Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Masih Sebelum berlayar Aku selalu mencarimu Tapi sia-sia, lalu Selaik karang Badai Aku tegak Tanpa mantel atau parka 2020

Puisi Muhammad Alfariezie

Seharusnya Kita Hitler ingin dunia karena mencintai jerman. Ia ingin rakyat hidup selayaknya. Ia berperang agar mendapat tanah, ia ajak ilmuwan untuk misi seribu tahun. Hitler memang kejam tapi  demi kehormatan. Sementara hari ini kita melihat kebalikan dari pemimpin-pemimpin Indonesia Raya. Tambang negeri  kita bangsa asing,i sementara kita tak pernah kalah perang-- Mulai dari asia hingga amerika.  Seharusnya kita menikmati hutan raya, kebun raya, hingga kebutuhan pokok yang murah. 2019

Puisi Muhammad Alfariezie

Atap Nurani Banyak manusia yang mampu menjelaskan rahasia hari di selembar kanvas menggunakan beraneka warna. Ada ribuan burung yang suara dan bulunya menghibur jutaan orang. Ada puluhan presiden yang gemar bernyanyi dan menulis.  Laksana gurun pasir, kita ini debu, dan lainnya kaktus dan batu. Di atas sastra dan fisika barangkali matematika. Matematika hanya alas bagi mesin dan gedung. Gedung dikuasai politik. Politik ujungnya  perang sedangkan  atap perang merupakan perserikatan dari berbagai elemen kemudian saling tikam tetap saja  untuk perdamaian lalu damai akhirnya mati. Kuakui setiap perjuangan adalah sejarah. Baik sebagai pecundang maupun pemenang. Kuakui setiap diplomasi selalu memberi solusi. Baik itu strategi militer maupun ekonomi dan teknologi. Tapi tak perlu lagi ada ambisi yang justru menjadi tangis bayi-bayi. 2019

Puisi Muhammad Alfariezie

Montana Seseorang duduk tenang memandang burung, lalulalang, dan layang-layang. Barangkali perasaannya berbicara dengan bayang kekasihnya yang pergi, tapi mungkin juga berteori perihal bumi. Dari matanya seperti memendam cinta yang bersemi ketika pagi, dari aromanya bagai bunga mekar di tanah peri. Sungguh, jika ia bernyanyi pasti orang-orang berhenti sendiri-sendiri. Sayang, ia tak butuh puja puji. Seseorang itu merupakan paras lain nan elok di kota ini. Dia seperti desa. Ia tak mewah tapi kakinya adalah pijakan bagi sayur mayur hingga sampai ke sini. Sungguh, jangan lagi kau benci. Dia tak punya dengki. Dia hanya manusia yang penuh kasih. 2019

Puisi Muhammad Alfariezie

Toleransi Alam bisa menjaga manusia tapi manusia akan  mati  dalam peristiwa nan ngeri sedangkan keindahan dapat  selalu bersemi. Pohon-pohon akan tumbang dengan sendirinya lalu menimpa segala nan sombong, buah-buah akan mandul lalu lapar dan dahaga bak sungai, mengalir dan mengalir hinnga ke kanal dosa. Di sanalah tempat segala yang tamak nyemplung tanpa pelampung, di situlah segala borok menancap di ujung karang paling tajam. Manusia diberi gunung, laut dan sungai tidak untuk bertarung. Air adalah tendang bagi kikir, pohon ialah payung bagi ribuan orang, batu adalah pondasi untuk kita berlindung. Wahai raja dan rakyat, aku dan kau seperti semut. Gula adalah sumberdaya. Jalan adalah hidup dan tujuan. Berdampingan, bersalaman walau tak bersahutan merupakan suatu hal yang pasti sebagaimana prasasti di abad ini. 2019

Puisi Muhammad Alfariezie

Faktor Utama Alasan untuk tidak lagi mencintai  bukan satu atau dua, tapi ribuan. Ada yang bosan, pasangan yang kurang kaya, fisik yang kurang baik, sampai jarak dan waktu kencan. Semua menjadi  hal utama yang seolah-olah  benar atau salah. Namun bagaimana pun, alasan harus dijaga eksistensinya. Pabila hilang, barangkali  aku dan kamu menjadi seperti lelaki maupun perempuan yang berjalan tanpa tujuan dan teman. Alasan adalah pemanis dari setiap keputusan. Tanpa alasan, baik itu dapat kuterima atau tidak, mungkin aku takan pernah percaya bahwa tuhanmu juga mencintaiku, atau kau takan pernah percaya bahwa tuhanku akan mengutukmu sehingga di antara kita mendapat makna, lalu akan beralih ke jalan yang di sisinya dapat kita lihat  rimbun pepohon dan sungai, serta buah. Kekasihku, cintaku padamu memang begitu. Tapi jika kosong peluk dan cium, maka nihil arti kasih dan sayang. Aku harus membunuh kenyataan. Biarlah kenangan yang hidup. Aku percaya pasti datang lel...

Puisi Muhammad Alfariezie

Betapa Banyak yang menginkan waktu untuk bercinta, membicarakan asmara sampai sekedar membual. Detik dan menit memang memiliki nilai yang lebih dari 24. Saat bersama keluarga dan sang kekasih bernilai 90, bersama kawan 80 namun sendirian, tidaklah berlebihan jika tidak ada nilainya kecuali ketika belajar atau menjalin hubungan yang penuh kasih sayang bersama sesuatu yang tidak terlihat. Pacarku sering sekali memintaku untuk memberikannya waktu lebih. Kira-kira sekitar lima jam. Sebenarnya itu bukan perkara sulit hingga aku berjanji bahwa lima jam adalah aku untuknya. Tapi aku kadang menyesatkan diri. Aku mengingkari janji. Pacarku sedih. Aku sadar bahwa yang kulakukan adalah salah. Kadang aku mengingkari janji hanya alasan sepele yaitu bermain gitar dan menulis lagu. Daun-daun yang berguguran memang bukan masalah tapi juga bisa menjadi masalah jika dibiarkan berserak di pekarangan. Seperti itulah yang terjadi padaku. kubiarkan kebohongan-kebohongan yang sepele. Kubohongi k...