“Sebuah bangsa besar yang memunggungi buku atau tanpa tradisi literasi hanya akan menjadi bangsa kelas teri yaitu, perundung, pemaki dan mudah terprovosi tanpa keluasan hati dan imajinasi. Itulah hal yang membuat saya sulit untuk tidur, ibu.” Ungkapan ini adalah keluhan Najwa Shihab di depan kepala perpustakaan, deputi dan ketua panitia pada tahun 2016. Nana, panggilan akrabnya. Berbicara sebagai duta baca Indonesia tahun 2016 sampai 2020.

Di depan perempuan-perempuan pengelola perpustakaan Nasional, Duta Baca Indonesia mengungkapkan kekhawatirannya perihal minat baca di Indonesia. Dari data yang saya dapat sungguh menyesakkan, kata Nana. Menurut data OISD budaya membaca masyarakat Indonesia adalah yang terendah di antara 52 di Asia sedangkan UNESCO merilis bahwa di Eropa anak-anak membaca 25 buku pertahun. Di jepang dan Singapura, kemampuan membaca anak-anak di sana dalam satu taun mampu membaca 17 buku. Ini berbanding berbalik dengan yang ada pada negara kita. Indonesia Nol. Dari 1000 orang hanya satu orang anak Indonesia yang punya minat membaca, jelas Nana, Duta Baca Indonesia Tahun 2016-2018.


Nana pun sebagai Duta Baca Indonesia tak luput membandingkan siswa-siswa SMA yang wajib membaca buku-buku sastra kecuali di Indonesia. Beliau mengutip kalimat dari Taufik Ismail. “”Tragedi. Ini tragedi telah berlangsung dan tersistem.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Muhammad Alfariezie

Karya Sastra Muhammad Alfariezie BIn Firdaus BIn Iwal BUrhani

Puisi Muhammad Alfariezie