Prosa Muhammad Alfariezie
Inspektur Merdika Sesekali guntur terdengar di tengah malam yang gerimis. Inspektur Merdika masih menulis laporan usai penangkapan pengedar sabu-sabu dan ganja serta alprazolam di daerah teluk kharisma. Sebagaimana biasa, antara satu jam hingga dua jam usai penangkapan pasti keluarga tersangka selalu datang untuk meminta damai. Masuklah orang tua tersangka ditemani Bripka Dasarni ke dalam ruang inspektur yang sedang sibuk menulis laporan. “Pak, orang tua tersangka ingin bertemu,” kata Bripka Dasarni sebelum suami istri itu duduk. “o, iya, diterima,” kata inspektur merdika sembari mengayunkan tangan dan menatap Bripka Dasarni memberi kode bahwa ia boleh keluar. “Ada keperluan? Kenapa musti datang sekarang? Tersangka belum bisa ditemui, dia masih di ruang penyidikan,” lanjut Inspektur kepada mereka. “Tolong pak. Saya hanya punya satu anak. Saya rela menjual tanah asal dia bisa bebas. Di penjara justru akan membuatnya mengenal gembong-gembong,” kata ayah tersangka ...