Sindrome Sosial
Antonio Montana
Mungkin saat ini Indonesia sedang mengalami yang namanya sindrome ambivalen alias sedang
terserang penyakit masyarakat modern dan sosial. Masyarakat modern dan sosial
Indonesia memang mengalami kemajuan. Nyaris
rata-rata orang di Indonesia mampu mengoperasikan alat-alat teknologi semisal
laptop dan handpone pintar. Namun hal ini kumaksud Sindrome bukan vitamin atau
apalah itu hal yang positif. Kebanyakan dari kita hanya menjadi pengguna tanpa
berfikir manfaatnya. Misal ibu-ibu saat ini bisa bertemu dengan kawan-kawan
semasa SMA dengan mudah karena ada aplikasi yaitu Watssup tapi bukan tak
mungkin ini menjadi ajang maksiat bukan silahturahmi. Ini menjadi ajang
kumpul-kumpul yang tak bermanfaat semisal kumpul-kumpul di kafe mahal sehingga
lupa pada keutuhan rumah tangganya. Lupa pada adat istiadat dan agamanya. Ya ini
karena sindrome teknologi dan sosial yang nyeleneh yang meniru-niru gaya eropa.
Gaya yang ditawarkan kapitalisme. Ini Hegemoni. Sengaja diciptakan untuk meraup
keuntungan. Tak perduli sebab akibat dari ini itu yang penting orang-orang
membeli memakai dan memamerkan produk tersebut lalu penjual produk mendapat
keuntungan kemudian karyawan menerima gaji dan tak perduli terhadap dosa-dosa,
tak perduli terhadap kebobrokan budaya dan bangsa dan tanah air, yang penting happy, happy dan happy.
Pagi ini sangat cerah sekali udara di kemiling apalagi
sehabis hujan tapi tidak secerah acara di televisi-televisi swasta maupun milik
pemerintah. Nyaris rata-rata televisi mempromosikan produk-produk gila. Produk yang
menawarkan keindahan tapi berlabel harga yang tak sesuai dengan kondisi ekonomi
di sini. Produk yang menawarkan kemodernan tapi tak sesuai dengan adat dan
istiadat di sini. Jakarta tidak lagi dimiliki suku betawi tapi suku eropa dan
cina barangkali. Tak terlihat bagaimana arsitektur rumah betawi. Tak terlihat
pakaian adat orang betawi. Yang terlihat dari yang ditawarkan adalah budaya
albert camus barangkali, budaya Leo Tolstoy barangkali, budaya nagasaki
barangkali. Kalau pun ada adat betawi yang ditayangkan televisi itu adanya
dipinggir-pinggir kota dan lebih cocok menjadi bahan olok-olok. Alias kuno
nyaris tak bisa ditawarkan sebagai produk modern. Hanya bisa ditawarkan sebagai
warisan leluhur yang harus dilestarikan.
Seperti Hitler. Kita harus menekankan pembangunan yang
berafiliasi pada kekokohon seni dan Budaya negara sendiri. Interior dan lanskap
dan Background yang direncanakan Hitler dalam membangun Jerman adalah milik
atau warisan budaya nenek moyang Jerman. Konsep ini adalah Neo Klasik ala
Hitler dimana warisan budaya nenek moyang sendirilah yang wajib dimodernisasi. Orang-orang
yang bertandang ke Indonesia tidak boleh melihat jepang di Indonesia, orang
orang yang ke Indonesia tidak boleh melihat China di Indonesia. Kalaupun orang-orang
keturunan ingin membangun budayanya di sini harus ada kontur khas Budaya di
mana tempat mereka ingin membangun.
Saat ini pun di televisi siang dan malam musik-musik
modern baik barat maupun dalam negeri selalu berkumandang tapi adzan dan lagu
kebangsaan Indonesia hanya ada pada satu waktu yaitu pada maghrib dan lagu
kebangsaan pada pergantian hari dimana lagu kebangsaan dikumandangkan tepat
tengah malam saat televisi tidak lagi memiliki siaran. Sungguh disayangkan
negara yang dulu digadang-gadang akan menjadi Nusantara justru seni dan
budayanya dicabut oleh petaninya sendiri. Sungguh disayangkankan modernisasi di
indonesia semisal aplikasi Watsupp yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk
kepentingan kebaikan justru menjadi ajang mengumpulkan dosa kemaksiatan.
Bukan hanya itu. modernisasi di Indonesia membuat orang
yang ingin menjadi guru tidak lagi motifasinya untuk mengajarkan nilai-nilai
kebaikan melainkan untuk mencari gaji tinggi alias kekayaan pribadi. Orang-orang
yang ingin menjadi dokter tidak lagi motifasinya untuk mengobati orang yang
kurang mampu tapi meraup keuntungan yang tinggi dari gaji dan biaya jasa
penyembuhan. Orang-orang yang ingin menjadi polisi tidak lagi motifasinya untuk
menjaga keutuhan hidup bernegara tapi untuk secepatnya punya sedan mewah
sehingga rela menggadaikan Surat Keputusan, menggadaikan kinerjanya,
menggadaikan integritasnya hanya demi produk yang jika tidak dibeli pun orang
tersebut tidak langsung cepat mati. Begitu dahsyatnya manajemen ekonomi ini
menjalar dan terus diajarkan dikuliah-kuliah bahkan ada fakulstasnya sendiri. Kita
diajarkan untuk menjadi seorang pengusaha yang hanya mementingkan keuntungan
pribadi. Kita diajarkan untuk menjadi karyawan yang patuh terhadap kebobrokan.
Semua itu telah tersistem dan manusialah yang menyistem
itu. manusia yang pintar tapi mementingkan kekayaan pribadi telah membuat
sistem itu. ajaran KI Hajar Dewantara, ajaran Soekarno, Ajaran Jendral
Sudirman, Ajaran bung Hatta, siapa yang tahu ajaran mereka? tidak ada. Yang kita
tahu ajaran Marxisme, ajaran Kapitalisme, ajaran gubernur-gubernur korup,
ajaran presiden-presiden penegoisasi yang tak becus. Ajaran-ajaran seni budaya
kita yang mengedepankan agama dan ilmu pengetahuan serta sosial Indonesia
nyaris tidak ada yang mengenal.
Monas. Siapa yang perduli terhadap Monas yang kini
bangunannya sudah kalah tinggi dengan gedung-gedung pencakar langit di Malaysia
dan Singapur? Monas bahkan perusahaan Jerman yang musti membersihkan daki
diketiak, dileher Monas. Orang-orang kita lupa atau barangkali orang-orang kita
malas karena tidak ada insetif dari perbuatan baik yaitu bergotong royong menyelematkan
warisan Seni Indonesia. Orang-orang kita sibuk pada kerja siang dan malam untuk
membeli produk buatan jepang, produk buatan cina, produk buatan jerman, produk
buatan Rusia. Mereka menganggap kalau bergotong royong untuk kepentingan orang
banyak tanpa dibayar itu adalah hal yang sia-sia. Orang-orang menganggap kerja
adalah memiliki gaji tinggi dan berseragam. Orang-orang yang menurutku tak
pantas untuk diberi hidup di negara ini. Negara yang memiliki Ideoligi
Pancasila.
2019

Komentar
Posting Komentar