aku langsung menelpon ambulan untuk
segera membawa mereka ke rumah sakit.”
“Tor. Tor,” Jhon melepas tembakan ke udara, lalu berkata,
“dimana cihuy dan pincang!”
“Ampun pak. Ampun, jangan tembak lagi, kami hanya
melaksanakan perintah. cihuy dan pincang masih lari menyeberangi sungai,” kata
mereka menangis.
“Siapa RT di sini?” kataku pada kerumunan.
“sa.. sa.. saya pak,” jawab seseorang bertubuh tinggi
kurus yang nampak jelas kakinya gemetar, wajahnya pucat.
“Jaga orang ini, nanti ambulan akan segera kemari, dan
jangan coba-coba melawan kami, bilang ke setiap warga,” kataku kepadanya.
Kami berjalan melewati kerumunan orang yang menonton.
Sementara sambil berjalan, Arifin meminta maaf kepadaku karena telah gagal.
Tapi tegas kujawab, nanti saja bahas ini setelah kita sampai di kantor. Jhon
pun berlari karena melihat pergerakan seseorang yang mencurigakan. Benar-benar
tak kuduga, plastik sabu-sabu, puntungan ganja, botol miras, sisa kondom, kartu
gaple dan remi bertebaran di jalan-jalan gang kampung ini. Tapi itu bukanlah
masalah utama, karena yang paling penting adalah cihuy dan si pincang.
cihuy dan pincang pun berhasil kami ringkus tak lama
setelah kami sampai di sungai. Mereka bersembunyi di salah satu rumah yang
cukup besar. Kenapa kami bisa tahu dia berada di sana? karena Jhon yang tadi
melihat pergerakan seseorang dan ketika kami sampai di sungai, Jhon melihat pintu
rumah yang lumayan besar yang bercat putih serta berpagar warna emas, juga
terdapat dua mobil mini bus keluaran baru—pintu rumah itu memang rapat
sementara pagarnya masih bergoyang-goyang seperti baru ditutup.
Jhon yang melihat sesuatu segera berlari dan
memerintahkan junaidi dan arifin tetap di sini, aku ia ajak untuk segera menuju
pintu depan. Aku sempat terjatuh karena kesandung batu kali yang puluhan tahun
menempel di tanah, tapi Jhon hanya memerdulikan buruannya. Tor, sembari berlari
ia lepaskan tembakan ke udara. Lalu aku tak melihatnya lagi, tapi aku langsung
berdiri dan berlari menyusulnya. Betapa aku kaget karena melihat kehebatan
anggotaku yang berambut gondrong ini. Buas sekali. Bibir orang botak yang
tubuhnya seukuran sama dengan Jhon pecah, kakinya berlubang karena timahnya. Dia
adalah cihuy, dan tiang besi pagar rumah menjadi tempatnya bersandar sembari di
borgol.
Orang-orang pun keluar ingin melihat penampakan ini.
Kulihat wajah-wajah pemuda yang ketakutan, wajah yang juga lusuh persis
mereka-mereka yang kurang tidur atau usai mengisap ganja. Tapi, mereka hanya
melihat-lihat saja, maka aku dan Jhon bergegas memasuki rumah yang cukup besar
ini. Ada dua anak perempuan dan lelaki. Yang perempuan, kira-kira usianya 11
tahun sedangkan yang lelaki dua belas tahun. Mereka tak tahu apa-apa. Mereka hanya
memerhatikan kami, namun jelas terlihat olehku betapa wajah mereka memendam
kecurigaan dan ketakutan. Benar-benar ini pengalaman dramatis. Tapi, dalam
kejadian seperti ini aku tak mau terlalu banyak berpikir dan menghayal. Berbahaya.
Bisa-bisa aku yang digulung musuh, maka lekas kutuntun anak itu untuk sembunyi
di dalam kamar—sementara
Aku dan Jhon bergegas menyusuri rumah belakang.
Tor. Tor. Suara tembakan dari arah tempat Arifin dan
Junaidi terdengar. Kami bergegas menuju pintu keluar belakang. Seorang pembantu
ketakutan, kakinya bergetar, dan katanya, tolong pak jangan sakiti saya, saya
hanya pembantu di sini, saya juga tak tahu menahu soal ini. Diam di tempat dan
jangan macam-macam, kataku mengancam. Jhon yang telah lebih dulu ke arah mereka
pun berteriak.
“Ndan, kita berhasil melumpuhkan tiga orang sekaligus. Hari
ini kita berhasil,” katanya sembari memasukkan senpinya ke selah celana. Lalu ia
tampar si pincang, ia tendang karena ia masih memegang senapan angin dan
pelurunya mememarkan paha kanan Junaidi. Sementara Junaidi menjenggutnya, sementara
pagar belakang rumah ini menjadi tempat mereka bersandar dan diborgol.
Aku dan Jhon menggeledah semua kantung mereka hingga ke
dalam celana mereka. Tak perduli mereka meringis. Rekaman cctv jelas sekali
bahwa ci pincang terlibat dalam pengrusakan gerobak somay, yang mana arti dari
itu ialah ada satu pasal yang melekat padanya. Namun, kami tak menemukan apapun
di saku celana mereka, dan di dalam rumah itu, kami hanya menemukan bong-bong
sabu dan plastik-plastik serta timbangan digital. Tapi, di rumah cihuy dan
pincang kami menemukan satu ton ganja, satu kilo sabu-sabu dan plastik klip
yang jumlahnya ribuan.
Kami giring mereka bertiga ke rumah sakit kepolisian untuk
mendapat pertolongan medis. Mereka bertiga semua hanya meringis di depan barang
bukti yang sengeja Jhon letakkan di depan mereka yang semuanya double borgol. Suster pun menjemput
mereka menggunakan kursi roda, namun Kusnaidi yang dari tadi menjaga mobil pun
beraksi, “bawa kembali suster cantik, mereka tak pantas diperlakukan
sebagaimana pasien,” katanya—
maka tanpa bius,
luka mereka dibersihkan dan diobati.
Pengalaman pertama bersama tim baruku benar-benar
membuatku dikagumi pak Dir dan Inspektur alfin yang sempat menolakku saat
meminta bantuan. Dia datang kepadaku dan menyodorkan kata selamat serta tangan
kanannya, katanya, “inspektur, anda sukses dan sempurna. Tak sekedar
menakhlukan dua target yang membuat kawanku kau geser, tapi membuat media
politik datang kemari untuk meliput anggota dewan yang tersandung kasus
narkoba, dan ternyata dialah dalang dari kebobrokan yang nyaris abadi dari
kampung itu. Tentu, kasus ini masih akan berlanjut. Semoga nanti, kita bisa
bahu membahu. Selamat malam, inspektur, dan Dir,” katanya sembari tersenyum,
namun senyumnya tidak terlalu riang dan tak juga sedikit. Senyumnya menampakan
gigi-gigi putih dan lesung pipinya, sehingga aku tak mampu mengartikan apa
maksudnya.
Pak Dir pun masuk ke ruangannya untuk membuat laporan,
sementara aku menghampiri ruang penyidikan. Dari balik kaca kuperhatikan
Kusnaidi yang mengintograsi anggota dewan pecundang itu. Benar-benar aku kagum
terhadap Kusnaidi, dia berhasil membuat anggota dewan itu mengakui bahwa
seminggu lagi akan datang barang yang muatannya satu truk. Jhon pun keluar dari
dalam toilet dan Kusnaidi menghampiri kami setelah menutup pintu ruang itu.
Kataku, pada mereka, mari kita rayakan pengalaman pertamaku. Lalu kata mereka,
bagaimana dengan Junaidi dan Arifin?” Jawabku, “Mereka berhasil dalam
pengintaian, maka tak elok bila mereka kunomerduakan.”
Arifin dan Juanidi pun menceritakan bagaimana mereka bisa
ketahuan. Ternyata, para pemakai dan pengedar di kampung itu—
memang sudah antisipasi terhadap warga baru dan pedagang
baru. Semua pemakai narkoba di sana sudah paham bahwa jika ada orang baru, dan—
apalagi dia pedagang, maka patut dicurigai. Sehingga entah
siapa yang mengutus, ada dua remaja yang datang ke kontrakan mereka. Remaja
tersebut duduk di depan bedeng mereka, dan mendengar Obrolan Arifin serta Junaidi
yang membicarakan tentang gaji tiga belas. Tapi, karena ini pengalaman pertamaku, maka—
kuanggap sebagai pembelajaran, meski bukan aku yang
berbuat. Aku yakin, Arifin dan Junaidi takan mengulangi kesalahan itu, dan
tentu mereka akan lebih hati-hati, walau dengan para remaja.
2020
Komentar
Posting Komentar